Keterbatasan Tak Membungkam Suara: Film Anak Papua Raih Juara Nasional

Keterbatasan Tak Membungkam Suara: Film Anak Papua Raih Juara Nasional

 Sorong, Melanesiapost.com_ Ditengah keterbatasan fasilitas, minimnya dukungan pemerintah daerah, dan jauhnya jarak Papua dari pusat-pusat produksi film nasional, anak-anak muda Papua justru membuktikan bahwa kreativitas tidak tunduk pada keadaan melalui film dokumenter Negeri Gerabah Kampung Abar, karya sineas Papua Acho Ansanay, suara kampung yang selama ini berada di pinggiran berhasil menembus panggung nasional dari 364 film desa yang bersaing dalam Festival Film Desa 2025, 

film yang diproduksi dengan alat sederhana dan semangat kolektif masyarakat adat Kampung Abar, Kabupaten Jayapura, itu meraih Juara 2 tingkat nasional sebuah capaian yang bukan hanya soal prestasi, tetapi juga tentang pengakuan atas martabat, identitas, dan kemampuan anak Papua untuk berdiri sejajar dengan daerah lain di Indonesia film dokumenter berjudul Negeri Gerabah Kampung Abar meraih Juara 2 Tingkat Nasional Festival Film Desa 2025, mengungguli ratusan karya dari berbagai daerah di Indonesia jadi dari total 364 peserta, film yang digarap sineas Papua ini menembus seleksi ketat hingga lima besar nasional

Kami datang dengan alat sederhana, tapi membawa cerita yang jujur dari kampung,” kata sutradara film, Acho Ansanay, melalui sambungan teleponnya.(16/1/2026).

Film ini mengangkat kehidupan masyarakat Kampung Abar, Kabupaten Jayapura, yang mempertahankan tradisi gerabah sebagai warisan budaya leluhur jadi bagi Acho, kemenangan ini bukan sekadar prestasi personal, melainkan pengakuan atas martabat masyarakat adat Papua ini bukan soal juara, ini soal suara kampung yang akhirnya didengar,” ujarnya.

Festival Film Desa 2025 diselenggarakan oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, sebagai ruang ekspresi bagi desa-desa di seluruh Indonesia jadi dalam ruang itu, Papua hadir bukan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek yang bercerita tentang dirinya sendiri.

Kami ingin Papua dikenal lewat karya, bukan hanya lewat data kemiskinan dan konflik,” kata Acho di Negeri Gerabah Kampung Abar diproduksi tanpa sokongan langsung dari pemerintah daerah maupun organisasi perangkat daerah terkait tidak ada anggaran khusus, tidak ada fasilitas khusus,” ujarnya


Keterbatasan itu, menurut Acho, justru memperlihatkan daya tahan dan kreativitas anak Papua jadi kalau menunggu semua sempurna, kami tidak akan pernah mulai,” katanya.

Film ini merekam proses pembuatan gerabah dari tanah hingga menjadi benda pakai yang sarat makna budaya gerabah adalah identitas. Di situ ada pengetahuan leluhur,” ujar Acho.

Ia menyebut film sebagai alat penting untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat adat kalau tidak didokumentasikan, tradisi bisa hilang,” katanya bahwa prestasi ini sekaligus mematahkan stigma bahwa Papua tertinggal dalam bidang kreativitas dan seni visual yang tertinggal itu perhatian, bukan kemampuan,” ujar Acho.

Ia menilai banyak anak muda Papua memiliki talenta, tetapi minim akses dan ruang berekspresi kesempatan tidak datang dengan sendirinya ke Papua karena itu, ia memanfaatkan Festival Film Desa sebagai celah untuk membawa cerita Papua ke ruang nasional dan kami masuk dengan apa yang kami punya,” ujarnya.


Dari 20 besar hingga 5 besar nominasi, film Papua ini bersaing dengan karya-karya dari desa lain yang didukung fasilitas lebih memadai jadi semua film bagus. Juara 2 ini anugerah Tuhan Ia berharap pencapaian ini mengubah cara pandang publik terhadap orang Papua jadi papua bukan daerah pinggiran kreativitas,” ujarnya.

Bagi masyarakat Kampung Abar, film ini menjadi kebanggaan tersendiri kampung kami akhirnya dikenal karena budaya, bukan karena masalah,” kata Acho menirukan ungkapan warga

Ia menyebut kemenangan ini sebagai milik bersama masyarakat adat Abar da ini kerja kolektif kampung jadi prestasi tersebut juga diharapkan memicu lahirnya lebih banyak sineas muda Papua jadi anak Papua harus percaya diri,”ujar Acho.

Ia menegaskan bahwa keterbatasan tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti berkarya justru dari keterbatasan itu lahir kekuatan dan Acho juga menyinggung pentingnya peran negara dalam mendukung ekosistem film lokal di Papua bukan intervensi, tapi keberpihakan,” ujarnya.

Menurut dia, pembangunan kebudayaan sama pentingnya dengan pembangunan fisik kalau budaya hilang, identitas ikut hilang jadi Film Negeri Gerabah Kampung Abar kini menjadi arsip visual tentang pengetahuan lokal Papua dan ini bukan film terakhir kami,” ujar Acho.

Ia memastikan akan terus mengangkat cerita-cerita dari kampung papua punya terlalu banyak kisah yang belum diceritakan jadi prestasi nasional ini menjadi penanda bahwa anak Papua mampu berdiri sejajar dengan daerah lain kami tidak minta dikasihani kami hanya ingin diberi ruang,” tambahnya.

Melalui film ini, anak Papua berbicara dengan bahasa mereka sendiri dan Indonesia, lewat Festival Film Desa, akhirnya mendengar suara itu dari Kampung Abar, Papua kembali menegaskan bahwa keterbatasan tidak pernah cukup kuat untuk membungkam mimpi.Gk