Gandeng Balai Pelestarian Kebudayaan, Sanggar Paphi-Bili Malamoi Gelar Pentas Seni untuk Rawat Identitas Suku Moi
SORONG – Sanggar Seni Budaya Paphi-Bili Malamoi Kabupaten Sorong menggelar pentas seni dan budaya sebagai upaya nyata melestarikan warisan leluhur Suku Moi di Tanah Papua. Kegiatan yang dipusatkan di Jalan Rimoni, Arteri Permai, Kota Sorong ini menjadi wadah edukasi sekaligus ruang ekspresi bagi generasi muda dalam mengenali identitas budaya mereka (19/05/26).
Pentas budaya ini menyajikan kolaborasi seni yang apik, melibatkan sanggar seni tari yang membawakan tarian etnik khas Suku Moi, serta grup folksong akustik yang melantunkan lagu-lagu daerah Papua, puluhan peserta ini berpadu. Melalui moto "Cintailah Budayamu Sendiri Sebelum Mencintai Budaya Orang Lain", sanggar ini berkomitmen menjaga musik, lagu, dan tari tradisional agar tidak punah ditelan zaman.
Acara ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Kabupaten Sorong. Mewakili Bupati Sorong, Luther Salamala menyatakan bahwa kegiatan kreatif seperti ini sangat positif untuk membina generasi muda agar lebih mengenal warisan leluhur, termasuk filosofi di balik ornamen tradisional.
"Generasi muda perlu dibina untuk mengenal warisan budaya mereka, baik tarian maupun lagu tradisional. Bukan hanya itu, mereka juga harus mengenal ornamen, mulai dari mahkota hingga busana yang dipakai, sehingga saat tampil orang tahu identitasnya," ujar Luther saat diwawancarai di lokasi kegiatan.
Luther menambahkan, Papua memiliki keunikan yang luar biasa dengan keragaman di tujuh wilayah adat, termasuk wilayah Domberai di mana Sorong berada. Ia berpesan agar seluruh sanggar di Sorong terus menggali potensi budaya yang terpendam agar dapat dikembangkan menjadi daya tarik destinasi wisata.
Apresiasi senada juga datang dari Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XXIII Papua Barat dan Papua Barat Daya, Winarto, S.S. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program fasilitasi pemajuan kebudayaan yang rutin diselenggarakan setiap tahun.
Meskipun sedang ada efisiensi anggaran, Winarto menegaskan bahwa bantuan untuk pelestarian budaya tetap menjadi program prioritas kementerian yang tidak boleh dikurangi, baik dari segi jumlah penerima maupun nominalnya, sesuai dengan regulasi Dirjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi.
Selain bantuan rutin dari BPK, Winarto menyebutkan adanya peluang akses anggaran lain dari pemerintah pusat untuk mendukung kemandirian komunitas lokal.
"Dari Kementerian sendiri juga ada fasilitasi bantuan untuk kemandirian kebudayaan melalui Dana Indonesia Raya. Ini bisa diakses oleh semua kalangan, mulai dari perseorangan, kelompok, komunitas, hingga lembaga budaya," jelas Winarto.
Ia juga menyemangati para pelaku seni agar tidak menggantungkan kreativitas hanya pada bantuan pemerintah. Sesuai dengan SOP standar, bantuan diberikan secara bergilir setiap tahun agar terjadi pemerataan antarsanggar.
"Kebudayaan itu diciptakan dan dilestarikan setiap hari. Walaupun belum mendapat bantuan, ketika masyarakat mempraktikkannya sehari-hari, itu sudah menjadi wujud nyata pelestarian," tambahnya.
Merespons dukungan dari berbagai pihak, Ketua Sanggar Seni Budaya Paphi-Bili Kabupaten Sorong, Yulianus Ulim, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya.
Ia menilai kehadiran negara dan pemerintah daerah secara langsung di tengah-tengah para seniman menjadi suntikan motivasi yang sangat berarti bagi keberlangsungan sanggar.
"Kami sangat mengapresiasi kinerja Balai Budaya Wilayah XXIII yang konsen dan hadir langsung bersama pelaku budaya di Sorong Raya. Terima kasih juga kepada Pemerintah Kabupaten Sorong yang selama ini selalu hadir dekat dan berjalan bersama-sama kami," pungkas Yulianus. (Redaksi)