Peringatan Hari Kartini Menggema: Selly Kareth Serukan Perlawanan Terhadap Kekerasan, Perempuan Bukan Objek Penindasan!
Sorong Melanesia post. Dalam momentum peringatan Hari Kartini, suara lantang datang dari Selly Kareth yang menyerukan perlawanan terbuka terhadap segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak, khususnya di Tanah Papua. Ia menegaskan bahwa semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan, tetapi harus menjadi gerakan nyata melawan ketidakadilan yang masih terus terjadi hingga hari ini.
Perjuangan Kartini bukan sekadar sejarah yang kita kenang setiap tahun ini adalah panggilan moral bagi kita semua untuk melanjutkan perlawanan terhadap ketidakadilan yang masih membelenggu perempuan.
Hari ini, perempuan memang sudah banyak yang berpendidikan tinggi, menjadi pemimpin, bahkan menduduki posisi strategis di pemerintahan dan politik tapi jangan tutup mata, di balik itu semua masih ada ribuan bahkan jutaan perempuan yang hidup dalam bayang-bayang kekerasan,” tegas Selly dalam pernyataannya.
Ia menyoroti bahwa realitas di lapangan masih sangat memprihatinkan. Kekerasan terhadap perempuan tidak hanya terjadi dalam bentuk fisik seperti KDRT dan kekerasan seksual, tetapi juga dalam bentuk verbal, psikologis, hingga intimidasi yang sistematis. “Banyak perempuan hari ini hidup dalam ketakutan.
Mereka dihina, direndahkan, dilecehkan, bahkan diancam hanya karena mereka perempuan. Ini bukan sekadar masalah sosial, ini adalah kegagalan kita sebagai bangsa dalam melindungi martabat manusia,” ujarnya tajam.
Lebih lanjut, Selly juga mengkritik keras fenomena kekerasan di era digital yang semakin brutal dan tak terkendali. Menurutnya, ruang digital yang seharusnya menjadi tempat berekspresi justru berubah menjadi ruang penindasan baru bagi perempuan. “Di dunia digital, perempuan tidak aman.
Mereka dihujat, dilecehkan, bahkan dipermalukan di ruang publik tanpa ada perlindungan yang memadai. Ketika mereka bersuara, justru mereka diserang balik dengan intimidasi dan ancaman. Ini bentuk pembungkaman yang nyata,” katanya.
Dalam pernyataan yang penuh emosi, Selly menyerukan keberanian bagi perempuan untuk bangkit dan melawan saya katakan dengan tegas, perempuan tidak boleh lagi diam! Tidak ada yang salah dengan perempuan yang bersuara, tidak ada yang salah dengan perempuan yang berbeda pendapat.
Justru diam adalah bentuk kemenangan bagi para pelaku kekerasan. Kita harus melawan, kita harus bersuara, dan kita harus berdiri untuk diri kita sendiri,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kekerasan dalam bentuk apapun tidak boleh dinormalisasi. Jangan pernah menganggap kekerasan sebagai hal biasa.
Sekali kita membiarkan, maka itu akan terus berulang. Perempuan berhak atas hidup yang aman, berhak atas pendidikan, kesehatan, keluarga yang layak, dan berhak atas mimpi mereka. Tidak boleh ada batasan hanya karena dia perempuan,” katanya.
Tambahan pernyataan tegas ini juga diarahkan kepada seluruh perempuan Papua yang tersebar di tujuh wilayah adat, yakni Mamta, Saireri, Anim Ha, Domberai, Bomberai, Meepago, dan Lapago. Selly Kareth menegaskan bahwa perempuan Papua memiliki posisi penting sebagai penjaga kehidupan, penjaga tanah, dan penjaga nilai-nilai adat yang tidak boleh dihancurkan oleh kekerasan dalam bentuk apapun.
“Perempuan Papua adalah jantung kehidupan. Kalau mereka terus ditekan, maka yang hancur bukan hanya individu, tetapi seluruh tatanan sosial masyarakat adat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti bahwa perempuan Papua kerap menghadapi beban berlapis: sebagai perempuan, sebagai masyarakat adat, dan sebagai kelompok yang seringkali termarginalkan dalam pembangunan.
Perempuan Papua bukan hanya menghadapi kekerasan dalam rumah tangga atau ruang publik, tetapi juga menghadapi ketidakadilan struktural. Mereka dipinggirkan, suaranya tidak didengar, bahkan seringkali diabaikan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut hidup mereka sendiri,” ujarnya
Dalam konteks ini, Selly menyerukan agar perempuan Papua tidak lagi tunduk pada tekanan sosial maupun budaya yang membungkam suara mereka. “Adat tidak boleh dijadikan alasan untuk melegitimasi kekerasan. Tidak ada budaya yang membenarkan perempuan untuk ditindas.
Jika ada praktik-praktik yang merugikan perempuan, maka itu harus dikoreksi. Perempuan Papua harus berdiri, bersuara, dan mengambil peran dalam menentukan masa depan mereka sendiri,” katanya.
Lebih jauh, ia menegaskan pentingnya solidaritas antar perempuan di seluruh wilayah adat Papua untuk melawan kekerasan secara kolektif jangan berjalan sendiri-sendiri.
Perempuan Papua harus bersatu, dari pesisir sampai pegunungan, dari kampung sampai kota. Ketika satu perempuan disakiti, maka itu adalah luka bagi semua. Kita harus membangun kekuatan bersama untuk melawan segala bentuk penindasan,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Selly kembali mengingatkan bahwa perjuangan perempuan Papua adalah bagian dari perjuangan kemanusiaan yang lebih luas. “Ini bukan hanya soal perempuan, ini soal keadilan. Ini soal masa depan generasi Papua.
Jika hari ini kita diam, maka kita sedang mewariskan ketakutan kepada anak-anak kita. Tapi jika kita berani melawan, maka kita sedang membuka jalan bagi kebebasan dan martabat yang sejati,” pungkasnya dengan nada penuh penegasan.
Selly seruannya dengan pesan kuat kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya di Papua. “Perempuan harus dilindungi, dihormati, dan dimuliakan.
Mereka bukan objek kekerasan, bukan sasaran penghinaan. Mereka adalah manusia yang punya hak penuh atas hidupnya. Hari ini saya katakan, stop kekerasan terhadap perempuan! Ini bukan sekadar seruan, ini adalah tuntutan kemanusiaan yang tidak bisa ditawar lagi,” pungkasnya. (GK)