1.000 Warga Sorong Padati Nobar Film 'Pesta Babi' di Labas Sorpus, Panitia Sempat Didatangi Intel

1.000 Warga Sorong Padati Nobar Film 'Pesta Babi' di Labas Sorpus, Panitia Sempat Didatangi Intel

Sorong, Melanesiapost – Gelombang antusiasme terhadap film dokumenter 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita' terus meluas. Pada Kamis (14/5/2026) malam, sedikitnya 1.000 warga memadati Lapangan Basket (Labas) Sorpus, Kota Sorong, Papua Barat Daya, untuk menyaksikan pemutaran film yang mengungkap realitas eksploitasi di Tanah Papua tersebut.

Kegiatan nonton bareng (nobar) yang diinisiasi oleh Pemuda Sorpus berkolaborasi dengan Papuan Voices ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, aktivis, hingga mama-mama Papua. Meski hanya menggunakan layar sederhana di lapangan terbuka, jumlah massa tampak membeludak hingga memadati area parkir dan jalan.


Film karya sutradara Dandhy D. Laksono dan Cypri Dale ini memantik emosi penonton dengan menampilkan visual pembabatan hutan untuk Proyek Strategis Nasional (PSN), keterlibatan aparat dalam pengamanan lahan adat di Papua Selatan, hingga sejarah panjang perampasan hak dasar masyarakat adat yang jarang muncul di media.

Penyelenggara kegiatan, Markus Wafom, menyatakan bahwa kehadiran seribu orang ini membuktikan tingginya rasa ingin tahu terhadap kondisi masyarakat rill di Tanah Papua.

“Banyak dari mereka ingin mengetahui situasi masyarakat adat yang sedang berjuang mempertahankan tanah dan hutan di Papua Selatan. Hal ini relevan karena di Sorong sendiri, masyarakat adat juga tengah berjuang melawan ekspansi sawit yang menghilangkan ruang hidup mereka,” ujar Markus.

Di tengah pemutaran film, tepatnya pada menit ke-50, panitia mengaku datang oleh beberapa orang yang diduga anggota intelijen. Filip Imbir, salah satu pemuda Sorpus, mengonfirmasi adanya interaksi tersebut.

"Kami datangi beberapa orang yang diduga Intel. Saat ditanya kesatuannya, mereka tidak menjawab secara jelas, bahkan ada yang mengaku sebagai pegawai Pertamina. Padahal saya anak lingkungan sini, saya tahu siapa saja pegawainya," ungkap Filip.

Meski sempat terjadi ketegangan kecil, Filip menegaskan tidak takut. "Saya sampaikan kepada mereka, kalau mau hadir silakan nonton dan diskusi. Film ini untuk mengedukasi masyarakat umum. Kami tidak takut, silakan nonton dan jangan meneror," tambahnya.

Filip mengaku terkejut dengan banyaknya massa yang hadir. Awalnya, panitia hanya menargetkan teman-teman di lingkungan internal Sorpus dengan prediksi sekitar 50 orang. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan dukungan yang jauh lebih masif, termasuk kehadiran warga non-Orang Asli Papua (OAP).

“Kehadiran saudara-saudara kita dari Nusantara menayangkan film 'Pesta Babi' membuka stigma baru bahwa Papua sedang tidak baik-baik saja akibat perampasan hak-hak dasar oleh negara,” tegas Filip.

Film 'Pesta Babi' sendiri merupakan hasil kolaborasi Jubi Media, Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia. Meski di beberapa daerah di Indonesia sempat muncul gelombang pelarangan, para penyelenggara berkomitmen untuk terus memutar film ini secara keliling di titik-titik keramaian di wilayah Papua Barat Daya guna memperluas edukasi masyarakat. (Red)