Wartawan Melanesia Post Tekankan Etika dan Fakta dalam Dunia Jurnalistik di Kegiatan PPAB GMNI Sorong Selatan

Wartawan Melanesia Post Tekankan Etika dan Fakta dalam Dunia Jurnalistik di Kegiatan PPAB GMNI Sorong Selatan

Teminabuan - Suasana aula kegiatan Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) ke-IV, Kaderisasi Tingkat Dasar, dan Konferensi Cabang I Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sorong Selatan tampak hidup dan serius saat wartawan Melanesia Post dan Eskop Wisabla, membawakan materi bertema motivasi menulis di dunia wartawan.

Jadi Saya lihat suasana peserta itu sangat penasaran dan antusias jadi Mereka benar benar ingin tahu bagaimana cara menulis yang baik, membedakan tulisan wartawan dengan tulisan biasa, serta bagaimana menjaga keakuratan informasi, ujar Eskop Wisabla di hadapan puluhan mahasiswa peserta PPAB.

Ia juga menjelaskan bahwa menulis bukan sekadar menuangkan kata-kata, tetapi merupakan tanggung jawab moral untuk menyampaikan kebenaran dan Setiap tulisan membawa pesan. Karena itu, wartawan harus jujur dan berpegang pada fakta, tegasnya.

Menurut Eskop juga bahwa semua orang bisa menulis, tetapi tidak semua mampu menulis dengan benar dan Kita bisa menulis status di media sosial, tapi wartawan dituntut menulis dengan struktur, akurasi, dan tanggung jawab. Itu yang membedakan tulisan wartawan dengan tulisan biasa, katanya.

Dalam pemaparan materinya, Eskop juga menekankan pentingnya metode 5W+1H dalam setiap penulisan berita. Apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana harus selalu dijawab dalam setiap laporan dan Kalau tidak lengkap, maka informasi itu bisa menyesatkan, ujarnya.

Ia juga menyinggung peran wartawan sebagai penyambung lidah masyarakat jadi Wartawan itu bukan sekadar penulis. Ia adalah jembatan antara suara rakyat dan publik luas dan Maka wartawan harus sadar tanggung jawabnya,” tutur Eskop.

Salah satu peserta, Mery Segetmena, mahasiswi Universitas Werisar jurusan PGSD semester I, mengajukan pertanyaan tentang perbedaan tulisan wartawan dan tulisan biasa dan Kalau tulisan biasa itu seperti posting di media sosial yang tidak dikontrol oleh kode etik,” jawab Eskop dan Tapi tulisan wartawan harus terstruktur, jelas sumbernya, dan mematuhi kaidah jurnalistik.

Ia juga menambahkan, semua tulisan wartawan tidak boleh asal. “Tulisan wartawan wajib diverifikasi, tidak bisa berdasarkan asumsi. Karena berita yang tidak sesuai dengan fakta bisa menimbulkan fitnah, tegasnya.

Peserta lain, Leonardo Mlik, saat mengikuti materinya ia juga menanyakan soal berita yang tidak sesuai dengan fakta lapangan. “Kalau saya saksi mata dan sudah memberi keterangan benar, tapi wartawan menulisnya berbeda, itu termasuk fakta atau opini?”tanya Leonardo.

Eskop menjawab tegas, bahwa Kalau wartawan menulis tidak sesuai dengan sumber pertama atau saksi utama, berarti itu sudah opini. Karena ia tidak menulis berdasarkan fakta yang sebenarnya.”

Jadi Menurutnya, banyak kasus seperti itu terjadi karena wartawan sering mengutip informasi dari sumber kedua atau ketiga tanpa verifikasi langsung jadi Inilah penyakit media kita sekarang dan Wartawan harus turun langsung, melihat sendiri, dan mendengar langsung,” ujarnya.

Dalam sesi tersebut saya melihat suasana diskusi berlangsung hangat dan serius jadi Saya lihat bung dan Sarina mahasiswa punya rasa ingin tahu yang tinggi dan Mereka sadar bahwa menulis adalah bagian dari perjuangan,” kata Eskop.

Ia juga mengingatkan bahwa pentingnya menulis untuk menyembuhkan luka sosial. Jadi Saya bilang, kita di tanah Papua punya banyak luka dan cerita. Kalau tidak kita tulis, siapa lagi yang tahu? Dunia harus tahu lewat tulisan kita,” ungkapnya.

Eskop juga menuturkan, awalnya ia tidak pernah membayangkan akan menjadi wartawan. “Saya mulai menulis karena ingin menyuarakan keadilan dan Dari situ, saya belajar bahwa tulisan bisa mengubah banyak hal,” katanya.

Ia juga menegaskan, wartawan sejati harus memiliki semangat membaca dan menulis sejak dini dan Menulis jadi ia harus membaca itu tidak bisa dipisahkan. Wartawan yang baik adalah mereka yang haus akan informasi dan tidak berhenti belajar,” jelasnya.

Selain membahas teknik menulis, Eskop juga menyinggung kode etik jurnalistik dan Wartawan harus tahu batas. Tidak semua yang dilihat bisa ditulis. Ada aturan, ada keseimbangan antara hak publik dan hak pribadi, ujarnya.

Menurut Eskop, juga berita yang baik adalah berita yang informatif dan edukatif dan Wartawan tidak boleh hanya mengejar sensasi. Tugas kita adalah mendidik publik dengan informasi yang benar,” katanya.

Ia juga mengajak mahasiswa agar berani menulis dari hal hal kecil dan Mulailah dari lingkungan sekitar. Tulis pengalaman, masalah sosial, atau kisah masyarakat. Dari situ kita belajar mengasah kepekaan,” ujar Eskop.

Di akhir materinya, ia menegaskan kembali makna peran wartawan dalam demokrasi dan Wartawan itu pilar demokrasi jadi Ia mewakili suara rakyat lewat tulisan. Jadi aksi yang paling bermakna adalah aksi yang menulis,” pungkasnya.

Ketua Panitia Yotam Syenen menyampaikan apresiasi atas materi tersebut dan Kami tidak menyangka antusias peserta akan sebesar ini. Materi motivasi menulis ini membuka pandangan baru bagi kader muda GMNI,” ujarnya.

Sementara Karateker Ketua DPC GMNI Sorong Selatan, Obaja Wasflesa, ia menambahkan Apa yang disampaikan Bang Eskop sangat relevan. Kader GMNI harus berani bersuara dan menulis, karena perubahan besar dimulai dari pena./Redaksi