Klaim Bertanggung Jawab Serang 2 Nakes, TPNPB-OPM Keluarkan Peringatan Keras di Jalur Selemkai-Fef Tambrauw
Tambrauw, Melanesiapost – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) menyatakan bertanggung jawab atas aksi penyerangan terhadap empat tenaga kesehatan (nakes) di Kampung Jokbu, Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, pada Senin (16/3/2026). Insiden yang terjadi sekitar pukul 11.37 WIT tersebut mengakibatkan dua nakes meninggal dunia, sementara dua lainnya berhasil menyelamatkan diri.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, para korban sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Pratama Fef ketika tiba-tiba dihadang oleh sekelompok orang. Korban meninggal dunia teridentifikasi bernama Yeremia Lobo dan Edwin. Sementara itu, dua korban selamat, Hamzah dan Robby, berhasil melarikan diri ke Pos TNI Bamusbama untuk meminta perlindungan.
Juru Bicara Komnas TPNPB, Sebby Sambom, dalam siaran pers tertulisnya mengonfirmasi bahwa aksi tersebut dilakukan oleh pasukan TPNPB Kodap XXXIII Ru Mana di bawah pimpinan Panglima Finsen Frabaku dan Leonardo Syufi.
Sebby mengklaim bahwa kedua nakes yang dieksekusi merupakan agen intelijen yang menyamar. Ia mengatakan pihaknya menemukan sejumlah barang bukti di lokasi kejadian berupa amunisi (peluru) dan perangkat handy talky (HT).
"TPNPB KODAP XXXIII Ru Mana Tambrauw telah mengambil sikap tegas dan mengeksekusi mati dua orang agen intelijen militer yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan," ujar Sebby dalam keterangan tertulis yang diterima Senin malam.
Ia menambahkan bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap pernyataan Panglima TNI terkait status tenaga medis di wilayah konflik.
Selain mengklaim tanggung jawab, TPNPB Kodap XXXIII Ru Mana mengeluarkan peringatan keras bagi warga sipil dan kendaraan yang melintas di wilayah operasi mereka, mulai dari Distrik Selemkai hingga Fef.
"Kami tegaskan setiap kendaraan yang lewat, baik mobil maupun motor, harus menurunkan kaca. Apabila kaca tertutup, kami tembak," bunyi pernyataan dalam rilis video
TPNPB Kodap XXXIII. Mereka juga mengancam akan mengeksekusi warga asli Papua (OAP) yang dianggap menjadi mata-mata.
Selain mengklaim tanggung jawab, TPNPB mengeluarkan beberapa pernyataan resmi, di antaranya:
- Menargetkan siapa pun yang diduga intelijen dengan samaran profesi (nakes, guru, tukang ojek, pedagang) di wilayah konflik.
- Menyatakan tidak ada jaminan keamanan bagi warga imigran di Tanah Papua dan meminta mereka segera keluar dari zona merah.
- Mengancam pekerja tambang emas ilegal dan perusahaan di Papua.
- Mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menghentikan penggunaan fasilitas publik (sekolah, gereja, kantor) sebagai pos militer.
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang dari kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait pasca-penyerangan tersebut. (Red)