Menjaga Amanah di Tumpukan Sampah Demi Kebersihan

Menjaga Amanah di Tumpukan Sampah Demi Kebersihan

SORONG, Papua Barat Daya - Di tengah ramainya Kota Sorong, tersembunyi sebuah kisah inspiratif tentang dua sosok pria asal Papua, Daniel Ruamba dan Adam Dorowe. Selama tujuh tahun, mereka tidak hanya menggantungkan hidup dari hasil memulung, tetapi juga secara sukarela mengemban tugas mulia yakni menjaga tempat pembuangan sampah sementara (TPS) di Kelurahan Klamana distrik Sorong timur kota Sorong, Mereka adalah saksi bisu setiap tumpukan sampah yang datang dan pergi, serta pejuang yang berupaya menjaga kewaspadaan di sana.


TPS Klamana terletak di lokasi yang cukup strategis, sekitar 50 meter dari Terminal Penumpang Tipe B dan 200 meter dari Taman Wisata Mangrove Klawalu. Berdasarkan Instruksi Walikota Sorong Nomor 100.3.4.3/4/2024, jam pembuangan sampah diatur ketat, yakni mulai pukul 18.00 WIT hingga 06.00 WIT. Aturan ini dibuat untuk menjaga kebersihan dan ketertiban kota. Namun, di lapangan, instruksi tersebut sering kali diabaikan.

Daniel dan Adam sering kali menjadi garda terdepan yang berjuang melawan tantangan ini. Mereka tidak jarang menerima perlakuan kasar dan intimidasi dari warga yang membuang sampah di luar jam yang ditentukan. “Mereka membuang sampah di luar jam, dan jika kami tegur, mereka tidak terima,” kata Daniel. “Padahal, kami hanya mau mengingatkan supaya sampah dibuang sesuai waktu dan dimasukkan ke dalam kontainer yang sudah disediakan.”

Kisah perjuangan mereka menunjukkan bahwa penanganan sampah bukan hanya tugas pemerintah atau petugas kebersihan. Dibutuhkan peran aktif dari seluruh elemen masyarakat. Daniel dan Adam berharap, kesadaran warga dapat meningkat. Mereka juga berharap pengurus RT dan RW bisa lebih proaktif dalam mensosialisasikan aturan jam buang sampah di lingkungan masing-masing.

Selain itu, ada harapan besar agar para pengembang perumahan juga ikut berpartisipasi. Dengan menyediakan lahan kosong di dalam area perumahan untuk dijadikan TPS, mereka dapat membantu mengurangi hamparan sampah dan memudahkan warga membuang sampah sesuai aturan.

Dengan keterbatasan dan tantangan yang ada, Daniel dan Adam tetap gigih. Mereka adalah contoh nyata bahwa perubahan kecil bisa dimulai dari siapa saja, di mana saja, bahkan di tempat yang dianggap kotor dan tidak bernilai. Kisah mereka adalah pengingat bahwa menjaga kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya sekadar instruksi di atas kertas.

(Zadrach.W)