Institut Usba Gelar Diskusi Buku dan Pameran Foto Jejak Budaya Peradaban Sub Suku Usba
SORONG, melanesiapost - Institut Usba menggelar Diskusi Buku dan Pameran Foto bertajuk “Merajut Kisah dari Pulau ke Pulau: Sejarah Sub Suku Usba di Raja Ampat” di Kota Sorong, Papua Barat Daya, pada Kamis (29/1/2026). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi untuk menampilkan proses riset panjang dan dokumentasi perjalanan lintas pulau yang membentuk identitas masyarakat adat Sub Suku Usba.
Acara ini tidak hanya sekadar diskusi literatur, tetapi juga menyuguhkan pameran foto yang mendokumentasikan jejak budaya serta proses penelitian lapangan. Salah satu arsip yang dipamerkan yakni peta perjalanan tahun 1779 yang mencatat pertemuan awal antara penjelajah Kores dengan masyarakat Usba.
Direktur Institut Usba, Charles Imbir, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan amanah dari Dewan Adat Usba guna mencegah hilangnya identitas di tingkat generasi muda. Menurutnya, buku dan pameran ini berfungsi untuk meluruskan tafsir mengenai Orang Asli Papua (OAP) melalui kacamata kemanusiaan dan peradaban.
“Ini bagian untuk menceritakan tentang kemanusiaan dan peradaban. Pameran foto ini menunjukkan perjalanan peradaban yang tidak hanya fisik, tetapi juga pertemuan antara Austronesia dan Melanesia,” ujar Charles Imbir.
Penyusunan buku ini memakan waktu yang cukup panjang. Charles mengungkapkan, proses diskusi untuk memastikan keaslian data sesuai amanat rapat kerja Dewan Adat memakan waktu hingga empat tahun. Sementara itu, proses penulisan intensif dilakukan selama enam bulan hingga akhirnya diterbitkan dan didaftarkan di Perpustakaan Nasional pada 28 April 2025.
Buku dan dokumentasi foto tersebut merangkum rute perjalanan migrasi masa lampau, mulai dari Mamberamo hingga tiba di Raja Ampat. Dalam perjalanan tersebut, terjadi interaksi budaya dengan berbagai kelompok seperti masyarakat Ambai, Numfor, Ambarbaken, hingga dari Halmahera dan Gebe.
“Mereka berkumpul dan menggunakan bahasa Biak tetapi menetap di Raja Ampat. Pelayaran perdagangan masa lampau membawa pengaruh budaya yang mayoritas berasal dari Biak, namun membentuk persatuan baru yang disebut Sub Suku Usba,” tambah Charles.
Melalui dokumentasi riset ini, Institut Usba berharap dapat menyatukan kembali pandangan masyarakat mengenai sejarah hidup berdampingan antara suku-suku di Raja Ampat, seperti suku pengguna bahasa Biak dan Maya.
Charles mengatakan bahwa tujuan utama dari publikasi riset ini bukanlah untuk memecah belah, melainkan membangun kesadaran kolektif berdasarkan persamaan persepsi dan nilai luhur warisan nenek moyang.
“Kami ingin generasi yang sempat terputus informasinya bisa tersambung kembali dengan solidaritas kemanusiaan. Diskusi hari ini dilakukan secara luas untuk mendapatkan masukan guna memperkuat isi buku sebelum nantinya disebarluaskan lebih jauh,” tutupnya.(RY)