Guru SLB di Papua Barat Daya Dilatih Intensif untuk Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus

Guru SLB di Papua Barat Daya Dilatih Intensif untuk Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus

Sorong, Melanesiapost.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya (PBD) menggelar Workshop Pembelajaran Kekhususan bagi Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berlangsung selama tiga hari di Kota Sorong dan ditutup pada Minggu (30/11/2025). Kegiatan ini merupakan langkah strategi pemerintah provinsi untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi guru dalam menangani anak-anak berkebutuhan khusus.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya, Adolof Kambuaya, menyatakan lokakarya ini berfungsi sebagai ajang diskusi dan sharing ilmu antar guru SLB dari Kabupaten Raja Ampat, Kota Sorong, dan Kabupaten Sorong.

“Tujuannya adalah mereka berdiskusi, berbagi, saling berbagi, serta mengisi. Jadi yang lebih [berpengalaman] mengisi kepada yang kurang, sehingga mereka mendapatkan satu pemahaman yang sama tentang bagaimana menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus,” ujar Kambuaya saat menutup acara.

Kambuaya menekankan bahwa penanganan anak-anak di SLB memerlukan guru yang berlatih secara khusus. Oleh karena itu, dinas pendidikan berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas para guru melalui pelatihan.

“Kami datangkan narasumber dari Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Papua Barat untuk mentransfer ilmu kepada guru-guru,” jelasnya.

Ia berharap melalui workshop ini, para guru dapat mentransfer ilmu pengetahuan baru, khususnya mengenai keterampilan hidup (life skill), kepada peserta didik. Tujuannya adalah agar anak-anak berkebutuhan khusus ini dapat mandiri setelah tamat dan tidak lagi menjadi beban bagi orang lain.

“Anak-anak ini mereka punya potensi besar, tinggal bagaimana mereka terus dibimbing dan dibina oleh guru-guru yang memiliki kapasitas mumpuni,” kata Kambuaya.


Para guru peserta menyambut inisiatif baik pemerintah provinsi ini. Dani Lantang, S.Pd., salah seorang guru dari SLB Negeri Raja Ampat, mengungkapkan rasa senangnya.

“Mengikuti kegiatan ini saya rasakan sangat berbeda. Banyak hal-hal yang tidak pernah diberikan di bangku kuliah, tapi kita temukan ketika kita ada di kelas,” ujarnya.

Ia juga berpesan kepada sesama guru agar menyerap ilmu sebanyak-banyaknya karena menjadi guru SLB adalah memikul beban moral yang harus dipertanggungjawabkan kepada siswa, orang tua, masyarakat, dan pemerintah.

Senada dengan itu, Maria Enjel Toisuta, S.Th., guru SDLB Kota Sorong, menyatakan selama workshop mereka mendapatkan banyak pelajaran berharga, terutama mengenai Program Pembelajaran Individu (PPI).

“Kami mendapatkan begitu banyak pelajaran, khususnya tentang program pembelajaran individu di mana kami... melihat kekurangan dan kebutuhan mereka [siswa], karena setiap anak itu berbeda-beda karakternya,” ujar Maria.

Maria yang memilih mengabdi di SLB sebagai bentuk pelayanan kemanusiaan, meyakini SLB anak-anak memiliki potensi besar, seperti di bidang tata boga, atletik, hingga menari.

Kambuaya menambahkan, di struktur Dinas Pendidikan Provinsi PBD terdapat bidang khusus yang bertanggung jawab mengurus sekolah yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus (tunanetra, bisu, dll.).

Karena Provinsi Papua Barat Daya baru berjalan tiga tahun, saat ini baru tiga kabupaten/kota yang memiliki SLB, yaitu Kota Sorong, Kabupaten Sorong, dan Raja Ampat.

“Yang belum itu Kabupaten Tambrauw, Sorong Selatan, dan Maybrat,” ungkapnya.

Ke depan, Kambuaya berkomitmen untuk mengembangkan dan membangun SLB di kabupaten yang belum memiliki fasilitas tersebut. Hal ini dilakukan karena data menunjukkan jumlah anak-anak berkebutuhan khusus di wilayah tersebut juga cukup banyak, menjadikannya Pekerjaan Rumah (PR) bagi pemerintah daerah. (EW)