Pemuda Sorsel dan Suku Gemna Bangkit: Nobar Film Jadi Mimbar Penolakan PT ASI Perusak Hutan Adat
TEMINABUAN - Pemuda Sorong Selatan yang tergabung dalam Relawan Tolak Sawit menggelar pemutaran film (nobar) di Kampung Keyen, Distrik Teminabuan dan Acara sederhana namun penuh makna ini dihadiri puluhan masyarakat adat Suku Gemna Mereka dan menjadikan momentum tersebut sebagai ajang konsolidasi perlawanan dalam menjaga hutan adat untuk mempertegas sikap menolak kehadiran perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Anugerah Sakti Internusa (ASI)
Ketua Relawan Tolak Sawit Sorsel, Olland Abago dalam menyampaikan pesan pembuka dengan tegas di hadapan masyarakat yang hadir saat Pemutaran film ini ia mengatakan bahwa film sebagai media edukasi dan membangun kesadaran masyarakat adat agar tetap menjaga wilayah adat dari ancaman investasi perusak hutan dan Sebab tanpa investasi pun dan kami masyarakat adat tetap bisa hidup dan menjalani roda kehidupan jadi Kita tidak perlu tergantung pada pihak luar yang hanya datang untuk mengeruk hasil bumi
Empat film yang diputar malam itu adalah Sa Pu Hutan, Teme Na Afsya,” “Pahlawan Ekowisata Berkelanjutan di Timur Indonesia,” dan “Dokumenter Perjuangan Tolak Sawit di Sorsel 2021 dan Semua film berfokus pada perjuangan masyarakat adat mempertahankan ruang hidup mereka dari kepungan investasi di kabupaten Sorong Selatan.
Jadi Menurut Olland, film menjadi medium yang efektif untuk membangkitkan kesadaran dan Ini ruang belajar bersama Film adalah cermin perlawanan yang bisa membangkitkan semangat masyarakat adat dan Kita sudah saksikan banyak daerah hancur akibat sawit. Kita tidak mau hal yang sama terjadi di suku gemna Keyen, ujarnya
Kampung Keyen menjadi lokasi strategis karena wilayah adat Suku Gemna masuk dalam peta konsesi PT. ASI. Konsesi itu seluas 14.000 hektar, meliputi Distrik Konda dan Teminabuan, yang mencakup lima sub suku Gemna, Afsya, Nakna, Mlaqya, dan Yaben di kabupaten Sorong Selatan provinsi Papua Barat daya
Kepala Suku Gemna dalam pernyataannya menyampaikan sikap yang tak tergoyahkan Kami masyarakat adat Suku Gemna menolak dengan tegas PT. ASI untuk mengelola kelapa sawit di wilayah adat kami dan Kami menolak! Tidak ada kompromi, katanya lantang melalui pesan WhatsApp (30/9/2025).
Ia melanjutkan dengan nada penuh emosi katanya Ini negeri kami, tanah leluhur kami dan Orang luar datang hanya dengan janji janji, tapi yang mereka tinggalkan adalah kehancuran Anak anak kami yang akan jadi korban kalau hutan ini hilang Itu sebabnya sejak awal kami sudah berdiri menolak.
Dalam penjelasannya Kepala Suku Gemna menyinggung perjalanan panjang perlawanan mereka katanya Kami sudah berjalan bersama adik adik muda, relawan tolak sawit kampanye dari jalan ke jalan dan Kami tahu risikonya besar Bahkan kami dibuntuti intelijen setiap hari Tapi itu tidak menghentikan kami dan Kami tidak tidur, kami berjaga demi negeri ini, ungkapnya melalui pesan WhatsApp (30/9/2025).
Ia memperingatkan bahwa konsesi sawit berarti kehancuran dan Kalau perusahaan masuk, hutan terbakar tanah berpindah tangan dan Semua yang kami miliki akan lenyap dari tanah adat suku gemna jadi Kami tidak akan biarkan satu surat pun keluar untuk menyerahkan tanah kami kepada perusahaan,katanya keras melalui pesan WhatsApp(30/9/2025).
Nehemia Flassy, tokoh pemuda adat Gemna, memberikan gambaran lebih konkret Saya pernah lihat di Kalimantan, semua tanah habis. Sawit itu merusak tanah air, dan udara dan Tidak ada lagi tanaman tumbuh tidak ada ikan, tidak ada satwa jadi Sawit itu racun, katany melalui pesan WhatsApp (30/9/2025).
Nehemia memperingatkan jadi Kalau sawit masuk, sumber air kita hilang dan Generasi kita ke depan akan kehilangan tempat hidup. Kita tidak boleh biarkan itu terjadi dan Ia menekankan bahwa perlawanan bukan hanya soal adat, tetapi juga soal keberlangsungan generasi kami dan Bapak, ibu, jangan tidur. Kita harus terus berjaga dan Sawit ini lebih berbahaya dari yang kita kira jadi Dia tidak hanya habiskan tanah tapi juga habiskan kita sebagai manusia pemilik tanah adat, ungkapnya melalui pesan WhatsApp(30/9/2025).
