Seorang Ibu dan Lima Anaknya Terjepit Limbah Kandang dan Debu Perusahaan

Seorang Ibu dan Lima Anaknya Terjepit Limbah Kandang dan Debu Perusahaan

Masruroh (41), seorang janda dengan lima anak warga Jalan Udang Kelurahan Klaligi Distrik Sorong Manoi Kota Sorong, Papua Barat Daya, harus berjuang di tengah himpitan masalah lingkungan dan ekonomi yang tak mau mendapat perhatian pemerintah setempat. Ia dan anak-anaknya terancam kesehatannya akibat aroma busuk dari kandang babi dan ayam di samping rumah, serta paparan debu tebal dari perusahaan galangan kapal yang beroperasi di dekat kediamannya.

Masruroh menceritakan, masalah kandang babi di samping rumahnya sudah berlangsung lama. Ia sudah berulang kali mengadukan masalah ini ke Ketua RT dan Kelurahan, namun tak ada tindak lanjut. Pihak kelurahan hanya meminta nomor dan berjanji akan meninjau lokasi, namun janji tersebut tidak akan pernah terealisasi hingga saat ini. Bahkan, pemilik kandang babi berani datang ke rumah Masruroh untuk meminta izin menambah jumlah kandang, yang kini diperparah dengan keberadaan kandang ayam yang menempel langsung di dinding rumahnya.

“Anak-anak sering mual karena aroma bau kandang babi dan ayam yang kotor,” keluh Masruroh. Ia membandingkan dengan penanganan kasus serupa pada tahun 2004, di mana lurah saat itu langsung turun tangan meninjau lokasi.

Tak hanya itu, Masruroh juga menderita akibat paparan debu ampas dari perusahaan galangan kapal (docking) di sebelah rumahnya. Debu tersebut telah membuat perabotan rumah, termasuk atap seng, menjadi rapuh dan bocor. Meski sudah melayangkan komplain, pihak perusahaan hanya berdalih sudah mengantongi izin dan menggelar rapat dengan pihak setempat tanpa melibatkan Masruroh yang paling terdampak.

“Rumah saya yang langsung di samping perusahaan dan terus berdampak tidak diajak dalam rapat,” tegasnya.

Sebagai imbalannya, perusahaan sempat berjanji akan memberikan 15 lembar seng baru setelah meninjau kerusakan, namun janji itu pun tidak pernah terwujud. Debut perusahaan ini, menurut Masruroh, sudah semakin parah dalam empat tahun terakhir. Dampaknya, anak-anaknya sering batuk, sesak napas, dan muntah-muntah.

Di tengah kesulitan hidup tersebut, Masruroh yang bekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu juga mengaku belum pernah menyentuh bantuan pemerintah. Ia sudah beberapa kali mengecek ke kelurahan namun namanya tidak pernah terdaftar sebagai penerima bantuan seperti PKH atau Kartu Keluarga Sejahtera.

“Saya tinggal lebih dari 20 tahun di sini. Mungkin salah satunya bisa membantu meringankan biaya anak-anak yang sekolah,” harap Masruroh. Dengan kondisi yang semakin membaik, ia bahkan mulai berpikir untuk menjual rumahnya dan kembali ke kampung halaman bersama anak-anaknya.

(Tim Redaksi)