Pejabat Raja Ampat Diduga Cabuli Anak Kandung Sejak SD Aktivis Ini Kejahatan Kemanusiaan
Sorong, melanesiapost.com - Dugaan tindak pidana kekerasan seksual yang melibatkan seorang pejabat publik di Kabupaten Raja Ampat mengguncang nurani publik Papua Barat Daya Seorang perempuan berinisial VW (35) diduga kuat menjadi korban kekerasan seksual berulang kali yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri berinisial FW, yang diketahui menjabat sebagai Asisten I Pemerintah Kabupaten Raja Ampat saat Aktivis Perempuan Amankan Korban dan Dengarkan Langsung Kesaksiannya.
Tokoh perempuan adat Moi Maya, Ludia Mentasan ia mengungkapkan bahwa korban menghubunginya secara langsung untuk meminta pertolongan dan Adik korban menghubungi saya lewat pesan mensenjer FB pribadi dan minta tolong, ungkap Ludia.
Jadi Menurut Ludia bahwa permintaan pertolongan itu menunjukkan bahwa korban sudah tidak merasa aman di Raja Ampat jadi Kalau seorang perempuan sampai minta tolong seperti itu, berarti situasinya sudah sangat darurat,ujarnya
Ludia mengaku langsung mengambil keputusan cepat tanpa menunggu prosedur panjang dan Saya langsung hubungi teman teman aktivis Yang penting korban harus diamankan dulu jadi Ia juga menegaskan bahwa langkah tersebut diambil murni demi keselamatan korban jadi ini bukan soal siapa pelakunya, tapi soal nyawa dan masa depan seorang perempuan, tegas Ludia
Ia kembali mengingatkan bahwa kasus ini telah diatur jelas dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual dan Undang undang ini tidak memberi ruang kompromi jadi Selain itu Undang Undang Perlindungan Anak juga mengatur sanksi berat bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak apalagi kalau pelakunya orang tua kandung, ujar Ludia.
Aktivis perempuan mendesak aparat untuk segera menetapkan tersangka dan Tidak boleh ada penundaan dan Mereka juga meminta perlindungan maksimal bagi korban dan Korban harus dijamin aman, fisik dan mentalnya, ujarnya.
Aktivis perempuan menegaskan bahwa suara korban harus menjadi pusat perhatian dan jangan bungkam korban dengan alasan apa pun dan mereka juga menyerukan solidaritas publik dan kami minta seluruh Masyarakat harus berdiri di pihak korban,ujarnya
Ludia mengatakan bahwa kasus ini mencoreng wajah pemerintahan daerah dan Pejabat publik seharusnya jadi teladan, bukan pelaku dan Ia menilai peristiwa ini sebagai tamparan keras bagi moralitas birokrasi dan Kalau pejabat melakukan ini, ke mana rakyat harus mengadu? tanyanya
Aktivis perempuan mendesak evaluasi menyeluruh terhadap penanganan kasus kekerasan seksual di Raja Ampat dan ini bukan kasus pertama, tapi jangan sampai jadi kebiasaan kata Ludia
Mereka meminta Polda Papua Barat Daya turun tangan langsung dan kami minta intervensi agar kasus ini ditangani serius dan menurut Nova, keadilan yang lambat sama dengan ketidakadilan dan Korban sudah menunggu terlalu lama, katanya
Aktivis perempuan menegaskan komitmen untuk terus mengawal kasus ini dan Kami tidak akan berhenti di sini mereka berjanji akan mengawasi setiap tahapan proses hukum dan kami akan mengawal sampai vonis,” tegasnya.
