Kemerdekaan yang Belum Sampai ke Sorong
Agustus 2025. Bendera Merah Putih berkibar megah di setiap sudut kota, lagu "Hari Merdeka" membahana di mana-mana, dan euforia perayaan HUT ke-80 RI terasa begitu kuat. Di ibu kota, pesta rakyat digelar, karnaval dan pawai menghiasi jalan, dan berbagai acara kenegaraan digelar dengan meriah. Para pemimpin dan pejabat negara tampak bangga, berfoto dengan senyum lebar, menyampaikan pidato tentang capaian kemerdekaan yang telah diraih. Mereka berbicara tentang Indonesia Maju, tentang kemandirian bangsa, dan tentang kesejahteraan rakyat yang kian meningkat.
Namun, di tengah gemerlap perayaan itu, ada sebuah ironi yang begitu menusuk. Di saat banyak orang merayakan kemerdekaan dari penjajahan fisik, saudara-saudara kita di Kota dan Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, justru sedang berjuang melawan penjajahan yang berbeda: penjajahan oleh air.
Di bulan kemerdekaan ini, mereka bukannya bersuka cita, melainkan berbasah-basahan dalam perlindungan banjir. Rumah-rumah terendam, jalanan berubah menjadi sungai, dan aktivitas masyarakat lumpuh total. Anak-anak tidak bisa pergi sekolah, para pekerja tidak bisa mencari nafkah, dan sebagian besar warga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Udara yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, kini menjadi ancaman yang tak terhindarkan.
Banjir di Sorong bukanlah fenomena baru. Ini adalah cerita yang berulang setiap kali musim hujan tiba. Bertahun-tahun, persoalan ini seolah diabaikan. Janji-janji penanganan yang dilontarkan seolah menguap bersama surutnya udara. Namun, ketika banjir kembali datang, masalah yang sama terulang, penderitaan yang sama dirasakan, dan pertanyaan yang sama muncul kembali: Di mana peran pemerintah?
Di tengah perayaan kemerdekaan yang begitu megah dan mahal, kita menyaksikan bagaimana pemerintah pusat dan daerah memberikan kesan abai terhadap penderitaan rakyatnya sendiri. Pesta-pesta diadakan seolah-olah menutupi kenyataan bahwa masih banyak rakyat yang hidup dalam ketidakmerdekaan dari bencana. Mereka yang terkena dampak banjir di Sorong mau mengadu kepada siapa? Apakah suara mereka terdengar di tengah gangguan perayaan? Apakah penderitaan mereka menjadi pertimbangan ketika anggaran negara dialokasikan untuk perayaan yang gemerlap?
Kemerdekaan sejati bukanlah sekedar seremonial. Kemerdekaan adalah kebebasan dari penderitaan, kebebasan dari rasa takut, dan kebebasan untuk hidup layak. Selama masih ada saudara-saudara kita di Sorong yang terendam banjir setiap tahunnya, maka kemerdekaan yang kita rayakan terasa hampa.
Pemerintah, baik pusat maupun daerah, memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan keamanan dirasakan oleh seluruh rakyatnya. Sudah saatnya perayaan kebahagiaan diisi dengan tindakan nyata, bukan hanya kata-kata.
Pengalaman di daerah lain di Indonesia menunjukkan bahwa penanganan banjir yang efektif memerlukan kolaborasi multisektoral dan pendekatan yang komprehensif. Beberapa solusi yang dapat diterapkan, tidak hanya di Sorong, tetapi juga di wilayah rawan banjir lainnya, antara lain:
Pembangunan dan Perawatan Infrastruktur Pengendalian Banjir: Pembangunan dan normalisasi sungai, pembuatan kanal, dan pembangunan waduk penampung air perlu dilakukan secara masif. Ini harus disertai dengan perawatan rutin untuk memastikan saluran udara tidak tersumbat oleh sampah dan sedimentasi.
Manajemen Tata Ruang yang Berkelanjutan: Pemerintah harus tegas dalam menegakkan aturan tata ruang. Pembangunan di daerah resapan udara harus dihentikan dan diganti dengan ruang terbuka hijau. Pembangunan pemukiman harus memperhatikan sistem drainase yang memadai.
Restorasi Ekosistem dan Reboisasi: Upaya reboisasi di hulu sungai dan konservasi hutan sangat penting untuk menjaga daya serap air tanah. Restorasi ekosistem mangrove di pesisir juga dapat menjadi benteng alami dari rob dan gelombang pasang.
Sistem Peringatan Dini dan Edukasi Masyarakat: Pemerintah harus membangun sistem peringatan dini yang efektif dan mudah diakses oleh masyarakat. Selain itu, edukasi mengenai mitigasi bencana dan cara menghadapi banjir juga harus terus digencarkan.
Peran Serta Masyarakat dan Komunitas: Masyarakat harus dilibatkan dalam setiap tahapan penanganan banjir, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Gerakan kebersihan sampah massal dan kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan menjadi bagian penting dari solusi.
Kemerdekaan sejati adalah ketika setiap rakyat bisa hidup aman, nyaman, dan bebas dari ancaman bencana. Di saat kita semua merayakan kemerdekaan, mari kita jadikan momentum ini untuk mengingat bahwa masih ada pekerjaan rumah yang besar. Mari kita jadikan kemerdekaan ini sebagai semangat untuk mengakhiri penjajahan udara yang dialami saudara-saudara kita di Sorong dan seluruh wilayah rawan banjir di Indonesia. Merdeka!
(Zadrach.W)