Peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia: Pemuda Sorong Selatan Soroti Ancaman Hutan Adat Lewat Film Dokumenter
Bertepatan dengan peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia, puluhan pemuda adat yang tergabung dalam relawan tolak sawit Sorong Selatan menggelar nonton dan diskusi tiga film dokumenter tentang perjuangan masyarakat adat. Acara yang diadakan di Aula GKI Markus Kohoin, Sorong Selatan, pada Sabtu (9/8/2025) malam, menjadi ruang bagi para pemuda untuk mengkritisi ancaman konsesi perkebunan sawit terhadap hutan dan tanah adat mereka.
Acara ini dihadiri oleh puluhan jemaat, aktivis, dan komunitas pemuda di Sorong Selatan. Tiga film dokumenter yang ditayangkan yakni, 'Langit Terbelah di Papua: Pelibatan TNI & Kesaksian Warga di Food Estate Merauke' dari The Gecko Project, AFSYA: Membela Hutan Adat' dari Watchdoc, dan 'Alex Waisimon, Pahlawan Ekowisata Berkelanjutan di Timur Indonesia' dari Nat Geo Indonesia.
Penayangan film-film tersebut memicu diskusi hangat dan kritis, mengungkap realitas perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan hak atas tanah dan hutan mereka.
Ketua Relawan Tolak Sawit Sorong Selatan, Hollan Abago menjelaskan alasan pemilihan tiga film tersebut. Film-film ini membangun solidaritas. Film pertama tentang Merauke, untuk menumbuhkan solidaritas dengan masyarakat adat di sana yang terancam. Film kedua, kami jadikan contoh perjuangan di Sorong Selatan yang menghadapi ancaman serupa dari perusahaan sawit. Film terakhir, menjadi bukti bahwa hutan kami adalah surga keanekaragaman hayati yang bisa menjadi sumber kehidupan tanpa investasi yang merusak, ujarnya.
Seorang perempuan adat dari jemaat GKI Markus Kohoin, Yermina Bleskadit menekankan pentingnya kegiatan serupa untuk terus membangun kesadaran. “Kegiatan pemutaran film ini harus dilakukan di setiap sub-suku di Sorong Selatan, terutama di wilayah pesisir seperti Imeko dan sekitarnya,” katanya. Ia menambahkan, "Ini untuk mengingatkan kita semua bahwa lima sampai sepuluh tahun ke depan, dampaknya akan dirasakan oleh generasi muda. Jika kita orang tua tidak meletakkan dasar yang baik, kita semua akan habis."
Kisah penjualan kayu juga diungkapkan oleh Jekson Dere, seorang pemuda adat Kais. "Film ini menunjukkan bagaimana tanah dan hutan kita dihabiskan oleh negara. Kalau hutan hilang, budaya dan identitas kita juga akan hilang," ucapnya. Dere, yang mengaku pernah terlibat dalam penjualan kayu, kini menyadari kesalahannya. "Saya dulu juga terlibat menjual kayu, sekarang saya sadar bahwa saya telah menghabiskan hutan saya sendiri. Karena masa lalu itu, untuk sekarang dan ke depan saya akan berdiri menjaga hutan dan tanah adat. Kalau tidak keras hari ini, maka akan percuma. Hanya karena uang, kami telah menjual hutan dan tanah," ujarnya.
Setelah pemutaran dan diskusi, para pemuda adat Sorong Selatan melakukan pernyataan sikap bersama. Mereka mendesak pemerintah pusat untuk segera mengesahkan Undang-Undang Masyarakat Adat. Kepada pemerintah daerah Sorong Selatan, mereka menuntut agar segera melaksanakan pemetaan dan tikar adat di seluruh wilayah, serta mengurangi laju investasi yang merugikan masyarakat adat. Pernyataan sikap tersebut ditutup dengan ucapan selamat Hari Masyarakat Adat Sedunia.
(Rabin.Y)