Ones Deal, Pelita Bahasa Inggris di Pelosok Benawa
BENAWA—Di balik ketenangan Kampung Wirsa dan Lulum di pegunungan, nama Ones Deal (23) telah menjelma menjadi simbol harapan dan pengabdian. Laki-laki sederhana, yang lahir dari keluarga petani pada 6 Oktober 2002 di Kampung Lulum, Distrik Benawa, Kabupaten Yalimo, ini dikenal luas bukan hanya sebagai sosok inspiratif, tetapi juga sebagai motor penggerak pendidikan, khususnya dalam pengajaran Bahasa Inggris, di tengah segala keterbatasan. Kisahnya adalah bukti nyata bagaimana satu orang dapat menyalakan semangat belajar yang besar melalui dedikasi tanpa pamrih.
Jalan hidup Ones Deal tak pernah mudah. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan kerasnya hidup di pegunungan. Namun, tekadnya untuk menuntut ilmu tak pernah padam. Setelah tamat dari SMA Negeri 7 Kota Jayapura pada 2021, Ones mengambil langkah berani: melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
Ia terbang ke Papua Nugini (PNG), tepatnya di Missionary International Mutiara Pacific College, Lae City, Provinsi Morobe, pada tahun yang sama. Selama enam bulan menempuh jurusan Teacher Training English Course, Ones tak hanya belajar bahasa, tetapi juga menemukan visi. Ia bertemu dengan Mr. Noah dari Distrik Margam, yang dengannya ia membangun komitmen kuat: mendedikasikan diri untuk membangun visi dan mengejar mimpi anak-anak Papua, terutama di kampung halamannya.
Kepulangannya ke Papua pada Desember 2021 untuk Natal membawa misi baru. Meskipun teman-temannya telah diterima di kampus ternama seperti UNCEN dan USTJ, Ones memutuskan untuk melanjutkan studi di Internasional University of Papua (IUP), mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FKIP, dan kini telah memasuki semester 7 (Angkatan 2022).
"Saya punya komitmen untuk masuk kampus di Internasional University of Papua, kampus baru di Papua bagi dunia," ujar Ones kepada penulis, menunjukkan kepercayaan dirinya pada pilihan yang ia ambil.
Komitmen Ones diwujudkan melalui pendirian Wirsa English Course Benawa (WECB) pada 26 September 2024. WECB menjadi jawaban atas tanggung jawab moral yang ia rasakan sebagai pemuda pertama dari kampung Lulum yang berhasil menempuh pendidikan hingga ke PNG.
"Saya orang pertama dari kampung Lulum yang mengambil keputusan untuk keluar negeri di negara Papua Nugini. Saya sukses di dunia bahasa internasional seperti Bahasa Inggris maupun Bahasa Tok-Pisin/PNG, maka adik-adik saya juga harus belajar Bahasa Inggris, Tok-Pisin. Itu bagian dari tanggung jawab saya," kata Ones.
Baginya, kegagalan terbesar adalah jika adik-adiknya tidak menguasai bahasa internasional tersebut. "Saya sendiri tahu Bahasa Inggris, apa gunanya ketika saya kembali ke kampung halaman, saya komunikasi dengan siapa? Tentu saya harus bicara dengan orang yang tahu Bahasa Inggris. Guna ada konektivitas, sehingga adik-adik saya harus belajar Bahasa Inggris," tegasnya.
Visi WECB sangat jelas: Mempersiapkan generasi untuk menghadapi dunia global, sebuah tantangan besar di era kini. Ones percaya, hanya mereka yang menguasai Bahasa Inggris yang mampu bersaing di panggung globalisasi.
Antusiasme masyarakat terhadap WECB sangat tinggi. Momen wisuda angkatan pertama WECB pada 26 September 2025, yang meluluskan 10 siswa, menjadi bukti. Para orang tua sangat bangga ketika anak-anak mereka mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, dan meminta agar kelas berikutnya segera dibuka. Dukungan ini juga datang dari kedua kepala kampung, Wirsa dan Lulum, yang menjadikan program bahasa Inggris ini sebagai bagian integral dari program pembangunan kampung.
Meski semangat belajar membara, Ones mengakui WECB masih menghadapi kendala sarana dan prasarana. Selama ini, kegiatan belajar mengajar masih menggunakan rumah pribadi Ones. WECB masih membutuhkan fasilitas umum seperti gedung sekolah, rumah guru, dan perpustakaan. Selain itu, transportasi dari Jayapura ke Benawa yang harus melalui jalur darat juga menjadi tantangan besar.
Menyikapi hal ini, seluruh warga bersama kedua kepala kampung berharap besar kepada Pemerintah Kabupaten Yalimo, terutama Dinas Pendidikan, untuk memberikan dukungan dan support dalam pengembangan sumber daya manusia di sektor pendidikan.
"Kami punya pengalaman buruk di masa lalu, maka itu, Pemerintah mohon mendukung dan support untuk anak-anak yang melanjutkan pendidikan Bahasa Inggris di kota maupun di Distrik Benawa," harap mereka.
Menguasai Bahasa Inggris kini bukan lagi sekadar keterampilan, melainkan investasi penting dan lifeskill untuk meraih sukses di dunia global, baik dalam bidang bisnis, teknologi, seni, maupun sains. Tanpa kemampuan ini, anak muda akan menghadapi keterbatasan dalam berinteraksi dan bersaing di tingkat global.
Saat ini, 10 siswa angkatan pertama WECB yang baru diwisuda berencana melanjutkan pendidikan Bahasa Inggris di Betania School, Kota Jayapura. Namun, orang tua mereka menghadapi kendala biaya.
Oleh karena itu, ada harapan moral yang ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Yalimo dan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan agar dapat mendukung dan membiayai 10 anak ini dalam sektor pendidikan Bahasa Inggris di Betania School, Kota Jayapura. Dukungan ini menjadi kunci untuk memastikan visi Ones Deal dan mimpi anak-anak Benawa dapat terwujud: menjadi generasi yang siap bersaing di dunia.(EW)