Kreativitas Papua Harus Berakar pada Adat: Pesan Kuat dari Pekan Apresiasi Budaya Domberai

Kreativitas Papua Harus Berakar pada Adat: Pesan Kuat dari Pekan Apresiasi Budaya Domberai

Kegiatan Pekan Apresiasi Budaya Domberai di Kabupaten Sorong menjadi forum penting bagi seniman, pelatih, dan pemuda Papua untuk memperkuat identitas budaya mereka di tengah arus modernisasi. Acara ini diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXIII Papua Barat Daya bersama DOMBERAI Kreator Project dan lembaga terkait.

Yanti Siwabesi Akihari, pelatih pembuatan mahkota adat Papua, menegaskan bahwa benda adat, seperti mahkota, adalah simbol kehormatan, kebanggaan, dan identitas yang mewariskan nilai luhur.


Ia menekankan bahwa inovasi dan kreativitas boleh dilakukan, tetapi nilai-nilai adat harus tetap menjadi pijakan utama.

Tantangan terbesar yang dihadapi adalah generasi gadget yang kurang bersentuhan dengan budaya. Oleh karena itu, ia berharap ada dukungan berkelanjutan dari pemerintah untuk pembinaan dan pelatihan lanjutan agar pemuda Papua dapat terus mengembangkan karya budaya berakar pada identitasnya.

Peserta muda, seperti Novelia Kewetari (Suku Inanwatan) dan Victor Nau (Suku Maibrak), merasa kegiatan ini sangat membantu dalam mengembangkan budaya di ruang modern dan membangkitkan kembali kebanggaan terhadap warisan leluhur.

Novelia mengungkapkan bahwa kegiatan ini membuatnya kembali mengenal dan memainkan permainan tradisional yang selama ini terabaikan.

Victor menambahkan bahwa permainan tradisional tidak hanya membentuk jati diri, tetapi juga mengajarkan nilai solidaritas dan kebersamaan.

Mereka berpendapat bahwa teknologi harus dijadikan sarana untuk memperkenalkan budaya Papua ke dunia.

Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan budaya Papua tidak hanya dipamerkan, tetapi dihidupi sebagai bagian dari keseharian. Kesimpulannya, para peserta sepakat bahwa kreativitas boleh modern, tetapi hati dan nilai harus tetap berpijak pada adat.(GK)