Pertamina Dokyard Sorong Mandek Setahun, Pekerja Papua Desak Kapolresta Bongkar Klaim Ulayat

Pertamina Dokyard Sorong Mandek Setahun, Pekerja Papua Desak Kapolresta Bongkar Klaim Ulayat

Sorong, Papua Barat Daya - Sejumlah pekerja Papua yang selama ini menggantungkan hidupnya di perusahaan Pertamina Dokyard di pulau Karim di Kota Sorong, hari ini mendatangi Kapolresta Sorong kota untuk menyuarakan keresahan mereka. Mereka menuntut agar dok yang sudah satu tahun tidak beroperasi bisa segera dibuka kembali.

Hari ini tanggal 15 September 2025, kita dari pekerja dok, yaitu anak-anak Papua, dibawa ke koordinator forum pekerja Papua, audensi bersama dengan Kapolresta, menyangkut kegiatan perusahaan doking kapal yang selama satu tahun, mulai dari bulan September sampai dengan September lagi, berarti satu tahun pas, tidak beroperasi,” ujar Yehuda Kumbado, Perwakilan Pekerja Papua.(15/9/2025).

Menurut Yehuda, penghentian operasional dok tersebut bukanlah tanpa sebab. Perusahaan terhambat oleh klaim hak ulayat yang diajukan oleh pemilik tanah adat. Kondisi ini membuat aktivitas perusahaan lumpuh, dan imbasnya langsung dirasakan para pekerja.

Karena menyangkut hak ulayat, dari pemilik ulayat mengklaim perusahaan, yaitu dok, sehingga sampai saat ini dok tidak beroperasi. Ini mengakibatkan kami pekerja mempunyai pendapatan terbatas,” jelas Yehuda.

Ia menegaskan, kedatangan mereka ke Polresta Sorong bukan untuk mencari sensasi, tetapi untuk mencari keadilan dan jalan keluar dari kebuntuan yang sudah berlangsung selama setahun.

Hal ini kami akan bertemu dengan Kapolresta untuk mencari keadilan. Sehingga hari ini kami bertemu dengan Kapolresta untuk mencari keadilan,” tambahnya Selain itu, pekerja juga meminta pihak kepolisian agar menyelidiki dugaan adanya intimidasi dan ancaman yang dilakukan melalui surat pemalangan yang dilayangkan kepada manajemen perusahaan.

Kami akan memohon kepada Kapolresta untuk mencari dan menyelidiki tentang hak ulayat dan pemilik hak ulayat yang memalang, membuat surat untuk pengancaman kepada manajemen. Dan surat pemalangan itu, di situ ada ancaman,” ungkap Yehuda. Ia menegaskan, persoalan ini bukan hanya soal perusahaan dan pemilik ulayat, tetapi menyangkut kelangsungan hidup para pekerja Papua yang saat ini terhimpit oleh kesulitan ekonomi.

“Karena kami bekerja butuh hidup yang layak. Sehingga hari ini kami berada di Kapolresta ini adalah untuk audisi atau bertemu dengan Kapolresta,” tuturnya dan Menurut Yehuda, aspirasi utama pekerja adalah agar dok segera kembali beroperasi. Dengan begitu, mereka bisa kembali memiliki penghasilan yang layak untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Yang kami inginkan itu adalah dok harus segera beroperasi. Sehingga pendapatan kita bertambah, menyangkut keluarga, anak-anak kami yang saat ini berada di bangku pendidikan, yang membutuhkan pendidikan,” katanya .Selama setahun terakhir, pekerja merasa sangat terbebani dengan biaya hidup, apalagi dengan kebutuhan pendidikan anak-anak mereka yang tidak bisa ditunda.

Karena selama setahun ini kami sangat terbatas dengan biaya. Nah, sehingga kami inginkan dok yang pada intinya kami pekerja, terutama kami pekerja Papua, inginkan untuk dok itu segera harus beroperasi kembali,” lanjutnya Yehuda menekankan bahwa keberlangsungan operasional dok bukan sekedar masalah perusahaan, melainkan juga menyangkut nasib ratusan kepala keluarga yang menggantungkan penghidupan mereka dari sana.

“Sesuai dengan semula tahun yang lalu, dok itu operasi. Sehingga yang ini juga kami inginkan dok harus operasi dengan segera,” tegasnya Ia juga berharap agar pemilik hak ulayat bisa menempuh jalur mediasi dan dialog, bukan dengan pemalangan atau tindakan sepihak yang justru merugikan pekerja.

Harapan kami untuk pemilik hak ulayat ya harus adakan suatu mediasi atau koordinasi yang baik, sehingga hal ini juga tidak merugikan sepihak,” jelasnya Bagi Yehuda, jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa solusi, maka yang paling dirugikan adalah para pekerja kecil yang tidak punya kekuatan untuk melawan.

Kalau karena hak ini begini terus, ya ini sangat merugikan, yang pertama menyangkut kami pekerja. Ini sangat merugikan kami pekerja,” tegasnya ia pun menegaskan kembali alasan utama kedatangan mereka ke kantor Kapolresta Sorong hari ini, yaitu untuk memperjuangkan hak mereka sebagai pekerja yang selama setahun terakhir kehilangan mata pencaharian.

Sehingga kami ke kantor Polresta ini adalah untuk mencari keadilan. Itu yang pertama dan terutama yang kami lakukan, kami pekerja lakukan ini,” pungkas Yehuda Dengan suara penuh harap, Yehuda menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa tuntutan mereka sederhana: perusahaan Pertamina dokyard harus segera beroperasi kembali, agar para pekerja Papua bisa kembali hidup layak, menyekolahkan anak-anak, dan tidak terus-menerus terjebak dalam kesulitan ekonomi.

(Tim Redaksi)