Pengalihan Isu : LBH Kaki Abu Kecam Pembakaran Mahkota dan Pembantaian 15 Warga Sipil di Intan Jaya
Sorong, Papua barat daya - Ini bukan sekadar persoalan simbol adat yang dibakar tapi lebih dari itu ini adalah transfer isu atas membunuh manusia Papua tegas Leonardo Ijie, SH, Direktur LBH Kaki Abu Kota Sorong, pernyataan dalamnya yang mengutuk tindakan keras aparat di Intan Jaya.
Ia juga mengatakan bahwa pembakaran dan pembunuhan terhadap 15 masyarakat sipil di Intan Jaya beberapa waktu lalu adalah tindakan yang sangat keji, biadab jadi ini tindakan tidak manusiawi.
Perbuatan itu merugikan harkat dan martabat orang asli Papua dan Itu pelanggaran HAM berat dan ini tidak boleh ada toleransi terhadap pelaku, ujar Leonardo.di kota Sorong.(24/10/2025).
Jadi berpendapat bahwa peristiwa tragis di Intan Jaya tidak bisa dibiarkan begitu saja karena mencerminkan wajah militerisme yang masih menindas rakyat sipil Papua di tanahnya sendiri.
Ini bentuk kebiadaban aparat yang seolah-olah tidak punya hati nurani dan Mereka bertugas untuk melindungi, bukan membunuh rakyat, lanjutnya dengan nada tegas saat di wawancarai.
Leonardo ia juga menampilkan isu pembakaran mahkota Cenderawasih dan Kasuari dan sejumlah oknum yang diduga melibatkan anggota TNI, Polri dan BBKSDA Papua.
Kami menilai Tindakan pembakaran aksesoris budaya Papua itu saya sebut sebagai pengalihan isu yang disengaja dan Bertujuan dengan jelas mengalihkan perhatian publik dari tragedi kematian 15 warga sipil di Intan Jaya, katanya kamis 2025.
Ia juga menilai, isu pembakaran mahkota itu diangkat secara masif untuk menutupi kejahatan kemanusiaan yang jauh lebih berat yang suda dilakukan oleh negara melalui TNI-Polri yang bertugas di Intan Jaya.
Ketika orang ramai membicarakan soal mahkota yang dibakar, pembicaraan tentang 15 nyawa manusia yang hilang tiba-tiba senyap. Inilah cara kotor yang dimainkan oleh pemerintah pusat ungkap Leonardo.
Menurutnya juga bahwa pejabat Papua yang hari ini lantang mengecam pembakaran mahkota seharusnya juga berani bersuara keras menuntut keadilan bagi korban di Intan Jaya.
Saya minta kepada semua pejabat Papua, termasuk Jan Pieter Mandenas, Philip Wamafma, dan anggota MRP, jangan hanya bicara tentang simbol budaya yang dibakar panjang Bicaralah juga tentang darah manusia Papua yang ditumpahkan, katanya keras.
Leonardo menegaskan bahwa kami LBH Kaki Abu meminta agar kasus perceraian di Intan Jaya diproses secara terang benderang oleh negara dan lembaga penegak hukum, termasuk Komnas HAM RI.
Kami meminta Komnas HAM jangan diam dan Harus segera turun ke Intan Jaya dan melakukan penyelidikan secara terbuka. Ini kejahatan kemanusiaan yang tak bisa ditutup tutupi, katanya.
Ia juga menuding operasi militer yang dilakukan oleh Satgas Rajawali I, II Habema, dan Satgas 712/WT di Kampung Soanggama, Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, telah melampaui batas kemanusiaan
Kami lihat Operasi itu brutal dan tidak terukur. Sebagian besar korban adalah masyarakat sipil, bukan kombatan. Ini pelanggaran serius, tegasnya lagi.
Leonardo meminta agar operasi militer di tanah Papua harus dihentikan sementara dan dievaluasi secara menyeluruh karena telah menimbulkan banyak korban sipil di tanah Papua.
Jadi Kalau alasan operasinya adalah keamanan, maka justru keamanan masyarakat yang harus jadi prioritas dan Jangan jadikan rakyat sipil sebagai korban terus menerus, tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pelaku memanggil dan harus segera dimintai pertanggungjawaban secara hukum tanpa pandang bulu.
Jangan ada impunitas dan Negara tidak boleh melindungi pelaku kekerasan berseragam. Hukum harus berlaku bagi siapa saja, ujar Leonardo.
ia menyebarkan agar seluruh rakyat Papua tetap waspada terhadap upaya sistematis untuk membungkam isu kemanusiaan dengan cara memecah perhatian masyarakat di tanah Papua.
Jangan terkecoh dengan isu pembakaran mahkota yang terjadi di mari kita Fokus kita harus tetap pada 15 nyawa manusia yang dibantai. Itulah luka sesungguhnya Papua hari ini, tutup Leonardo Ije dengan nada tajam.( GK )