Pemetaan Partisipatif: Strategi Kunci Memperkuat Hak, Kedaulatan, dan Identitas Masyarakat Adat

Pemetaan Partisipatif: Strategi Kunci Memperkuat Hak, Kedaulatan, dan Identitas Masyarakat Adat

Raja Ampat, melanesiapost.com - penegasan Alink Syafril, seorang fasilitator dalam kegiatan Youth Forest Camp 2025 di Raja Ampat, mengenai pentingnya Pemetaan Partisipatif bagi Masyarakat Adat.

Pemetaan partisipatif adalah langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan, identitas, dan hak Masyarakat Adat atas wilayah mereka.

Proses ini menempatkan Masyarakat Adat sebagai subjek utama (bukan objek) yang secara langsung terlibat sebagai pemilik dan pengelola wilayah.

Metode ini mendasarkan pada pengetahuan lokal dan kearifan adat untuk menggambarkan batas, titik budaya, dan sumber daya alam.

Peta yang dihasilkan adalah "dokumen hidup" yang mencerminkan memori kolektif, identitas, dan sejarah komunitas.

Tiga fungsi utama yakni Melindungi wilayah adat dari eksploitasi (perkebunan/pertambangan).

Memperkuat pengakuan hukum (sesuai Peraturan BIG No. 12 Tahun 2017).

Meningkatkan posisi tawar dalam dialog dengan pemerintah atau pihak luar.

Tujuan akhirnya adalah mendokumentasikan batas secara resmi, menyusun data spasial yang akurat, dan memperkuat pengakuan eksistensi dan martabat masyarakat.

Wilayah adat Knasaimos di Sorong Selatan berhasil mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah kabupaten pada tahun 2024 setelah melakukan pemetaan partisipatif.

Selain pemetaan wilayah, Alink juga menekankan pentingnya Pemetaan Potensi Kampung dan Hutan Adat untuk mengenali dan menggambarkan sumber daya alam, budaya, dan sosial secara partisipatif demi pengelolaan berkelanjutan dan pencegahan konflik.

Pemuda memiliki peran strategis sebagai motor penggerak dan jembatan antara generasi tua dan masa depan.

Mereka harus menjadi penjaga warisan leluhur dan dokumentator (mengumpulkan data, membuat sketsa, menulis, dan menyebarkan hasil) untuk memastikan dunia menghormati wilayah dan masa depan Masyarakat Adat.

Kegiatan ini, diinisiasi oleh Bentara Papua, bertujuan menjadi ruang belajar lintas generasi untuk memperkuat gerakan pemuda dalam melestarikan alam, budaya, dan hak Masyarakat Adat di Tanah Papua.(GK)