Ibadah Syukuran Injil masuk di Tanah Soroan Ke 77 Tahun

Ibadah Syukuran Injil masuk di Tanah Soroan Ke 77 Tahun

MAYBRAT, Provinsi Papua Barat Daya - ibadah Syukuran Injil masuk di Tanah Soroan Tanggal, 27 September 1949 -2025 ulang tahun yang ke 77 Tahun Injil tuhan telah bertumbuh di tanah soroan.

Bertempat di gedung Gereja Jemaat GKI Paulus Soroan Warga jemaat Melakukan Ibadah Syukuran Injil masuk di tanah soroan yang ke 77 Tahun.


Ibadah Syukuran yang di pimpinan langsung oleh Bapak Pdt. Hans Wanma S.Th beliau dalam Ibadah dengan Mengenakan mahkota Ciri khas Orang Maybrat dan warga jemaat pula mengenakan Pakaian adat mereka dari kampung Soroan masing-masing.

Dalam perenungan beliau menyampaiakan bahwa dengan mensyukuri berkat tuhan yaitu injil masuk di soroan ini kita patut bersyukur karena firman tuhan lewat bapak Bastian Flassy maka kami di tanah soroan bisa menerima Injili yang menjadi kekuatan kita. 

Turut hadir dalam Ibadah Syukuran Injil masuk di tanah Soroan kepada Sekolah SD Soroan Kepala Kampung serta Sekertaris Klasis Ayamaru dan juga Intelektual Soroan Raya yang dari Kota Sorong Teminabuan dan sekitarnya 

Warga jemaat Usai ibadah Syukuran Sambutan Tungan dari Sekertaris Klasis Ayamaru beliau menekankan bahwa penelusuran sejarah injil harus mengacu pada nubuat Pdt. Izaak Samuel Kijne, seorang tokoh besar yang telah meninggalkan warisan pemikiran bagi Tanah Papua. Beliau mengajak seluruh intelektual Soroan Raya untuk bersama-sama memberikan masukan, saran, serta memberikan hasil seminar ini demi kebaikan bersama.

Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 5 Februari 1855, dua misionaris asal Jerman Carl Wilhelm Ottow dan Johan Gottlob Geissler, tiba di Pulau Mansinam, Teluk Doreri. Kedatangan mereka menandai dimulainya misi pekabaran Injil di Tanah Papua. Misi ini kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pendidikan Kristen yang menjadi landasan pembentukan karakter dan pengetahuan masyarakat Papua.

Namun, pada tahun 1925, Dominee Izak Samuel Kijne, misionaris asal Belanda, melihat bahwa Pulau Mansinam tidak lagi ideal untuk pengembangan pendidikan. Dengan berbagai pertimbangan, terutama terkait kondisi lingkungan, ia melakukan survei dan menemukan lokasi yang dianggap paling tepat: Bukit Aitumieri di Miei, Teluk Wondama.

Pada tanggal 25 Oktober 1925, di tempat itu, Kijne memulai pendidikan formal untuk anak-anak Papua. Di sanalah ia menyampaikan sebuah visi kenabian, yang kemudian dikenal luas sebagai “nubuatan Izak Samuel Kijne”, di atas sebuah batu yang kini disebut “Batu Peradaban”.

Dalam pernyataannya yang menjadi simbol perjuangan pendidikan dan martabat Papua, Kijne menyatakan:

"Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi, dan ma'rifat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri."


Yunus Duwit, Sos., M.Si., putra asli Kampung Soroan, menyampaikan Himbawan Kepada seluruh Intelektual Soroan dan warga Jemaat agar kita sama-sama Menjaga Buah Injil ini karena itu mari kita semua bergandengan tanggan kita demi menuju masah depan Sorong yang Sejahtera katanya.

Sambutan ketua Panitia Penjejakan Sejarah Injil masuk di tanah soroan Ruben Bleskadit  menjelaskan ia mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ibu Intelektual Soroan Raya yang sudah membantu kami panitia dari Seminar sampai dengan Ibadah Syukuran ini dan tak lupa juga kepada Panitia PHBG Panitia Hari-hari Besar Gereja yang mana sudah mendukung streaming Ibadah Syukuran hanyalah Tuhan yang punya pekerjaan ini akan membalas semuanya pada kita.

Dengan kegiatan Seminar Belum Berakhir disini maka itu kami meminta bantuan kepada warga jemaat agar bisa memasukkan data-data Sejarah Injili masuk karena sebelum kami melakukan percetakan kita akan membuat Seminar lagi kita akan paparkan lagi kepada semua warga jemaat kalo sudah pas laluh kita cetak penutup Ketua Panitia.( YS )