Ironi Tanah Abun, Kekayaan Alam Melimpah yang Membelakangi Rakyatnya

Ironi Tanah Abun, Kekayaan Alam Melimpah yang Membelakangi Rakyatnya

Oleh: Berto Yekwam

TAMBRAUW, Melanesiapost  – sebuah kampung di Distrik Kwoor, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya, adalah potret nyata dari sebuah ironi. Di atas tanah yang menyimpan kekayaan alam luar biasa, masyarakatnya justru masih terhimpit oleh keterbatasan yang seolah abadi. Jalan-jalan yang rusak dan sulit dilalui menjadi saksi bisu betapa pembangunan belum menyentuh nadi kehidupan di sana secara merata.

Sejarah mencatat, sejak awal tahun 2000-an, Tanah Abun telah menjadi incaran eksploitasi besar-besaran. Perusahaan kayu masuk merambah wilayah dari Sausapor, Bikar, hingga merangsek ke hulu Kali Kwoor bagian atas.

Hutan dibabat, kayu-kayu gelondongan diangkut keluar, namun apa yang tertinggal bagi warga? Hanya jejak eksploitasi. Tidak ada perubahan signifikan bagi taraf hidup masyarakat lokal. Pola ini kembali terulang saat PT Multi beroperasi dari Resye hingga Tobouw. Hutan ditebang habis, namun kesejahteraan tetap menjadi barang mewah yang sulit dijangkau oleh penduduk asli.


Harapan baru sempat menyala ketika aktivitas pendulangan emas tradisional mulai ramai di Kwoor. Orang-orang dari berbagai penjuru datang mengadu nasib, mencari peruntungan di tanah ini. Namun, lagi-lagi kenyataan pahit harus ditelan: kehadiran emas belum mampu mengangkat derajat ekonomi masyarakat setempat secara berkelanjutan.

Masalah yang dihadapi masyarakat Abun kini bukan lagi sekadar soal kemiskinan, melainkan ancaman keberlangsungan hidup akibat kerusakan lingkungan. Eksploitasi datang mengambil hasil, lalu pergi meninggalkan beban ekologis yang berat.

"Pemerintah dinilai kurang memberikan perhatian serius terhadap prinsip pembangunan berkelanjutan. Tanpa penghormatan pada hak-hak masyarakat adat, ekosistem di Tanah Abun kini berada dalam ancaman serius."

Hingga detik ini, akses jalan yang buruk menjadi penghalang utama kemajuan. Bagi warga Kwoor, waktu seakan berhenti bergerak. Di tengah hiruk-pikuk klaim pembangunan di tanah Papua, mereka masih harus bertarung dengan infrastruktur yang tidak layak.

Namun, di tengah segala ketidakadilan itu, ada satu hal yang tetap teguh: Kesetiaan.

Masyarakat Abun memilih untuk tetap bertahan. Mereka menjaga tanah yang memberi mereka hidup dengan tenang, meski hingga kini, kehidupan itu sendiri belum sepenuhnya berpihak kepada mereka. Tanah Abun adalah rumah, dan mereka tidak akan membiarkan rumahnya hancur, sekalipun dunia seolah melupakannya.

Tentang Penulis: Berto Yekwam adalah seorang pemerhati lingkungan dan masyarakat adat di Kwoor yang fokus pada isu-isu keadilan ekologis dan sosial di Papua.