Fakta tersebut terungkap setelah korban memberanikan diri menyampaikan kesaksiannya kepada jaringan aktivis perempuan Papua Barat Daya dan Aktivis perempuan di kota Sorong provinsi papua barat daya Nova Sroyer mengatakan bahwa pertemuan dengan korban menjadi titik balik yang membuat mereka tidak bisa lagi diam
Kami mendengar langsung cerita adik korban. Itu bukan cerita satu dua kali. Itu luka panjang sejak dia masih anak anak dan Menurut Nova, kesaksian korban disampaikan dalam kondisi mental yang sangat rapuh penuh ketakutan, dan trauma mendalam
Aktivis perempuan berharap kasus ini menjadi pembelajaran nasional dan tidak ada satu pun anak yang boleh mengalami hal seperti ini mereka meminta negara hadir sepenuhnya dan Negara tidak boleh absen, tegas Ludia
Ludia berharap korban bisa menjalani hidup tanpa rasa takut dan dia berhak hidup aman dan bermartabat dan aktivis perempuan juga mengingatkan bahwa keadilan harus berpihak pada korban bukan pelaku jangan lindungi pelaku yang harus kamu lindungi adalah korban ujar
Mereka menyerukan reformasi penanganan kasus kekerasan seksual dan sistem harus berubah hingga kini, korban masih berada dalam pendampingan aktivis dan kuasa hukum di kota Sorong provinsi papua barat daya Kami akan terus bersama korban kata Ludia
Kami Sebagai perempuan sebagai manusia, kami sangat terpukul mendengarnya dan Nova menegaskan bahwa keputusan aktivis perempuan untuk mengamankan korban adalah langkah darurat jadi Kami tidak berpikir panjang Yang kami pikirkan hanya keselamatan adik korban, katanya
Ia juga menyebut bahwa pada titik itu, korban tidak lagi merasa aman berada di lingkungan tempat ia tinggal dan Korban merasa terancam, merasa sendirian. Itu tidak boleh dibiarkan,” tegas Nova.
Aktivis perempuan kemudian membangun komunikasi intensif dengan korban untuk memastikan ia tidak menghadapi situasi tersebut sendirian jadi Kami bilang ke adik korban, kamu tidak sendiri. Banyak perempuan berdiri bersama kamu ujar Nova
Solidaritas pun datang dari berbagai kalangan perempuan, baik dari Papua maupun dari luar Papua jadi Dukungan datang dari banyak perempuan dari Tanah Papua sampai seluruh Indonesia kami sudah berkomunikasi bahkan Komnas perempuan kami suda komunikasi.
Proses pengamanan korban dilakukan dengan penuh kehati hatian agar korban tidak kembali mengalami tekanan jadi Kami pastikan korban bisa keluar dari raja Ampat situasi yang membahayakan Korban kemudian dibawa ke Sorong untuk mendapatkan pendampingan hukum dan psikologis.
Jadi Hari Jumat kemarin korban sudah bersama kuasa hukum dan Aktivis perempuan menilai bahwa negara seharusnya hadir lebih cepat dalam situasi seperti ini jadi Kalau bukan kami yang turun tangan, mungkin korban masih terjebak dalam ketakutan, kata Nova
Nova menegaskan bahwa kekerasan seksual dalam keluarga adalah bentuk kejahatan serius jadi ini bukan masalah rumah tangga lagi Ini kejahatan kemanusiaan jadi Ia menyebut bahwa kekerasan seksual oleh ayah kandung adalah pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan dan ayah seharusnya melindungi anaknya bukan melukai, tegas Nova
Aktivis perempuan juga mengkritik lambatnya penanganan awal oleh aparat penegak hukum Polresta kabupaten raja Ampat Kasus ini sudah pernah dilaporkan, tapi tidak ditindaklanjuti Menurut Ludia, keterlambatan tersebut memperparah trauma korban dan Setiap hari tanpa kepastian hukum adalah siksaan tambahan bagi korban, katanya
Ia juga mempertanyakan apakah status terduga pelaku sebagai pejabat publik menjadi penghalang penegakan hukum apakah karena dia pejabat lalu kasus ini dibiarkan? Tanya Ludia menegaskan bahwa hukum tidak boleh tunduk pada jabatan dan Hukum harus berdiri di atas semua kekuasaan, tegasnya
Nova menilai trauma korban tidak bisa diukur dengan waktu singkat dan ini luka yang dibawa bertahun tahun dan Ia kembali menekankan pentingnya pendampingan psikologis berkelanjutan dan keadilan bukan hanya soal hukuman, tapi juga pemulihan korban, ujar Nova.
Nova menyebut perjuangan ini sebagai bagian dari perjuangan panjang perempuan Papua dan ini tentang martabat perempuan Papua dan Ia menilai keberanian korban adalah langkah besar melawan budaya bungkam jadi korban sudah sangat berani,ujarnya
Mereka menolak segala bentuk upaya damai atau kompromi kasus ini tidak bisa didamaikan aktivis perempuan menilai bahwa kejahatan seksual adalah pelanggaran HAM berat karna ink ini kejahatan terhadap kemanusiaan, kata Nova
Aktivis perempuan kembali menegaskan bahwa keadilan bagi korban adalah harga mati dan tidak ada tawar menawar dan kasus ini kini menjadi ujian nyata bagi aparat penegak hukum di Papua Barat Daya: berpihak pada korban dan keadilan, atau kembali membiarkan kekuasaan mengalahkan kemanusiaan.(GK)