Warga Sipil Tertembak Saat Aksi Tolak Pemindahan Tapol di Sorong

Warga Sipil Tertembak Saat Aksi Tolak Pemindahan Tapol di Sorong

Aksi unjuk rasa menolak transfer empat perlawanan politik (tapol) di Sorong, Papua Barat Daya, berujung ricuh, pada Rabu (27/8/2025). Bentrokan antara massa dan aparat kepolisian memakan korban. Maikel Welerebun, seorang warga sipil, diduga tertembak di bagian lengan hingga tembus ke pinggang saat melakukan protes di Jalan Baru kelurahan Malawei. Ia kini tengah mendapatkan perawatan medis di RUmah Sakit Selel Be Solu Kota Sorong.


Kericuhan ini terjadi setelah proses transfer tapol dari Mapolresta Sorong ke Makassar dipaksakan oleh pihak kepolisian dan pemerintah, meskipun menuai penolakan keras dari massa. Aparat merespons aksi pemalangan dan protes massal dengan tembakan gas air mata dan peluru karet.

Kronologi Memanasnya Kondisi
Sejak dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB, ketegangan sudah terasa saat empat kendaraan taktis (rantis) Brimob disiagakan di Mapolresta Sorong Kota. Pada saat yang sama, massa mulai berdatangan untuk menolak transfer empat tapol Negara Federal Republik Indonesia (NRFPB). Mereka menuntut agar para tapol yang dikabarkan sakit tidak dipindahkan ke Makassar untuk menjalani persidangan.

Sebagai bentuk protes, massa melakukan pemalangan di beberapa titik jalan dan membakar ban di poros Jalan Basuki Rahmat. Meskipun mendapat penolakan yang kuat, keempat tapol berhasil dikeluarkan dari Mapolresta sekitar pukul 06.30 WIB dan diberangkatkan ke Makassar dengan pesawat komersial dari Bandara Domine Eduard Osok (DEO).

Setelah transfer berhasil, massa yang kecewa bergerak ke Kantor Wali Kota Sorong, menuju Kantor Gubernur Papua Barat Daya, dan Majelis Rakyat Papua Barat Daya (MRP PBD). Mereka melampiaskan kekecewaan dengan merusak fasilitas gedung, seperti memecahkan kaca jendela, dan merusak mobil dinas gubernur yang terparkir.

Hingga pukul 14.00 WIB, bentrokan masih terjadi di area Yohan dan Aspen. Aparat keamanan berupaya membubarkan massa dengan menembakkan gas air mata, sementara massa membalas dengan melemparkan botol dan batu. Pihak keamanan bersenjata lengkap masih terus berjaga di lokasi untuk mengantisipasi eskalasi lebih lanjut.

(Rabin.Y)