Warga Klawuyuk Sorong Timur Gelar Pesta Demokrasi Mini: Pilih Ketua RT Bak Pemilu, Bukti Kerinduan Perubahan
Kota Sorong, Papua Barat Daya – Nuansa pemilihan umum (Pemilu) terasa kental di Kelurahan Klawuyuk, Distrik Sorong Timur, Kota Sorong, Papua Barat Daya, baru-baru ini. Bukan untuk memilih wakil rakyat atau kepala daerah, melainkan untuk memilih Ketua Rukun Tetangga (RT). Warga setempat berbondong-bondong mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) mini yang disiapkan, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap proses demokrasi langsung yang mereka inisiasi (12/10/25).
Pemilihan RT yang dilakukan secara langsung dengan mekanisme pencoblosan layaknya Pemilu ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Kelurahan Klawuyuk, sebuah upaya untuk menjawab kerinduan warga akan keterbukaan, transparansi, dan tentu saja, perubahan.
Gagasan untuk menggelar pemilihan RT secara langsung ini muncul dari desakan warga yang merasa masa jabatan Ketua RT dan Rukun Warga (RW) mereka sudah "terlalu lama" melampaui batas waktu normatif.
"Sejak bulan Agustus lalu, kita musyawarah warga. Jadi pada dasarnya kita sudah terlalu lama periode RT maupun RW. Jadi desakan masyarakat perlu dilakukan pemilihan kembali," ungkap Drs. Ahmad Zainuddin, Ketua RW 2 Kelurahan Klawuyuk, yang juga bertindak sebagai panitia pelaksana.
Zainuddin mengungkapkan, masa jabatan Ketua RW yang ia emban saja sudah hampir 15 tahun, jauh melampaui batas 5 tahun yang seharusnya. Pemilihan terakhir untuk RT dan RW sendiri sudah berlangsung 15 tahun lalu. Kondisi ini memicu semangat warga untuk segera melakukan pembaruan.
"Kurun waktunya kan 5 tahun sebaiknya. Kita kan sudah melebihi batas waktu yang ditentukan oleh pemerintah. Sehingga, begitu masuk-masuk alangkah baik yang kita laksanakan," tambahnya.
Proses pemilihan kali ini juga mendesak karena dua Ketua RT, yakni RT 2 dan RT 4, sedang dalam kondisi sakit. Situasi ini semakin memperkuat perlunya kebijakan keamanan di tingkat bawah.
Mengapa memilih metode pencoblosan layaknya Pemilu, alih-alih musyawarah atau aklamasi seperti yang biasa dilakukan di lingkungan RT? Zainuddin menegaskan, ini adalah bentuk keinginan untuk tampil "lain daripada yang lain," demi mencapai keterbukaan dan transparansi penuh.
"Kita kepengen ada yang lain daripada yang lain gitu loh. Maksudnya kita transparan, terbuka," jelasnya. “Semua panitia ini tidak bisa ikut campur. Semonggo kerso (silakan saja), mau memilih masyarakat siapa. Jadi kita mencoba keterbukaan lah.”
Pemilihan ini diikuti oleh sejumlah calon, termasuk petahana yang diperbolehkan mencalonkan diri kembali. Daftar Pemilih Tetap (DPT) tercatat kurang lebih 254 orang dari seluruh RT 1, 2, 3, dan 4. Syarat untuk memilih pun jelas: bertempat tinggal dan memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) setempat. Proses pengumpulan suara berjalan dengan tertib sejak pukul 06.00 pagi hingga pukul 18.00 sore.
Antusiasme warga Klawuyuk bukan sekedar merayakan demokrasi, namun lebih didorong oleh harapan besar akan perubahan dan perbaikan lingkungan mereka. Salah satunya adalah Martha Habetan, seorang warga setempat, yang mengungkapkan rasa terima kasihnya atas terlaksananya program pemilihan ini.
"Kalau pribadi saya, kenapa sampai saya ingin memilih RT baru? Karena sudah bertahun-tahun, kami tidak pernah dapat bantuan yang dari pemerintah punya, dari mana saja," ujar Martha Habetan dengan nada penuh harap. Ia merasa bahwa warga asli Papua yang tinggal di wilayah tersebut luput dari perhatian selama ini.
Martha berharap, dengan adanya Ketua RT yang baru, akan ada perhatian lebih dari pemerintah, terutama terkait infrastruktur dan keamanan lingkungan.
"Ya, mungkin memperhatikan kita, terutama jalan khusus. Terus mungkin pos kampling ini (pos ronda/keamanan) ditertipkan kembali, karena ada kecurian terus di wilayah kita sini. Terus banjir ini," katanya, menyoroti masalah-masalah krusial yang mereka hadapi.
Sebagai seorang ibu, ia juga berharap lingkungan yang baru dapat menjaga kebersamaan dan merawat tata kompleks. “Kita menjaga kebersamaan lingkungan ini, terutama khusus lingkungan ini. Setiap malam, ada mungkin… ya, supaya kita menjaga dengan rapi tata kompleks ini bagaimana caranya.”
Pemilihan Ketua RT di Klawuyuk ini membuktikan bahwa semangat demokrasi tidak hanya dimiliki oleh perhelatan besar tingkat nasional, namun juga hidup dan bersemi di tingkat paling dasar, di mana kerinduan akan transparansi dan perubahan dapat diwujudkan melalui "pesta demokrasi mini" yang penuh makna. Red