Air Mata di Tanah Papua: Max Binur, Seniman dan Pejuang HAM Telah Pergi
SORONG, Kabar duka mendalam datang dari tanah Papua. Markus Binur, sosok budayawan, aktivis peneliti sekaligus pejuang hak-hak masyarakat adat, berpulang dengan damai pada Kamis, 18 September 2025. Kepergiannya meninggalkan luka bagi banyak orang yang mengenalnya.
Almarhum Bapak Markus Binur lahir di Biak pada 18 Januari 1970. Sejak kecil dia sudah menunjukkan keseriusan menempuh pendidikan, mulai dari SD TKP Pudore Supyori Biak hingga SD Inpres Sausapor yang ditamatkan pada tahun 1986, ujar Charles Tawaru, adalah sahabat dan rekan seperjuangan almarhum
Setelah itu dia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 9 Beraur Klamono dan lulus pada tahun 1989. Kemudian masuk SMA Negeri 1 Kota Sorong hingga lulus pada tahun 1990. Dari Sorong dia melanjutkan kuliah di Universitas Cenderawasih, Jayapura, jurusan Antropologi Fakultas FISIP, tambah Charles.
Markus Binur menjalani kehidupan keluarga yang sederhana namun penuh kasih. Ia menikah dengan mendiang Danarti Wulandari dan dikaruniai dua putra, Mambri Binur dan Kumeser Binur
Keluarga selalu menjadi pusat hidupnya. Walaupun sibuk dengan aktivitas sosial dan penelitian, beliau tidak pernah lalai sebagai suami dan ayah. Itu yang membuat kami hormat kepadanya,” kata Charles Tawaru saat di wawancarai media ini.(21/9/2025).
Perjalanan aktivismenya dimulai pada tahun 1999 ketika bergabung dengan Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa (YPMD) Jayapura sebagai peneliti muda. Dari situ langkahnya semakin lebar di berbagai organisasi.
Pada tahun 2000 dan 2002 beliau menjabat Koordinator Umum Pusat Kajian dan Advokasi Budaya Papua (Pujian Kasuari). Lalu masuk ke ELSHAM Papua sebagai Koordinator Desk Perdamaian dan Resolusi Konflik. Itu adalah masa-masa awal beliau dikenal luas, jelas Charles saat di tanya media ini.(21/9/2025).
Selain di ELSHAM, Markus juga dikenal di organisasi lingkungan advokasi lingkungan hidup dan Beliau pernah menjadi Direktur Eksekutif WALHI Papua, kemudian bergabung dengan Conservation International Indonesia di Raja Ampat sebagai spesialis pendidikan dan pelatihan. Dari situ terlihat kepeduliannya pada lingkungan mengungkapkan Charles Tawaru
Tak berhenti di situ, almarhum turut mendirikan organisasi budaya dan sosial yang berpengaruh dan Beliau mendirikan kelompok budaya Black Paradise Elsham Papua dan juga Belantara Papua. Dari Belantara lahirlah banyak gerakan sosial, penelitian budaya, hingga pendidikan rakyat yang berdampak luas di Sorong Raya provinsi Papua Barat daya ini ujar Charles
Keterlibatannya dalam pendidikan juga sangat nyata dan Ia ikut merancang kurikulum belajar anak-anak Papua, bahkan berpartisipasi dalam desain program pendidikan lingkungan kapal Kalabia di Raja Ampat dan Program Kalabia itu mengecewakan karena membawa pendidikan lingkungan berlayar ke kampung-kampung. Itu salah satu karya besar beliau yang tak banyak orang tahu,” kata Charles Tawaru.
Selain aktivisme, Markus Binur adalah peneliti budaya Papua yang serius dan Skripsi beliau mengangkat perubahan dunia dalam siklus kehidupan orang Biak. Kemudian penelitian-penelitiannya meluas ke hak ulayat suku Moi, sistem kekerabatan Biak dan Raja Ampat, hingga inventarisasi rumah tradisional Maybrat dan Sorong Selatan, jelas Charles.
Sebagai narasumber, ia sering tampil di forum-forum penting dan Beliau diundang ke banyak seminar dan lokakarya. Bahkan pada tahun 2004 pernah menjadi pembicara workshop HAM di Australia. Itu menunjukkan kapasitasnya diakui hingga luar negeri, ungkap Charles saat di wawancarai media ini.(21/9/2025)
Selain berbicara, Markus juga menulis banyak artikel yang berpengaruh dan Tulisan beliau seperti Menari dan Menyanyikan Air Mata Papua dan Budaya Papua di Persimpangan Jalan menjadi bacaan penting. Ia juga menulis tentang lingkungan, rumah adat, dan perjuangan hak masyarakat adat,terang Charles
Bagi Charles, Markus adalah sosok multi talenta dan Beliau bukan hanya aktivis atau peneliti. Ia juga seorang seniman yang mendesain alat musik tradisional, seorang pendidik yang merancang kurikulum, dan seorang penulis yang menyampaikan gagasan-gagasan besar, tegas Charles kepada media ini.(21/9/2025)
Kepergian Markus Binur pada 18 September 2025 menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Papua jadi Kami kehilangan seorang bapak, kakak, sahabat, sekaligus guru. Kepergiannya meninggalkan kehampaan yang sulit tergantikan,ujar Charles dengan suara bergetar saat di tanya media ini.(21/9/2025)
Namun, warisan pemikiran dan perjuangannya tetap abadi dan Max Binur sudah menutup semua karya di dunia, tapi semangatnya tidak akan pernah padam. Generasi Papua akan terus belajar dari jejaknya, kata Charles.
Bagi Charles, sosok Max Binur adalah teladan perjuangan yang nyata dan Beliau mengajarkan bahwa memperjuangkan hak rakyat, budaya, dan lingkungan harus dilakukan dengan ketulusan. Itu pelajaran hidup yang tidak bisa dilupakan,” ungkapnya.
Kini masyarakat Papua hanya bisa mendoakan almarhum jadi Kami percaya dia kembali ke sisi Tuhan dengan damai. Selamat jalan kakak Max, kamu sudah memberikan segalanya untuk tanah dan rakyat Papua dan Warisan perjuangannya tidak berhenti. Karya dan semangatnya akan terus hidup bersama kita, generasi muda Papua. Max Binur telah pergi, tetapi ide ide dan jejaknya abadi, pungkas Charles Tawaru.( GK )