Menurutnya, pengalaman Kalimantan adalah peringatan keras setelah sawit masuk, tidak ada lagi kehidupan dan Air kering tanah asam, masyarakat jadi miskin di tanah sendiri. Itu yang akan kita alami kalau kita diam jadi Nehemia menegaskan perlawanan ini bukan hanya urusan Suku Gemna tetapi Ini tanggung jawab semua generasi muda Papua Barat daya di kabupaten Sorong Selatan Kalau kita biarkan, maka anak anak kita tidak akan punya tempat tinggal Jadi kita harus berdiri bersama jangan kasih masuk perusahaan ini.
Acara nobar itu pun ditutup dengan deklarasi bersama dan Kami Suku Gemna tetap komitmen menjaga tanah adat dan Kami sudah sepakat dari awal: tidak ada sawit di wilayah adat Gemna dan Kami akan berdiri sampai akhir,” demikian isi pernyataan yang dibacakan di hadapan masyarakat adat suku gemna. Yang di terima melalui pesan WhatsApp(30/9/2025).
Ia menambahkan Kami tidak takut dengan tekanan dan kami tidak takut dengan aparat, dan kami tidak takut dengan ancaman. Kami hanya takut kalau tanah ini hilang. Itu yang membuat kami berdiri teguh
Kepala Suku Gemna mempertegas pesan akhir: Tanah ini bukan untuk dijual dan bukan untuk sawit jadi Tanah ini untuk anak cucu kami dan Kalau perusahaan tetap memaksa masuk, maka kami siap melawan sampai titik darah penghabisan katanya melalui pesan WhatsApp (30/9/2025).
Masyarakat adat Gemna menilai pemerintah daerah ikut bertanggung jawab dan Kami heran, kenapa pemerintah bisa keluarkan izin tanpa bicara dulu dengan pemilik tanah adat? Itu artinya pemerintah lebih dengar perusahaan daripada rakyatnya dan Nehemia menambahkan kritik kras Kalau pemerintah hanya jadi kaki tangan perusahaan, itu artinya pemerintah sudah lawan rakyatnya sendiri. Kita tidak akan pernah hormat pada pemerintah yang menjual tanah adat kepada investor.
Kepala Suku Gemna menambahkan bahwa Hutan bagi kami bukan sekadar pohon dan Itu rumah kami dapur kami, sekolah kami, rumah sakit kami. Semua ada di hutan. Kalau hutan hilang, kami pun hilang.
Olland menyebut kondisi itu sebagai bentuk kriminalisasi Perlawanan masyarakat adat selalu dipersekusi Padahal yang kami perjuangkan bukan untuk kami pribadi, tapi untuk generasi mendatang
Kami minta Negara harus malu kepada masyarakat adat penjaga tanah adat terbaik sepanjang masa dan Ia mengingatkan pemerintah Indonesia dan kabupaten Sorong Selatan bahwa sawit bukanlah jalan menuju kesejahteraan dan Di banyak tempat, sawit justru bikin masyarakat miskin dan Uangnya masuk ke perusahaan, hutannya habis, rakyat sengsara Itu fakta, bukan cerita, tegasnya melalui pesan WhatsApp (30/9/2025).
Olland mengingatkan generasi muda di kabupaten Sorong Selatan bahkan di seluruh tanah air Papua untuk terus menjaga api perlawanan dan Perusahaan punya uang, punya aparat, punya izin Tapi kita punya tanah adat kita punya kebenaran dan kita punya komitmen. Itu lebih kuat dari segalanya katanya melalui pesan WhatsApp(30/9/2025).
Ia menutup acara dengan seruan Kita jangan goyan Perusahaan akan coba segala cara, bahkan lewat pemerintah dan aparat Tapi kita punya tanah adat adalah hidup kita. Kalau kita kehilangan tanah, kita kehilangan hidup untuk selam lamanya
Nehemia Menurutnya, aparat keamanan pun kerap dipakai untuk mengawal kepentingan perusahaan. Setiap kali ada aksi tolak sawit aparat diturunkan Seolah olah kami ini musuh negara ini Padahal kami hanya bela tanah sendiri dan Kehadiran aparat bersenjata disebut memperkeruh suasana dan Kami sudah trauma karena Setiap kali ada perusahaan, selalu ada aparat keamanan ini Seakan akan tanah adat ini bukan lagi milik kita tapi milik perusahaan
Lebih lanjut Nehemia pun menyinggung tentang rusaknya ekosistem dan Kalau sawit masuk, air tercemar, ikan mati babi hutan hilang dan sagu di hutan adat kami tidak bisa tumbuh Itu artinya identitas kita sebagai orang Papua punya marga akan hilang. Karena kita hidup dari itu semua, katanya.melalui pesan WhatsApp(30/9/2025).
Deklarasi penolakan malam itu menjadi catatan penting dan Kami sudah sepakat bahwa tidak ada sawit di Gemna jadi Kalau pemerintah tetap memaksa kami masyarakat adat gemna dengan tegas siap lawan Kalau perusahaan coba masuk, kami halau,ujar Nehemia melalui pesan WhatsApp (30/9/2025).
Nehemia menegaskan pesan terakhir Kita tidak boleh biarkan Keyen jadi Kalimantan kedua. Kita berdiri di sini bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk masa depan anak cucu kita dan Jangan pernah mundur, karena tanah ini adalah harga diri kita.(GK)