Mahasiswa Raja Ampat Terancam Gagal Wisuda, Salmos Burdam Bongkar Rumitnya Bantuan Studi Akhir: “Urusannya Ribet, Dananya Hanya Rp5 Juta”
Sorong Melanesia post _ Nasib mahasiswa asal Kabupaten Raja Ampat yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan tinggi kini berada di ujung tanduk. Banyak mahasiswa dilaporkan terancam gagal menyelesaikan studi hanya karena terbentur biaya pendidikan dan rumitnya mekanisme pengurusan bantuan dari pemerintah daerah.
Kondisi ini disampaikan langsung oleh Penasehat Ikatan Mahasiswa Raja Ampat Kabupaten Sorong, Salmos Burdam, usai melakukan koordinasi bersama Ketua Ikatan Mahasiswa Raja Ampat Kabupaten Sorong, Asriel Mambraku, dengan tiga anggota DPRK jalur Otonomi Khusus (Otsus). Pertemuan tersebut secara khusus membahas persoalan bantuan studi akhir yang selama ini dinilai tidak efektif membantu mahasiswa.
Salmos Burdam menegaskan bahwa banyak mahasiswa Raja Ampat yang sebenarnya telah berada di tahap akhir perkuliahan, namun terpaksa menghentikan proses studi mereka karena tidak mampu menanggung biaya penyelesaian tugas akhir.
Jadi pada tanggal 26 Maret 2026, saya sebagai penasehat sekaligus mantan Ketua Ikatan Mahasiswa Raja Ampat Kabupaten Sorong bersama Ketua Ikatan Mahasiswa Raja Ampat Kabupaten Sorong, Asriel Mambraku, melakukan koordinasi dengan tiga anggota DPR Otsus.
Dalam pertemuan itu kami menyampaikan persoalan serius yang dihadapi mahasiswa Raja Ampat, khususnya terkait bantuan studi akhir yang ditangani oleh bagian kesejahteraan masyarakat,” ujar Salmos Burdam.
Ia mengungkapkan bahwa persoalan biaya pendidikan telah menjadi hambatan besar bagi banyak mahasiswa Raja Ampat yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi maupun tugas akhir di berbagai perguruan tinggi.
Kami melihat fakta yang sangat memprihatinkan banyak sekali teman teman mahasiswa dari Raja Ampat yang tidak bisa menyelesaikan kuliah mereka hanya karena faktor biaya mereka sudah sampai di tahap akhir tinggal menyelesaikan skripsi atau tugas akhir tetapi terpaksa berhenti karena tidak ada biaya, tegasnya
Menurut Salmos, persoalan ini tidak hanya menyangkut keterbatasan dana, tetapi juga berkaitan dengan sistem birokrasi yang terlalu berbelit-belit dalam proses pengajuan bantuan pendidikan
Ia menyebut mekanisme yang ada saat ini justru mempersulit mahasiswa yang sedang membutuhkan dukungan.
Yang menjadi masalah bukan hanya soal dana, tetapi juga soal mekanisme pengurusannya yang sangat ribet persyaratannya terlalu banyak dan prosesnya berbelit belit sementara mahasiswa yang mengurus bantuan itu sedang berada dalam kondisi kesulitan biaya, ungkapnya.
Ia juga menyoroti besaran bantuan studi akhir yang dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan riil mahasiswa di lapangan jadi bantuan yang diberikan pemerintah daerah disebut hanya sekitar lima juta rupiah, jumlah yang dianggap sangat kecil untuk menutup berbagai kebutuhan akademik di tahap akhir perkuliahan.
Bantuan yang diberikan hanya sekitar lima juta rupiah, tetapi proses pengurusannya sangat panjang dan menyulitkan padahal mahasiswa membutuhkan biaya untuk penelitian penyusunan skripsi revisi hingga biaya administrasi kampus. Jadi bantuan itu sangat jauh dari cukup, katanya
Dalam pertemuan tersebut, tiga anggota DPRK jalur Otsus menyatakan komitmen mereka untuk memfasilitasi mahasiswa agar dapat bertemu langsung dengan instansi pemerintah yang menangani anggaran pendidikan, khususnya bagian kesejahteraan masyarakat.
Ketiga anggota DPR Otsus menyampaikan bahwa mereka siap memfasilitasi kami untuk bertemu langsung dengan instansi terkait. Mereka juga akan membantu membawa aspirasi mahasiswa agar ada perbaikan dalam sistem pengajuan bantuan studi akhir, jelas Salmos
Ia berharap langkah ini dapat menjadi pintu masuk untuk melakukan perubahan kebijakan, sehingga mahasiswa yang sedang menghadapi kesulitan biaya dapat memperoleh bantuan dengan prosedur yang lebih sederhana dan dukungan anggaran yang lebih layak.
Kami berharap pertemuan ini menjadi titik terang bagi teman-teman mahasiswa Raja Ampat harus ada terobosan nyata dari pemerintah daerah khususnya dari instansi yang mengelola anggaran pendidikan agar mahasiswa yang terkendala biaya bisa mendapatkan bantuan khusus untuk menyelesaikan studi akhir mereka, katanya
Salmos menegaskan bahwa persoalan ini tidak boleh dianggap sepele karena menyangkut masa depan generasi muda Raja Ampat yang sedang berjuang meningkatkan kualitas sumber daya manusia daerah.
Kalau persoalan ini tidak segera diperbaiki, maka banyak mahasiswa Raja Ampat yang berpotensi gagal menyelesaikan kuliah mereka hanya karena masalah biaya padahal mereka adalah generasi muda yang kelak akan kembali membangun daerahnya sendiri,” pungkasnya.