Anggota SPP Raja Ampat Dorong UMKM Lokal Terlibat Penuh dalam Program Makan Bergizi Gratis

Anggota SPP Raja Ampat Dorong UMKM Lokal Terlibat Penuh dalam Program Makan Bergizi Gratis

Sorong Melanesia post Anggota Satuan Pelaksana Program (SPP) Kabupaten Raja Ampat, Salmos Burdam, mendesak seluruh mitra dan pengurus yayasan pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Raja Ampat agar tidak mengabaikan keterlibatan UMKM lokal, khususnya petani, nelayan, dan pedagang kecil setempat.

Saya atas nama Salmos Burdam, selaku anggota SPP Kabupaten Raja Ampat, ingin menyampaikan kepada seluruh mitra dan juga pengurus yayasan untuk program makan bergizi gratis di SPPG Kabupaten Raja Ampat agar bisa bekerja sama dengan UMKM dalam pengelolaan program MBG di sini,” tegas Salmos kepada media.

Menurutnya, pelibatan UMKM bukan sekadar pilihan teknis, melainkan mandat regulasi yang telah diatur secara jelas dalam Peraturan Presiden Nomor 155 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis.

Kalau kita baca bersama di Perpres 155, khususnya Pasal 38, di situ sudah jelas bahwa penggunaan produk dalam negeri itu wajib dan harus melibatkan usaha mikro dan usaha kecil,” ujarnya.

Salmos menegaskan bahwa UMKM yang dimaksud bukan entitas besar dari luar daerah, melainkan UMKM lokal Kabupaten Raja Ampat yang sehari-hari hidup dari sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan rakyat.

UMKM di Raja Ampat ini terdiri dari petani, nelayan, dan pedagang-pedagang kecil. Mereka ini yang seharusnya menjadi tulang punggung penyedia bahan pangan untuk dapur MBG,” katanya.

Ia menilai selama ini masih ada jarak komunikasi antara pengelola MBG dengan masyarakat lokal yang sebenarnya sudah memiliki hasil produksi pangan yang cukup dan ada petani dan nelayan yang sebenarnya sudah punya penghasilan yang baik, tapi mungkin mereka malu atau ragu menyampaikan hasil produksi mereka kepada pengelola MBG,” ungkap Salmos.

Karena itu, ia secara khusus menyampaikan pesan ini melalui media agar informasi tersebut sampai langsung kepada masyarakat yang memiliki hasil pertanian dan perikanan lokal

Kami ingin menyampaikan lewat media supaya masyarakat yang berhasil, yang ada di Kabupaten Raja Ampat, yang punya tanaman lokal seperti ubi, petatas, kasbi, dan tanaman lokal lainnya, bisa langsung berkoordinasi dengan dapur MBG,” ujarnya.

Salmos menekankan bahwa dapur MBG seharusnya membuka diri sebagai penerima supplier bahan pangan lokal, terutama dari ibu-ibu petani dan nelayan kecil dapur MBG itu harus menerima supplier bahan dari ibu-ibu selaku petani dan juga nelayan-nelayan kecil, supaya ekonomi lokal ikut bergerak,” katanya.

Ia juga menyoroti peran nelayan dengan penghasilan lebih besar agar tidak memonopoli rantai pasok, melainkan membuka ruang bagi nelayan kecil jadi kalau nelayan yang penghasilannya sudah besar, upayakan untuk mengoordinasikan di dapur MBG, supaya tetap memberi ruang bagi nelayan kecil menjadi supplier,” tegasnya.

Menurut Salmos, semangat utama MBG bukan hanya soal gizi, tetapi juga keadilan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat lokal dan selain soal bahan pangan, Salmos juga menyoroti aspek perlindungan tenaga kerja, khususnya relawan MBG yang selama ini bekerja di dapur-dapur MBG di Raja Ampat.

Yang kedua, relawan MBG harus terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan dan Salmos ia menyarankan kepada seluruh mitra dan yayasan agar secara serius mendaftarkan seluruh relawan dapur MBG ke dalam program jaminan sosial tenaga kerja.

Saya menyarankan kepada seluruh relawan di dapur MBG yang berada di Kabupaten Raja Ampat agar diupayakan untuk didaftarkan ke BPJS Ketenagakerjaan, supaya mereka punya jaminan dan salmos menjelaskan bahwa relawan MBG berhak mendapatkan perlindungan dasar berupa jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian.

BPJS Ketenagakerjaan itu mencakup dua program penting, yaitu jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian. Ini penting untuk melindungi relawan dari risiko dan Ia menegaskan bahwa iuran BPJS tersebut tidak boleh dibebankan kepada relawan, melainkan menjadi tanggung jawab pengelola program

Iuran BPJS itu tidak memotong upah atau insentif relawan. Iuran dibayarkan langsung, jadi relawan tetap aman dan terlindungi menurutnya, perlindungan sosial merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan hukum para mitra pelaksana MBG.

Salmos menilai, tanpa keberpihakan yang jelas kepada UMKM lokal, Program Makan Bergizi Gratis berpotensi berubah menjadi proyek administratif yang hanya menguntungkan segelintir pihak dan tidak menyentuh akar persoalan ekonomi rakyat Raja Ampat.

Kalau bahan pangan justru didatangkan dari luar daerah, maka semangat MBG itu hilang. Program ini seharusnya menguatkan ekonomi kampung, bukan memperlebar ketergantungan pada pemasok besar,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa Raja Ampat memiliki kekayaan pangan lokal yang melimpah, namun sering kali terpinggirkan oleh sistem pengadaan yang tidak berpihak pada produksi masyarakat adat dan kampung-kampung pesisir.

Kita punya ubi, kasbi, petatas, ikan segar dari nelayan lokal dan kalau semua itu tidak dipakai, lalu untuk siapa program ini dibuat?” kata Salmos dengan nada mempertanyakan jadi menurutnya, dapur MBG seharusnya menjadi ruang distribusi keadilan ekonomi, di mana petani kecil dan nelayan tradisional memperoleh akses pasar yang pasti dan berkelanjutan.

Dengan melibatkan petani dan nelayan kecil, MBG bisa menjadi jaminan pasar yang adil, bukan hanya kegiatan masak dan bagi makanan jadi salmos juga menegaskan bahwa keberhasilan MBG tidak boleh hanya diukur dari jumlah porsi makanan yang dibagikan, tetapi dari sejauh mana program tersebut memperkuat struktur ekonomi lokal.

Kalau yang kita kejar hanya laporan dan angka serapan anggaran, maka rakyat di kampung tetap jadi penonton. Itu bukan tujuan MBG Ia juga meminta pemerintah daerah dan yayasan pelaksana untuk melakukan evaluasi terbuka terhadap pola kemitraan MBG, termasuk memastikan tidak ada praktik eksklusivitas pemasok.

“Saya harap pesan ini didengar. MBG harus berpihak pada rakyat kecil, melindungi relawan, dan menghormati potensi lokal Raja Ampat hal ini sangat penting agar relawan bisa bekerja dengan aman dan terlindungi dari risiko kecelakaan. Itu saja pesan saya kepada mitra dan yayasan,” tutup Salmos Burdam.