Mengubah Nasib di Balik Kolam Lele: Kisah Pemuda OAP Pokdakan NIRANYA di Kota Sorong

Mengubah Nasib di Balik Kolam Lele: Kisah Pemuda OAP Pokdakan NIRANYA di Kota Sorong

SORONG, Melanesiapost – Di sudut Kelurahan Giwu, Kota Sorong, Papua Barat Daya, deru mesin air dan kepakan ikan lele menjadi irama baru bagi sekelompok anak muda. Mereka bukan sedang bersantai, melainkan sedang merajut masa depan melalui Pokdakan NIRANYA, sebuah kelompok budidaya ikan yang kini menjadi simbol kemandirian pemuda asli Papua (OAP).

Nama NIRANYA bukanlah sekadar identitas. Dalam bahasa Maybrat, Niranya berarti "Kebersamaan". Filosofi ini dibuktikan oleh 18 pemuda berusia 17 hingga 25 tahun yang memilih meninggalkan zona nyaman untuk berkotor-ria dengan lumpur dan pakan ikan.

Dipimpin oleh Yulianto Kambuaya, kelompok ini lahir dari sebuah tekad sederhana: mengangkat harkat hidup melalui kemandirian ekonomi.


"Kami mulai sejak Januari 2025. Awalnya hanya modal niat dan tekad. Kami bangun kolam swadaya seadanya di halaman rumah salah satu anggota. Kami ingin buktikan bahwa anak muda Papua bisa produktif," ujar Yulianto dengan nada bangga.

Perjalanan mereka tidak selalu mulus, namun konsistensi membuahkan hasil. Sejak berdiri setahun lalu, Pokdakan NIRANYA tercatat telah berhasil melakukan 4 kali panen raya. Ikan lele hasil budidaya mereka menjadi primadona di pasar lokal, bahkan habis diborong oleh para pengusaha warung makan di Kota Sorong sebelum sempat dipasarkan secara luas.

Keberhasilan ini sempat menarik perhatian pemerintah pusat. Pada tahun 2025, mereka mendapatkan bantuan stimulan berupa kolam sistem bioflok dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Teknologi ini membantu mereka meningkatkan efisiensi dan higienitas hasil panen.


Meski telah membuktikan keberhasilan, langkah Pokdakan NIRANYA kini mulai tersendat. Ambisi mereka untuk melakukan ekspansi dan menambah jumlah kolam terhalang oleh sulitnya akses bibit unggul.

Saat ini, ketersediaan bibit yang berkualitas di Kota Sorong masih sangat terbatas, sementara permintaan pasar terus melonjak. Yulianto dan rekan-rekannya sangat berharap adanya intervensi dari Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, khususnya melalui dinas terkait.

Harapan Pokdakan NIRANYA kepada Pemerintah:

Pengadaan Bibit Unggul: Dukungan bibit lele dan Nila berkualitas secara berkelanjutan.

Pendampingan Teknis: Pelatihan lanjutan untuk pembenihan mandiri agar tidak terus bergantung pada pihak luar.

Sarana Pendukung: Penguatan infrastruktur pakan agar biaya produksi tetap terkendali.


Kisah Pokdakan NIRANYA adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang. Dari sebuah halaman rumah di Kelurahan Giwu, 18 anak muda ini telah menunjukkan bahwa sektor perikanan darat memiliki potensi ekonomi luar biasa jika dikelola dengan hati dan kebersamaan.

Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah. Akankah potensi emas dari tangan-tangan kreatif pemuda OAP ini mendapat dukungan penuh untuk menjadi motor ekonomi baru di Papua Barat Daya?(Red)