Diskusi Publik "Menuliskan Keresahan" Dalam Festival Sastra Sorong
Sorong - Rumah Kata Sorong dan Festival Sastra Sorong menggelar Diskusi Publik bertajuk "Menuliskan Keresahan, Menerbitkan Suara: Puisi Pendek Tuk Hidup yang Panjang" di Universitas Victory Kota Sorong, Papua Barat Daya, pada Kamis (9/10/2025). Acara yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud) berkolaborasi dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Victory ini menjadi bagian dari perhelatan Festival Sastra Sorong.
Diskusi ini menghadirkan penulis dan penyair, Aleksander Giyai, dan narasumber kedua, Indah Ein Fajar wati Wainsaf. Mereka berbagi pengalaman dan tips menulis, khususnya puisi, dengan gaya bahasa yang sederhana dan menggambarkan kenyataan.
Perwakilan Tim Sastra dari Kemendikbud, Kezia Rabecce, menyambut positif kegiatan ini dan mendorong keinginan mendesak Festival Sastra Sorong.
"Saya senang sekali karena akhirnya bertemu dengan bekerja sama antara dari wilayah Papua tidak harus di tempat lain, tapi di Sorong itu sendiri. Saya berharap Festival Sastra Sorong ini maju terus, supaya lebih banyak yang datang ke Sorong, tahu cerita-cerita dari teman-teman di Papua," kata Rabecce.
Ia menambahkan bahwa festival adalah bagian penting dari ekosistem sastra. “Saya mewakili tim kementerian kebudayaan dan sastra Indonesia merasa perlu sekali untuk menumbuhkan festival-festival sastra untuk membuka ruang yang lebih besar,” ujarnya.
Rabecce juga berharap festival serupa dapat tumbuh di tempat lain di Papua agar membuat banyak cerita yang bertemu, serta memelihara ruang ekspresi dan pemikiran kritis bagi pelajar dan masyarakat.
Narasumber utama, Aleksander Giyai, penulis buku puisi "Puisi Pendek Tuk Hidup yang Panjang", mengatakan bahwa festival sastra di Indonesia Timur ini baru pertama kali diadakan di Sorong. Menurutnya, tema yang diambil mencerminkan semangat melahirkan sastra dari timur ke barat. Giyai juga membagikan trik dan tips kepada peserta mengenai cara menulis puisi yang efektif.
Indah Ein Fajar wati Wainsaf, sebagai narasumber kedua, turut membagikan pengalamannya dalam menulis puisi dan cerpen.
Diskusi yang dipandu oleh moderator Sarce Lina Wambrauw dan Bahtera Luanmasar ini berlangsung menarik. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya mahasiswa yang aktif mengajukan dan mengajukan pertanyaan kepada para pemateri.(EW)