Air Paksa Kami Pulang”: Pelajar Tambrauw Terjebak Banjir Kali Apriri, Akses Pendidikan Lumpuh
Sorong Puluhan pelajar dari Kampung Ajami, Waripi, dan Waumi kembali gagal berangkat sekolah setelah Kali Apriri di Distrik Kebar kabupeten Tambrauw provinsi Papua Barat daya Setia meluap dan menutup akses jalan utama pada Selasa pagi dini hari Banjir yang sudah menjadi langganan tahunan itu kembali menegaskan betapa rapuhnya infrastruktur pendidikan di Kabupaten Tambrauw
Selamat pagi. Kami anak anak SMA, SMP, sampai SD mau jalan ke sekolah, tapi kali Apriri banjir lagi,” kata Yanto Ajami, pelajar SMK Negeri 3 Tambrauw melalui sambungan teleponnya.(18/11/2025).
Ia menegaskan bahwa banjir ini bukan pertama kali, dan semua anak sekolah di wilayah tersebut sudah sangat hafal pola bencana itu dan Kalau hujan deras, kami sudah tahu. Sudah pasti besok kali naik dan kami tidak bisa lewat dan Yanto menyebut Kali Apriri sebagai salah satu titik tersulit bagi pelajar yang berjalan kaki setiap hari untuk ke sekolah jadi Ini kali Apriri ada di Distrik Kebar kabupaten tambrauw provinsi Papua Barat daya Setiap hujan deras, pasti banjir. Tidak pernah gagal
Ia juga mengatakan bahwa pemerintah seakan akan sudah terbiasa membiarkan situasi ini tanpa ada ikhtiar nyata memperbaiki akses dan Kami hanya bisa berdiri dan lihat air naik. Tidak ada jembatan, tidak ada jalan alternatif. Kami hanya bisa pulang katanya tegas dan Yanto menegaskan bahwa para pelajar bukan meminta hal berlebihan, hanya akses aman untuk bersekolah dan Kami minta bantuan pemerintah, mohon bangun jembatan. Kami mau sekolah aman, itu saja, katanya
Ia juga mengatakan kondisi hari ini adalah bukti bahwa masalah infrastruktur Tambrauw sangat mempengaruhi masa depan pendidikan anak-anak di pedalaman dan Ini hari biasa, bukan ulangan atau ujian, tapi tetap saja kami rugi. Satu hari belajar hilang lagi,” ujarnya.
Pelajar dari SMP Negeri 9 Kebar dan SD Inpres 18 Akmuri yang ikut terjebak banjir pun ikut menyampaikan suara mereka dan Kami dari Ajami, Waripi, dan Waumi. Setiap hujan, kami siap gagal sekolah. Sudah biasa, tapi tetap sakit hati dan Menurut mereka, pemerintah hanya datang saat acara seremonial, tetapi masalah nyata seperti akses pendidikan di kampung tidak pernah disentuh jadi Kalau ada kegiatan besar, pejabat datang. Tapi masalah kami, yang kami hadapi tiap hari, tidak pernah dilihat,” katanya.
Yanto Ajami. Menurut Mereka sebenarnya semangat belajar anak-anak di kampung sangat tinggi, tetapi alam seperti tidak memberi kesempatan karena infrastruktur minim dan Kami mau belajar. Kami bangun pagi pagi, jalan kaki jauh. Tapi air yang tentukan nasib kami hari ini,
Kondisi itu menurut mereka bukan hanya mengganggu belajar, tetapi mengancam keselamatan dan Kalau air naik begini, arusnya kuat sekali. Bahaya. Kami tidak berani seberang. Ini bukan soal terlambat sekolah, ini soal hidup mati,” kata Yanto.
Para pelajar mengaku sering menyaksikan teman-teman mereka memaksakan diri menyeberang karena takut absen dan Kami pernah lihat anak-anak paksa seberang. Mereka hampir jatuh. Kalau jatuh, habis sudah. Tapi kami takut juga dimarahi kalau tidak sampai sekolah dan Mereka berharap pemerintah tidak menunggu sampai ada korban jiwa baru bergerak dan Jangan tunggu kami ada yang hanyut dulu baru bangun jembatan. Kami masih anak anak tolong lihat kami, ujarnya
Para pelajar juga mempertanyakan prioritas pembangunan di Tambrauw yang selama ini lebih banyak diarahkan ke kantor besar dan acara protokoler dan Gedung pemerintah bisa bangun besar besar. Tapi jembatan kecil untuk kami sekolah saja tidak ada. Itu bagaimana?”
Mereka menilai pembangunan tidak berpihak pada masyarakat kampung yang setiap hari berhadapan langsung dengan alam tanpa fasilitas pendukung dan Kami tidak minta bangunan mewah jadi Kami cuma minta satu jembatan supaya pendidikan kami tidak terputus-putus,” tegas Yanto.
Mereka berharap suara mereka sampai ke pemerintah daerah, provinsi, bahkan pusat dan Kalau benar pendidikan itu penting, tolong buktikan Jangan hanya bicara di atas kertas,” Kami perlu jembatan sekarang. Bukan nanti. Bukan tunggu banjir berikutnya. Tapi sekarang. Karena kami mau sekolah, tapi air selalu paksa kami pulang,” tutup Yanto Ajami.