Kebangkitan Ekonomi Masyarakat Adat Papua: Dari Kopi Anggi hingga Inovasi Produk Lokal

Kebangkitan Ekonomi Masyarakat Adat Papua: Dari Kopi Anggi hingga Inovasi Produk Lokal

Raja Ampat, melanesiapost.com - Cerita ini mengisahkan bagaimana Kopi Arabika Anggi dari Kabupaten Pegunungan Arfak dan berbagai produk lokal lainnya di Tanah Papua telah menjadi simbol kebangkitan ekonomi masyarakat adat. Kisah ini terungkap dalam kegiatan Youth Forest Camp 2025 yang diinisiasi oleh Yayasan Bentara Papua.

Kopi Arabika Anggi sebagai Penggerak Ekonomi, Yunita D. Ahoren, penggiat kopi, menceritakan bahwa berkat pendampingan intensif dari Bentara Papua sejak 2020, masyarakat adat mulai menyadari nilai ekonomi kopi yang awalnya hanya dianggap sebagai tanaman hias. Kini, kopi Anggi telah diproduksi mandiri, dipasarkan hingga luar Papua, dan dikembangkan dengan inovasi rasa khas seperti kopi rasa kayu aquay, yang membedakannya dengan kopi lain. Diharapkan kopi Papua dapat bersaing di tingkat dunia.

Diversifikasi Produk Lokal Berkelanjutan, EcoNusa Foundation, melalui Helena Mobalen, mendampingi masyarakat mengolah hasil bumi lokal seperti kacang tanah Maybrat, keripik pisang Malaumkarta, dan kerajinan kulit kayu Suku Moi. Produk ini merupakan hasil dari ekonomi berkelanjutan pasca pemetaan wilayah adat.

Inovasi dari Kampung Solol dan Komunitas lain tak mau kalah, Masyarakat Kampung Solol mengolah kelapa (minyak fermentasi), pisang (tepung dan kue), dan ikan (sambal awet) dengan metode tradisional.


Komunitas IMU Kokoda (Sorong Selatan) mengubah daun sagu tua menjadi aneka aksesoris dengan pewarna alami.

Komunitas Tival dari Anak Muda Adat Knasaimos (AMAK) membuat sambal udang dan kaldu udang dari limbah kulit, meskipun masih terkendala perizinan dan alat produksi.

Semangat Kemandirian, Selih Nauw dari Manokwari turut berbagi kisah ketekunannya dalam memproduksi dan memasarkan kopi Anggigida. Semua kisah ini menunjukkan satu semangat, yaitu menghidupkan ekonomi berbasis adat dan alam. Direktur Yayasan Bentara Papua, Yunes Magdalena Bonay, menegaskan bahwa ini adalah bukti masyarakat adat dapat mandiri dengan sumber daya mereka sendiri, sejalan dengan tema acara: “Merajut kata, merawat alam.”(GK)