20 Pemandu Wisata di Sorong Ikuti Pelatihan Sertifikasi Kompetensi
Sebanyak 20 pemandu wisata lokal di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, mengikuti pelatihan sertifikasi kompetensi untuk meningkatkan kualitas layanan bagi wisatawan asing. Pelatihan yang berlangsung di Aimas, pada Selasa (19/8/2025), ini bertujuan menghasilkan pemandu wisata yang profesional dan memiliki legalitas resmi.
Peserta pelatihan berasal dari empat wilayah, yakni Distrik Aimas, Kampung Malaumkarta, Kampung Malagufuk, dan Kampung Malasigi. Mereka adalah pemandu yang selama ini aktif mendampingi turis mancanegara, terutama untuk wisata pengamatan burung.
Pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sorong ini berlangsung selama dua hari, dari tanggal 19 hingga 20 Agustus 2025, dengan metode pemaparan materi pada hari pertama dan praktik lapangan pada hari kedua. Pemaparan materi dilakukan oleh Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Sorong, dan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pramindo, serta menghadirkan sejumlah narasumber dan asesor kompeten.
Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sorong, Murtoyo, mengatakan pelatihan ini penting untuk memastikan setiap pemandu wisata memiliki pengetahuan mendalam, mulai dari sejarah singkat destinasi, jarak tempuh, hingga etika saat memandu. “Tujuan utama kegiatan ini adalah tersedianya SDM (Sumber Daya Manusia) yang siap memandu wisatawan mancanegara dan lokal,” ujar Murtoyo.
Menurut Murtoyo dengan adanya sertifikasi, pemandu memiliki legalitas yang membuat wisatawan merasa aman dan nyaman.
Sementara itu, Plt. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Sorong, Dr. Wa Ode Likewati, yang membuka kegiatan mewakili bupati Sorong, menekankan peran pemandu wisata sebagai garda terdepan pariwisata. “Tugas pemandu sangat kompleks. Mereka harus cermat dalam merencanakan perjalanan, memberikan layanan prima yang ramah, profesional, serta memiliki kemampuan komunikasi yang baik,” ungkap Wa Ode Likewati.
Salah satu peserta, Ria Kamesok, mengungkapkan bahwa pelatihan ini sangat penting sebagai "lisensi" atau bentuk kepercayaan bagi turis asing. "Ini sangat penting, seperti lisensi bagi kami. Jadi, tamu bisa percaya bahwa kami mampu memandu dengan baik," kata Ria.
Ria juga berbagi pengalamannya tentang tantangan di lapangan, salah satunya adalah hambatan bahasa. Ia sering kali harus belajar bahasa asing lain di luar bahasa Inggris untuk dapat berkomunikasi dengan turis. "Setiap tamu punya karakter berbeda, ini menuntut kami untuk bisa beradaptasi dan membangun suasana yang nyaman," tambahnya.
(Rabin.Y)