Satu SPPG Hasilkan 3 Ton Sampah Organik Sebulan, Kelly Kambu : Maggot adalah Mesin Pengolah Terbaik
SORONG, melanesiapost – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Papua Barat Daya bergerak cepat dalam memitigasi persoalan sampah organik di wilayahnya. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah mendorong pemanfaatan teknologi biokonversi menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF).
Hal ini ditegaskan oleh Kepala Dinas LH Provinsi Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu, ST., M.Si, saat melakukan monitoring langsung ke Rumah Maggot KELI (Keberlanjutan Lingkungan), Minggu (5/6/2026). Momentum monitoring ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang tahun ini mengusung tema "Saatnya Kita Bekerja untuk Iklim".
Dari hasil monitoring tersebut, Kelly mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai volume sampah organik yang dihasilkan oleh sektor usaha, salah satunya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi — atau yang kerap disebut SPPG.
berdasarkan laporan yang diterimanya, kemitraan awal antara Rumah Maggot KELI dengan SPPG Malawili mampu mengumpulkan sampah organik terpilah hingga 100 kilogram per hari.
"Satu hari bisa 100 kilo. Artinya, dalam 10 hari terkumpul 1 ton, dan dalam sebulan (30 hari) mencapai 3 ton. Itu baru dari satu SPPG saja. Tinggal kita hitung dan kalikan berapa banyak SPPG yang ada di Papua Barat Daya," ujar Kelly kepada awak media.
Melihat potensi tersebut, DLH dalam waktu dekat berencana menyurat dan mengundang seluruh pengelola SPPG serta pelaku usaha perhotelan di Papua Barat Daya. Agenda pertemuan tersebut bertujuan untuk berdiskusi, mencari solusi, sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan terkait pengurangan dan penanganan sampah organik.
"Ke depan, sektor usaha seperti SPPG dan hotel juga harus menyiapkan dana pengolahan sampah organik yang mereka hasilkan, melalui kerja sama dengan mitra seperti Rumah Maggot KELI ini," tegasnya.
Kelly menjelaskan mengapa pemerintah fokus pada penanganan sampah organik. Sampah jenis ini merupakan penghasil gas metana—sumber gas rumah kaca yang memicu pemanasan global dan perubahan iklim.
Ia mencontohkan kondisi di TPST Bantar Gebang, Jakarta, yang menjadi salah satu penghasil gas metana terbesar kedua di dunia akibat penumpukan sampah organik yang tidak terkelola.
"Kita harus memitigasi ini dari hulu ke hilir, mulai dari hotel, sekolah, rumah tangga, RT/RW, hingga tingkat distrik. Maggot ini adalah satu-satunya mesin pengolah sampah organik terbaik. Kita kasih masuk sampahnya, kita tidur, dia bekerja 24 jam selesai. Tidak ada mesin buatan manusia yang bisa seperti itu," kata Kelly.
Ia juga mengajak berbagai sektor seperti kedinasan peternakan, perikanan, dan kehutanan untuk berkolaborasi ke Rumah Maggot KELI guna mempercepat implementasi kebijakan di lapangan. "Teori dan aturan sudah banyak di kepala kita. Sekarang bagaimana implementasi itu yang dipercepat," tambahnya.
Sementara itu, pembudidaya maggot di Rumah Maggot KELI, Supendi, membenarkan adanya tren positif dari kemitraan pengelolaan sampah organik yang baru berjalan tersebut.
"Untuk lima hari ke belakang ini, kami memang sudah bermitra dengan SPBU Malawili. Kami mengambil sampah yang sudah terpilah, khususnya sampah organik," kata Supendi.
Menurut Supendi, setiap harinya mereka mengangkut sekitar 4 hingga 5 ember ukuran 20 liter dari lokasi mitra.
"Kalau dikonversi ke kilogram, satu ember itu beratnya sekitar 20 kilo. Jadi totalnya berkisar 100 kilo per hari. Data ini cocok dengan estimasi Pak Kadis, di mana dalam 10 hari bisa mencapai 1 ton dan sebulan penuh bisa mencapai 3 ton sampah organik yang berhasil kami urai," pungkas Supendi. (Redaksi)