Kagumi Tradisi Suku Moi, Mahasiswa KKN Unamin Sorong Belajar Kepemimpinan "Bupati Adat" di Mariat Gunung
SORONG, Melanesiapost – Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik 2026 Universitas Muhammadiyah Sorong (Unamin) di Kelurahan Mariat Gunung memberikan kesan mendalam. Tak sekadar menjalankan program kampus, 12 mahasiswa ini justru mendapatkan pelajaran berharga mengenai filosofi hidup dan kekayaan budaya masyarakat adat Suku Moi yang masih terjaga murni.
Ketua Kelompok KKN Tematik 2026 Posko Mariat Gunung, Lince Doli Sawaki, mengungkapkan bahwa sejak menginjakkan kaki di lokasi, mereka disambut dengan penuh kehangatan baik oleh pemerintah kelurahan maupun warga setempat.
"Puji Tuhan, masyarakat menerima kami dengan sangat baik. Kami diberikan posko yang nyaman, bahkan kami merasa seperti tinggal bersama keluarga sendiri karena perhatian warga yang luar biasa," ujar Lince.
Kekuatan sosial di Mariat Gunung terlihat dari dukungan logistik yang diberikan warga secara sukarela. Hampir setiap hari, warga datang membawa:
Sayur-sayuran segar hasil kebun.
Buah-buahan.
Bahan makanan siap saji untuk para mahasiswa.
Memasuki minggu ketiga, para mahasiswa berkesempatan menyaksikan langsung Sekolah Adat dan prosesi budaya Suku Moi. Lince mengaku takjub dengan struktur kepemimpinan adat yang sangat rapi, termasuk istilah "Bupati Adat".
"Saya kira istilah bupati hanya ada di pemerintahan formal saja. Ternyata dalam adat Moi, ada pemimpin yang disebut bupati adat. Ini hal baru yang membuat saya semakin kagum," tutur Lince.
Selain kepemimpinan, para mahasiswa juga mengamati bagaimana masyarakat tetap teguh menggunakan pakaian adat dan menjunjung tinggi penghormatan kepada para tetua adat dalam setiap ritual.
Sebagai sesama orang Papua, Lince berpesan agar pengalaman yang mereka dapatkan bisa menjadi pemantik bagi pemuda lainnya untuk tidak melupakan identitas. Ia menekankan bahwa adat adalah fondasi jati diri.
"Harapan saya, anak muda jangan sampai lupa budaya sendiri. Jika generasi sekarang tidak belajar, maka suatu saat budaya itu bisa hilang. Adat bukan hanya milik orang tua, tapi milik kita semua," tegasnya.
Kelompok KKN di Mariat Gunung ini merupakan perpaduan dari berbagai latar belakang ilmu, yang terdiri dari 7 mahasiswa perempuan dan 5 mahasiswa laki-laki dari program studi:
Teknik Informatika
Hukum
Kehutanan
Ilmo Pemerintahan
Agroteknologi
PGSD
Teknik Sipil
Keberagaman latar belakang ini memungkinkan para mahasiswa melihat kehidupan masyarakat dari berbagai sudut pandang, mulai dari cara warga menjaga hutan (tanah adat) hingga pola interaksi sosial yang menjunjung tinggi kebersamaan.
Meski masa KKN akan segera berakhir, para mahasiswa mengaku membawa pulang pelajaran hidup yang tidak didapatkan di bangku kuliah. Nilai penghormatan terhadap alam dan sesama menjadi poin utama yang mereka serap selama menetap di Kelurahan Mariat Gunung.
"Semua pengalaman ini akan menjadi kenangan yang sangat berarti. Kami belajar tentang kebersamaan, budaya, dan cara menghargai sesama secara nyata di sini," tutup Lince.