Seruan Pemuda Adat Papua: Lawan Eksploitasi dan Tuntut Pengakuan Hak dalam 'Youth Forest Camp 2025
Seruan Kemah Pemuda Hutan yang dibacakan oleh perwakilan pemuda adat dari berbagai wilayah di Tanah Papua selama kegiatan Youth Forest Camp Bentara Papua 2025 di Kampung Solol, Raja Ampat. Seruan ini adalah bentuk perlawanan moral dan penolakan keras terhadap eksploitasi sumber daya alam, perampasan ruang hidup, dan kebijakan pembangunan yang dinilai tidak berpihak pada Masyarakat Adat.
Pemuda mengecam kebijakan pembangunan yang diklaim sebagai kesejahteraan, namun faktanya hanya mengorbankan alam dan meminggirkan Masyarakat Adat sebagai pewaris sah tanah Papua.
Mereka menyoroti bahwa hasil laut, hutan, dan tambang dieksploitasi, namun manfaatnya tidak dinikmati oleh rakyat Papua sendiri yang selama ini menjaga alam.
Kehadiran ribuan militer di Papua dengan dalih keamanan justru disebut memperparah penderitaan masyarakat adat.
Komitmen Generasi Muda: Peserta dari Sorong Selatan, Jayapura, Pegunungan Arfak, Sorong, dan Raja Ampat menegaskan komitmen untuk melawan segala bentuk perampasan ruang hidup dan menjaga hutan, laut, dan tanah mereka.
Melalui seruan ini, peserta mengajukan tuntutan tegas kepada berbagai pihak, antara lain:
Pengesahan RUU Masyarakat Adat oleh Pemerintah Pusat dan DPR RI.
Pencabutan semua izin eksploitasi sumber daya alam yang merampas ruang hidup.
Pemerintah Daerah wajib membuat dan mengimplementasikan PERDA Pengakuan Masyarakat Adat.
Penghentian penambahan personil militer dan tindakan represif aparat.
Semua pemimpin (pemerintahan, politik, adat, keagamaan) didesak untuk menunjukkan keberpihakan terhadap Masyarakat Adat.
Mendesak Pemerintah Daerah untuk melakukan pemetaan wilayah adat dan mengadopsi sistem pengetahuan lokal dalam program pembangunan.
Para pemuda menegaskan bahwa pembangunan sejati bukan hanya tentang infrastruktur, melainkan tentang Manusia Papua yang berdaulat atas tanahnya, hidup damai, dan sejahtera di atas tanah leluhurnya sendiri. Mereka menyuarakan tekad untuk membangun Papua dengan cara yang menghormati alam, manusia, dan kebudayaan lokal.(GK)