Buku Baru Yoman Guncang Narasi Negara Yang Palsu Tak Akan Berumur Panjang di Tanah Papua

Buku Baru Yoman Guncang Narasi Negara Yang Palsu Tak Akan Berumur Panjang di Tanah Papua

Sorong Melanesia post Di tengah bayang bayang konflik berkepanjangan dan luka kemanusiaan yang belum sembuh di Tanah Papua, Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman kembali mengguncang ruang publik dengan pernyataan yang tajam dan penuh keyakinan dan lewat buku terbarunya berjudul “Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik di Papua”, Yoman bukan sekadar menulis, tetapi melontarkan kritik keras terhadap narasi resmi negara tentang Papua. Ia menyatakan bahwa sejarah yang selama ini ditanamkan di atas Tanah Papua adalah sejarah palsu yang suatu saat akan runtuh dengan sendirinya.

Dalam pernyataan reflektifnya yang ditulis dari Ita Wakhu Purom, 17 Februari 2026, Yoman menegaskan bahwa menulis adalah bentuk perlawanan moral dan panggilan iman untuk menyuarakan penderitaan bangsanya.

Apakah Anda percaya atau tidak? Anda suka atau tidak? Anda terima atau tidak? Saya mau sampaikan jadi melalui buku ini, saya bermimpi dan mempunyai doa dan harapan bahwa 5 sampai 10 tahun ke depan, tepatnya tahun 2031 atau 2036, sejarah palsu Indonesia di atas TANAH ini akan hilang sendirinya. Generasi muda bangsa Papua Barat akan berdiri dengan kebenaran sejarah dan ideologinya sendiri. Sebab, yang palsu tidak pernah berumur panjang,” tegas Yoman.

Menurutnya, perjuangan melalui tulisan bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah bangsa-bangsa tertindas dan ia mengutip karya Mayon Sutrisno dalam Arus Pusaran Sukarno sebagai inspirasi moral untuk terus menulis tanpa takut

Tulis semua yang kau ketahui mengenai bangsamu. Tulis semua gejolak perasaanmu tentang bumi sekitarmu karena dengan menulis kau belajar bicara demikian kutipan yang berulang kali ia gunakan sebagai penyemangat perjuangan intelektualnya.

Yoman menilai bahwa bangsa Papua telah terlalu lama membisu di bawah tekanan dan dominasi kekuasaan jadi karena itu, menulis menjadi jalan untuk memecahkan kebungkaman sejarah

Saya menulis untuk menghapus air mata dan penderitaan bangsaku dan menghapus sejarah palsu Indonesia di TANAH ini. Saya menulis untuk rakyat dan bangsaku saya menulis untuk kemuliaan dan kehormatan bangsaku Papua Barat Saya menulis untuk martabat bangsaku,” ujarnya.

Dalam pernyataan yang sarat emosi dan keyakinan tersebut, Yoman menyebut bahwa tulisannya adalah bentuk tanggung jawab moral dan iman ia menyadari bahwa pena tidak melukai, tetapi mampu mengguncang kesadaran.

Saya menulis apa yang saya tahu dan saya menulis apa yang saya mengerti jadi saya menulis apa yang saya lihat. Saya menulis apa yang saya saksikan. Saya menulis apa yang saya alami. Saya tulis apa yang saya rasakan, katanya

Lebih jauh, ia menyebut bahwa tulisan adalah lilin kecil” yang dinyalakan di tengah lorong gelap tragedi kemanusiaan yang menurutnya terus berlangsung di Papua dan menulis tidak melukai dan tidak membunuh jadi kita menulis adalah menyalakan lilin kecil untuk menerangi lorong lorong kecil yang gelap, ungkapnya

Dalam nada yang sangat keras, Yoman juga menyampaikan kritik terhadap pendekatan negara terhadap Papua dan ia menyebut bangsanya sebagai bangsa yang tertindas, terabaikan, dan dibuat tidak berdaya serta merasa terpinggirkan dari tanah leluhur mereka sendiri.

Saya menulis untuk menyuarakan yang tak bersuara. Saya menulis untuk bangsaku yang tertindas dan terjajah saya menulis untuk bangsaku yang terpinggirkan dari tanah leluhur mereka. Saya menulis untuk melindungi bangsaku yang merasa ketakutan,tegasnya

Buku ini, menurut Yoman, bukan sekadar kritik terhadap pemerintahan, tetapi sebuah refleksi mendalam atas konflik Papua dan tantangan penyelesaiannya di era kepemimpinan nasional saat ini. Ia berharap, tulisannya mampu mengubah cara pandang banyak pihak, termasuk para pengambil kebijakan.

