Pertanian Tambrauw Dorong Minyak Nilam Jadi Andalan Ekonomi Baru
Sorong, Papua Barat daya - Sekretaris Pertanian Kabupaten Tambrauw, Yulianus Semuanya, SP, menyampaikan bahwa program pengembangan tanaman nilam yang sudah dimulai sejak 2013 kini mulai menunjukkan hasil positif bagi masyarakat dikabupaten tambrauw saat telepon selulernya kepada media ini.(17/9/2025).
"Sejak 2013 kami sudah mendampingi masyarakat untuk menanam nilam. Prosesnya panjang, mulai dari pembentukan kelompok sampai ke panen. Baru sekitar tahun 2018 masyarakat mulai bisa merasakan manfaatnya,” kata Yulianus di Tambrauw dan Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 15 kelompok tani yang aktif menanam nilam. Dari jumlah tersebut, 10 kelompok sudah menghasilkan minyak nilam yang bisa dijual.
Jumlah kelompok terus bertambah. Mereka terbentuk dalam kelompok, tapi banyak juga yang menanam secara perorangan. Hasilnya cukup baik dan memberikan penghasilan tambahan,” jelasnya dan Yulianus menambahkan, nilai jual minyak nilam cukup tinggi sehingga masyarakat merasa terbantu. Harga jualnya di pasaran mencapai Rp600 ribu sampai Rp700 ribu per liter. Pembeli juga datang langsung ke Tambrauw untuk mengambil hasil panen,” ujarnya dan Ia menjelaskan, Tambrauw kini mulai dikenal sebagai daerah penghasil minyak nilam dengan kualitas yang bagus, bahkan bisa bersaing dengan daerah lain yang lebih dulu terkenal.
Kalau dulu Aceh yang dikenal sebagai penghasil minyak nilam, sekarang kualitas Tambrauw juga diakui. karena kondisi tanah kita yang mendukung,” katanya, jadi Pemerintah daerah menurut Yulianus sudah mulai merancang agar ke depan Tambrauw tidak hanya menjual bahan mentah, melainkan bisa mengolah hasilnya sendiri dan Kami sudah diskusi dengan dinas terkait untuk membangun pabrik pengolahan. Kalau ini terwujud, maka tenaga kerja lokal bisa terserap, PAD Tambrauw bertambah, dan masyarakat lebih sejahtera,” ungkapnya. Melalui sambungan telepon saat di tanya media ini (17/9/2025).
Yulianus mengakui masih banyak kendala yang dihadapi, terutama keterbatasan alat penyulingan "Kendalanya banyak, terutama alat penyulingan yang jumlahnya terbatas. Banyak kelompok sudah panen tapi bingung mau olah di mana. Kami berharap dukungan dari provinsi maupun kementerian", katanya dan Sebagian kelompok ada yang sudah memiliki alat penyulingan sendiri, ada juga yang mendapatkan bantuan dari dinas. Namun jumlahnya belum cukup untuk menjawab kebutuhan semua kelompok dan Kalau ada dukungan lebih besar, produksi nilam di Tambrauw bisa berkembang lebih cepat dan memberi dampak ekonomi lebih luas,” pungkas Yulianus. Red