Mahasiswa Yahukimo di Sorong Desak Kapolda Papua Copot Kapolres Yahukimo dan Adili Pelaku Pembunuhan Victor Deyal

Mahasiswa Yahukimo di Sorong Desak Kapolda Papua Copot Kapolres Yahukimo dan Adili Pelaku Pembunuhan Victor Deyal

Sorong, Papua Barat daya Persatuan Mahasiswa Kabupaten Yahukimo Studi Sorong (PMKY) menggelar jumpa pers di Asrama Yahukimo, Kilometer 8, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Sabtu (6/9/2025). Mereka mendesak Kapolda Papua segera mencopot Kapolres Yahukimo, AKBP Zet Saalino, dan mengadili para pelaku yang diduga menyebabkan kematian Victor B. Deyal.

Sekretaris PMKY, Beto Pase, menegaskan bahwa kematian Victor adalah bukti nyata tindakan brutal aparat kepolisian yang bertolak belakang dengan kewajiban Polri sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia Kami menilai aparat kepolisian telah berubah menjadi ancaman bagi rakyat. Polisi yang seharusnya melindungi justru merampas nyawa saudara kami, Victor B. Deyal,” kata Beto Pase.

Ia menjelaskan kronologi kejadian pada rabu pagi (3/9/2025). Sekitar pukul 07.00 Waktu Papua, lima anggota polisi menangkap Victor B. Deyal di Permukiman Jalur I, Yahukimo. Saat itu korban tidak hanya ditangkap, tetapi juga dipukuli dan kemudian dibawa ke kantor Polres Yahukimo. Dan Korban diduga mengalami kejadian berat di kantor polisi. Esok harinya, keluarga menerima telepon dari kepolisian untuk datang ke RSUD Yahukimo. Namun ketika keluarganya tiba, Victor sudah dalam keadaan meninggal dunia,” ungkapnya.(7/9/2025).saat di wawancarai

Beto Pase menilai, tindakan aparat merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia. Ia menegaskan, hak untuk hidup sebagaimana dijamin UUD 1945 Pasal 28I ayat (1) tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun jadi Negara melalui aparat kepolisian wajib melindungi kehidupan. Tapi di Yahukimo, negara justru menjadi pelaku pelanggaran. Inilah alasan kami mendesak Kapolda Papua segera copot Kapolres Yahukimo,” tegas Beto Pase.(7/9/2025).

Mahasiswa Yahukimo Studi Sorong menyatakan sikap mendukung penuh keluarga korban untuk menuntut keadilan, baik melalui mekanisme nasional hukum maupun hukum adat dan Kami mahasiswa berdiri bersama keluarga korban. Bila hukum negara gagal, maka pelaku harus diserahkan kepada keluarga untuk diproses melalui hukum adat Yahukimo,” ujarnya saat di wawancarai.(7/9/2025).

Dalam pernyataannya, PMKY menegaskan tiga tuntutan utama. Pertama, Kapolda Papua segera mencopot Kapolres Yahukimo, AKBP Zet Saalino. Kedua, Kapolda dan Kapolres Yahukimo segera mengadili pelaku pembunuhan terhadap Victor B. Deyal. Ketiga, Presiden Indonesia segera menarik seluruh pasukan non-organik dari tanah Papua, khususnya di wilayah pegunungan Yahukimo.

Kehadiran pasukan non-organik di tanah Papua hanya menambah penderitaan rakyat. Mereka datang bukan untuk melindungi, tapi untuk menebar teror dan kekerasan,” kata Beto Pase lantang saat melakukan jumpa pers di asramanya.(7/9/2025).

Ia menegaskan, kehadiran aparat non-organik telah melahirkan rasa takut yang mendalam di masyarakat. Setiap penangkapan selalu diikuti dengan intimidasi, kekerasan, bahkan kematian dan Victor B. Deyal hanyalah satu dari sekian banyak korban. Jika pasukan non-organik tetap bertahan, korban berikutnya hanya tinggal menunggu waktu,” ujarnya.(7/9/2025).

PMKY juga menyoroti kegagalan pembinaan internal dalam tubuh Polri. Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian dan PP Nomor 2 Tahun 2003 tentang Disiplin Anggota Polri dianggap tidak pernah dijalankan secara konsisten dan Harus ada pengawasan ketat terhadap anggota kepolisian. Tetapi di Yahukimo, aturan tetap aturan, korban terus berjatuhan. Kapolres harus bertanggung jawab penuh,” kata Beto Pase.(7/9/2025).

Mahasiswa Yahukimo di Sorong berjanji akan terus mengawali kasus ini sampai tuntas. Mereka mengancam akan menggalang aksi besar-besaran jika Kapolda Papua tidak mengambil langkah tegas jadi Kami siap turun ke jalan. Kami tidak akan diam melihat darah anak-anak Yahukimo ditumpahkan begitu saja. Jika keadilan tidak ditegakkan, kami akan melawan,” tegasnya.

Menurut PMKY, kematian Victor Deyal adalah simbol penderitaan masyarakat Papua di bawah represi aparat keamanan. Mereka menilai kasus ini bukan insiden tunggal, melainkan bagian dari pola kekerasan sistematis yang menimpa rakyat Papua dan Kami akan terus bersuara. Kami tidak akan berhenti sampai keadilan bagi Victor ditegakkan. Kematian ini adalah luka bagi seluruh rakyat Papua, dan luka itu tidak akan sembuh sebelum kebenaran terungkap,” kata Beto Pase.

Konferensi pers diakhiri dengan seruan agar seluruh elemen mahasiswa Papua di berbagai kota bersatu menyuarakan tuntutan terhadap kekerasan negara. PMKY menegaskan, suara mereka adalah suara rakyat Yahukimo yang menuntut keadilan dan kebenaran.

Poin tuntutannya
1. kapolda Papua segera copot Kapolres Yahukimo AKBP zet saalino ,SH,M,H"

2. Kapolda Papua dan Kapolres Yahukimo segera adili pelaku pembunuhan sodara Viktor Deal di Yahukimo.

3. Presiden Indonesia Prabowo Subianto segera menarik militer non organik dari tanah air Papua Sorong sampai Merauke lebih khususnya di pegunungan Yahukimo Papua.

(Gamaliel.K)