Membangun Benteng Konservasi di Raja Ampat: Dampak CSR Kilang Kasim di Waifoi
Teluk Mayalibit - Di tengah kemewahan keanekaragaman hayati Raja Ampat,
tersimpan dilema pembangunan akut. Di satu sisi, ada janji kemakmuran jangka
pendek dari industri ekstraktif. Di sisi lain, terdapat kebutuhan mendesak
untuk menjaga ekosistem yang menjadi fondasi ekowisata berkelanjutan.
Di Kampung Waifoi, Distrik Tiplol Mayalibit, PT Kilang
Pertamina Internasional (KPI) RU VII Kasim (Kilang Kasim) meluncurkan program Corporate
Social Responsibility (CSR) yang melampaui sekadar bantuan sosial. Data
menunjukkan, program ini adalah investasi strategis untuk membangun ketahanan
ekonomi dan sosial masyarakat Ambel Maya sebagai garda terdepan konservasi.
Dampak paling transformatif dari program CSR Kilang Kasim tercatat dalam dimensi sosial. Program ini berhasil membalik logika ekonomi masyarakat Waifoi.
Intervensi sosial-ekonomi melalui pendampingan CSR berhasil
mencapai pergeseran perilaku yang drastis. Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH)
Waifoi, Zakarias, mengungkapkan bahwa anggotanya yang dahulu dikenal sebagai pemburu
satwa kini telah berubah menjadi penjaga satwa dan lingkungan (data
primer). Perubahan ini menunjukkan keberhasilan program dalam menyediakan
alternatif pendapatan yang mengembalikan kehormatan masyarakat adat Ambel Maya
sebagai penjaga alam, bukan perusaknya. Konservasi kini menjadi peran yang
dihormati dan berkelanjutan secara finansial.
Program ini mengadopsi model kolaborasi Triple Helix, yang melibatkan Korporasi (Kilang Kasim), Regulator (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam/BBKSDA Papua Barat Daya), dan Komunitas Lokal (KTH Waifoi/Warkesi). Sinergi ini menjamin bahwa setiap inisiatif, termasuk pengembangan Saupon Adventure Village, sejalan dengan mandat pelestarian Cagar Alam.
Komitmen ini tidak insidental; kerja sama Kilang Kasim dan BBKSDA telah diperpanjang untuk periode 2024–2028, menunjukkan stabilitas jangka panjang dalam investasi konservasi.
Fokus utama program CSR adalah pada pengembangan Ekowisata
Berbasis Komunitas (CBET), dengan Saupon Adventure Village sebagai
pusatnya.
Pada September 2025, bantuan pemberdayaan senilai Rp200.000.000
diserahkan kepada pengurus Saupon Adventure Village. Dana ini ditujukan untuk
peningkatan kapasitas, operasional, dan infrastruktur, termasuk pengembangan
rute trekking di hutan Waigeo yang kaya satwa liar. Bantuan ini
berfungsi sebagai modal awal signifikan untuk memajukan citra Waifoi sebagai
destinasi unggulan Raja Ampat yang nyaman bagi turis mancanegara.
Dampak ekonomi terpenting program ini adalah keberhasilannya
mengubah aset lingkungan dari target eksploitasi ilegal menjadi sumber
pendapatan berkelanjutan. Program ini menciptakan penghasilan bagi masyarakat
dari "satwa yang terus lestari". Satwa liar kini berfungsi
sebagai daya tarik wisata, bukan lagi komoditas perburuan ilegal. Hutan dan
satwa telah diubah menjadi modal tetap (aset konservasi) yang
menghasilkan pendapatan berkelanjutan melalui jasa ekowisata, yang terbukti
memberikan dampak positif yang besar (huge difference) terhadap
kehidupan masyarakat di Teluk Mayalibit.
Model ekonomi ini secara fundamental adalah benteng
pertahanan komunitas. Raja Ampat berada di tengah ancaman izin tambang nikel di
Pulau Waigeo (termasuk PT Nurham dan PT Gag Nikel). Model ekonomi berbasis
konservasi yang didanai Kilang Kasim secara proaktif membantu masyarakat Waifoi
membuktikan bahwa model pelestarian dapat menghasilkan manfaat sosial dan
ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan daripada model ekstraktif yang
menimbulkan risiko ekologis dan sosial parah.
Meskipun dampaknya besar, keberlanjutan program menghadapi
dua tantangan utama:
- Risiko Operasional Ekowisata: Keberhasilan Saupon Adventure Village sangat bergantung pada stabilitas pasar pariwisata internasional dan peningkatan kualitas layanan yang berkelanjutan (pelatihan pemandu, manajemen homestay)
- Ancaman
Pembangunan Ekstraktif: Tekanan politik dan ekonomi kuat dari industri
tambang yang memiliki izin di Waigeo adalah risiko terbesar. Tanpa jaminan
hukum yang memadai, praktik konservasi berbasis komunitas sulit bertahan
menghadapi tekanan luar.
Untuk memperkuat keberlanjutan dampak, direkomendasikan tiga
langkah strategis:
- Penguatan
Kerangka Hukum Adat (Yuridis): Mendorong pengakuan formal dan
implementasi yang lebih kuat terhadap hukum adat sasi di Teluk
Mayalibit, agar masyarakat Waifoi memiliki landasan legal kokoh untuk
menolak intervensi ekonomi perusak.
- Diversifikasi
Produk Ekowisata: Memperluas penawaran di Waifoi melampaui trekking
hutan, mencakup penawaran budaya Ambel Maya dan integrasi konservasi
perairan Teluk Mayalibit (seperti layanan kayak dan snorkeling).
- Pengukuran
Kinerja Dampak Jangka Panjang (Monitoring & Evaluation
Holistik): Menetapkan metrik keberhasilan yang lebih komprehensif yang
fokus pada indikator sosial (penurunan perburuan ilegal, partisipasi KTH)
dan indikator lingkungan (status kesehatan habitat kunci), melampaui
sekadar data finansial.
Pada intinya, program CSR Kilang Kasim di Waifoi adalah
investasi dalam penentuan nasib sendiri komunitas lokal. Program ini
diposisikan secara unik untuk memastikan masa depan Raja Ampat sebagai
destinasi ekowisata berkelanjutan yang kokoh, didukung oleh masyarakat yang
bertindak sebagai penjaga lingkungan yang mandiri dan terberdayakan.(ZW)