Tugas dan kewajiban saya dengan jalan menulis dapat mengubah cara pandang dan berpikir orang Melayu Indonesia, terutama penguasa, TNI-Polri yang menduduki dan menjajah bangsaku,” katanya lugas.

Bagi Yoman, perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata. Ia percaya bahwa tulisan mampu mengguncang sendi-sendi kekuasaan, sebagaimana para tokoh pergerakan dahulu mengguncang kolonialisme melalui pena.

Semua patriot menggoncangkan sendi-sendi pemerintah kolonial dengan tulisan dan Ya, dengan TULISAN! Menulis dan menulis sangat berbeda. Ada orang menulis untuk klangenan, ada orang menulis untuk memperjuangkan sesuatu. Saya menulis untuk memperjuangkan asas,” ujarnya.

Dengan nada penuh keyakinan, Yoman menutup refleksinya dengan pesan sederhana namun sarat makna jadi perjuangan intelektual adalah panggilan hati nurani dan menulis merupakan pertanggungjawaban iman dan ilmu pengetahuan serta panggilan hati nurani untuk rakyat dan bangsaku Melanesia di West Papua.

 Yoman bahkan menegaskan bahwa konflik Papua bukan sekadar persoalan pembangunan atau kesejahteraan, melainkan persoalan sejarah, identitas, dan harga diri sebuah bangsa. Ia menilai pendekatan keamanan yang selama ini dominan justru memperpanjang luka sosial dan psikologis masyarakat.

Papua bukan hanya soal jalan, jembatan, dan investasi. Papua adalah soal manusia, soal martabat, soal sejarah yang belum pernah diselesaikan dengan jujur. Selama negara menutup mata terhadap akar masalah, selama itu pula konflik ini akan terus diwariskan dari generasi ke generasi,” tegasnya

Ia juga menyentil elite politik nasional yang dinilainya sering berbicara tentang Papua tanpa sungguh-sungguh mendengar suara orang asli Papua. Menurutnya, dialog sejati tidak bisa dibangun di atas ketakutan dan intimidasi.

Bagaimana mungkin ada penyelesaian damai kalau rakyat masih hidup dalam rasa takut? Bagaimana mungkin ada keadilan kalau suara yang berbeda langsung dicap makar? Saya menulis supaya bangsa ini berhenti memenjarakan pikiran dan mulai membuka hati, katanya dengan nada tajam.

Yoman secara terbuka menantang generasi muda Papua untuk tidak lagi terjebak dalam ketakutan kolektif. Ia percaya bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari senjata atau demonstrasi besar, tetapi dari kesadaran yang dibangun melalui pendidikan dan literasi sejarah.

“Generasi muda Papua harus membaca, harus menulis, harus berpikir kritis. Jangan biarkan sejarahmu ditulis orang lain tanpa kau koreksi. Kalau kita diam, kita ikut mengubur kebenaran itu sendiri jadi dalam refleksinya, ia juga menyinggung soal masa depan Indonesia sendiri jadi menurutnya, kejujuran sejarah adalah syarat mutlak untuk membangun bangsa yang kuat dan bermartabat.

Indonesia tidak akan runtuh karena kejujuran. Justru Indonesia akan runtuh kalau terus mempertahankan kebohongan. Kebenaran mungkin pahit, tapi hanya kebenaran yang bisa menyembuhkan luka panjang di Tanah Papua katanya

Yoman menegaskan bahwa ia siap menghadapi konsekuensi dari setiap kata yang ditulisnya. Baginya, diam jauh lebih berbahaya daripada risiko bersuara dan saya tahu risiko dari menulis seperti ini tetapi saya lebih takut kepada Tuhan dan hati nurani saya sendiri daripada kepada kekuasaan mana pun. Selama saya masih hidup, saya akan terus menulis untuk bangsaku. Karena ketika pena berhenti, harapan juga bisa ikut mati

Di tengah dinamika politik nasional dan berbagai perdebatan tentang masa depan Papua, buku ini dipastikan akan memicu respons dan diskursus baru. Yoman telah memilih jalannya berbicara melalui tulisan, menantang narasi, dan mengajak generasi muda Papua berdiri di atas versi sejarah yang menurutnya lebih jujur dan bermartabat.