Kampus Pertama di Sorong Minimnya Sarana dan Prasarana Pendidikan mahasiswa Picu Protes
KotaSorong - Kondisi sarana dan prasarana di kampus Universitas Muhammadiyah Sorong (Unamin)Kota Sorong Provinsi Papua Barat Daya, kembali menjadi sorotan setelah mahasiswa mengeluhkan fasilitas yang dianggap tidak memadai untuk menunjang kegiatan akademik.
Sejumlah sejumlah sarana seperti Kursi perangkat proyektor, kVGA, HDMI, Ac hingga fasilitas pendukung lainnya belum mendapatkan perbaikan yang Signifikan.
Berdasarkan pantauan di ruang kelas Kursi-kursi lebih rusak, AC tidak difungsikan serta perangkat proyektor yang sering tidak berfungsi, proyektor ada berfungsi tetapi kabelnya kVGA, HDMI, kadang dicari. Kondisi ini diperparah sehingga membuat suasana belajar menjadi tidak nyaman.
Salah satu mahasiswa Fakultas Ekonomi Maichel Alfin Arfayan, mengakui sarana dan prasarana kami dinilai tidak memenuhi Standar dan sebagainya yang tidak layak digunakan.
" Kursi-kursi yang banyak rusak dan tidak diganti, bahkan AC yang dipasang sejak tahun 2023 itu meskipun berfungsi menyala tapi kami tidak bisa merasakan, karena gedung di kampus ini lebih banyak jendela jadi kalau pasang AC, itu yang layaknya dipasang kecuali ruang tertutup boleh atau seperti kamar Hotel boleh AC cocok dipasang, "ujarnya kepada wartawan ini Kamis pada (20/11/2025).
Katanya sarana dan prasarana di kampus Universitas muhammadiyah Sorong saya merasa Fasilitasnya sangat baik tetapi pernah ada renovasi kembali dan dikontrol di setiap ruang kelas.
"beberapa perlengkapan seperti AC itu di dipasang tetapi berjalannya cuma beberapa bulan. kemudian sampai saat ini kami sudah tidak tahu ini fungsinya apa? Karena barangnya ada, tapi fungsinya saya rasa tidak ada sama sekali.Karena setiap kita masuk, kendalanya remote, dan AC-nya tidak dingin. satu sisi, kami kalau mau dibilang demi kesejahteraan kita untuk dalam proses belajar mengajar itu sangat diperlukan. Karena kita mengingat ruangan tertutup dan konsentrasi belajar. Itu bisa mengaruhi daya berpikir, daya mencerna materi yang diberikan.
Nah, kemudian lagi kita tarik kepada fasilitas lainnya. Itu bagi kami, bagi saya pribadi juga saya rasa itu sangat kurang. Karena fasilitas kursi yang kita dapati ribuan, tetapi yang rusak juga lebih banyak, lebih besar daripada yang tersedia saat ini. Bahkan kami sangat kekurangan kursi, Ada momen di mana kita pernah mengalami duduk melantai lalu mengikuti proses pelajaran ini Saya bicara fakta yang kami alami sendiri," Kata Alfin Arfayan.
Lebih lanjut dia menekankan kami mengingatkan agar menjadi bahan evaluasi bagi para pengurus fakultas di tetapi juga lembaga Unamin itu sendiri.
"beberapa kali saya sempatkomplain, menyampaikan aspirasi tetapi belum ada Respon positif bagi kami. Katanya miminya Fasilitas seperti ini kalau mau bilang sangat berpengaruh kepada kegiatan belajar. kekurangan yang kami alami itu sangat berpengaruh kepada
sistem pembelajaran yang kami mahasiswa
jalani hari lepas hari. Dan kami mahasiswa terganggu.
Dana pembangunan yang mahasiswa bayar di setiap Fakultas itu besar. Pertanyaan uang-uang itu dikemanakan? Untuk lengkapi sarana dan prasarana saja tidak bisa itu bagaimana. kalau mau dibilang kami sangat dirugikan.Sedih kalau kami mahasiswa duduk di lantai mengikuti kuliah, hanya karena kekurangan Kursi. menyampaikan ini demi kesejahteraan mahasiswa Unamin Sorong bukan pribadi tapi kepentingan bersama,"tambahya.
Sementara itu, Salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu sosial dan ilmu politik FISIP Unamin Demas Malayamuk, menyoroti dana RP 3,8 M yang merupakan Dana Otsus yang dihibahkan dari pemerintah daerah masa (Pj) Gubernur Papua Barat Daya Dr. Drs. Mohammad Musa'ad, M.Si. katanya dalam upaya memajukan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang akademik. Namun wajah memajukan sumber daya manusia dalam fasilitas akademik masih jauh dari harapan.
" uang Rp3,8 miliar pada tahun lalu yang disumbangkan kepada kampus, tampak pembangunan taman air manjur dan papan nama Unamin di halaman kampus, serta teras meja di setiap depan Fakultas yang kini tempat ngobrol mahasiswa, namun sebagian besar dana itu diperuntukkan apa kami tidak tahu, jangan-jangan hanya Formalitas," Katanya Demas mahasiswa FISIP ini.
Dia menekankan Renovasi gedung, meningkatkan sarana dan prasarana di kampus lebih positif dan berkesinambungan demi mewujudkan Visi misi Unamin.
Kesempatan tersebut mahasiswa juga menduga dana 3,8 M ada kejanggalan sehingga mereka mendesak dan meminta kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan komisi pemberantasan korupsi (KPK) segera Audit dana tersebut. Menurutnya mereka angka dana diluncurkan lebih besar dibanding mininya Fasilitas di kampus Unamin," Ujarnya mahasiswa itu.
Melalui pemberitaan dan mahasiswa berharap agar lembaga kampus mengambil langkah serius untuk memperhatikan sarana dan prasarana fasilitas di kampus terkenal di Sorong ini. Mencerminkan unggul dan Humanis demi meningkatkan akreditasi baik,
Kondisi fasilitas yang tidak memadai ini diharapkan menjadi perhatian bersama, baik pihak kampus maupun pemerintah daerah, untuk memastikan mutu pendidikan tetap terjaga dan mahasiswa dapat menempuh pendidikan dengan optimal.
Meski begitu, mahasiswa berharap upaya tersebut tidak hanya sebatas wacana. Mereka meminta keseriusan kampus dalam menciptakan lingkungan belajar yang layak dan mendukung prestasi akademik.
“Kami hanya ingin belajar dengan nyaman. Fasilitas yang baik itu bukan kemewahan, tapi kebutuhan dasar mahasiswa,” tegas Alfin Arfayan.
Kondisi fasilitas yang tidak memadai ini diharapkan menjadi perhatian bersama, baik pihak kampus maupun pemerintah daerah, untuk memastikan mutu pendidikan tetap terjaga dan mahasiswa dapat menempuh pendidikan dengan optimal.(EW)