Atlet Perkemi Papua Barat Raih Emas di PON Bela Diri Kudus, Ketua Daud Korokai Soroti Keterbatasan Fasilitas
KUDUS – Kontingen Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (Perkemi) Papua Barat berhasil menorehkan prestasi tinggi dengan meraih satu medali emas dan satu medali perunggu dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela Diri di Kudus, Jawa Tengah. Namun, di balik keberhasilan ini, Ketua Perkemi Papua Barat, Daud Korokai, saat diwawancarai via telepon menyoroti adanya kendala serius terkait fasilitas dan kelengkapan atlet selama persiapan hingga pelaksanaan pertandingan.
Kontingen Perkemi Papua Barat mengikuti 19 nomor pertandingan dengan melibatkan 15 atlet—terdiri dari 8 atlet putri dan 7 atlet putra—serta didampingi oleh 7 orang tim official.
“Untuk hasil, kita meraih dua medali,” ujar Daud Korokai. Yang pertama, Medali Emas diraih oleh Kelvin Saweri di nomor Randori Kelas 75 kg putra. Kemudian, Medali Perunggu dipersembahkan oleh Kristin Silubun di Kelas 55 kg Putri.
Ketua Perkemi Papua Barat Daud Korokai mengungkapkan bahwa sejak masa Training Camp (TC) hingga tiba di Kudus, kontingen menghadapi kendala besar terkait fasilitas dan peralatan keselamatan atlet. Kurangnya ini dinilai berisiko tinggi mengingat kempo adalah cabang bela diri.
“Perjuangan atlet ini bukan main-main. Ada konsekuensi cedera, korban kasus rusak, ini adalah pertarungan bela diri, bukan seperti main catur,” tegas Korokai.
Ia menjelaskan bahwa hingga pertandingan berlangsung, banyak peralatan pertandingan yang seharusnya disediakan oleh pihak penyelenggara atau pemerintah daerah, masih dimiliki secara pribadi oleh masing-masing atlet (milik mereka masing-masing).
“Memang sempat diminta untuk menyiapkan (peralatan), tetapi dengan jumlah yang banyak dan waktu yang sedikit, susah untuk bisa disiapkan dalam waktu dekat. Jadi akhirnya, kami turun dengan apa adanya, dengan kekurangan dan keterbatasan,” ungkapnya.
Korokai berharap, pihak Pemerintah Papua Barat dan KONI dapat memberikan perhatian serius atas kendala ini, terutama terkait uang saku atlet yang belum sepenuhnya terpenuhi.
“Kami berharap bahwa pemerintah, bahkan KONI, bisa segera membantu menyetarakan hak-hak mereka (atlet). Mereka sudah menjalankan tugas sampai hari ini, tapi hak-hak mereka belum terpenuhi. Uang saku adalah kebutuhan pribadi mereka selama di sini dan untuk keberangkatan, yang tidak bisa kami siapkan,” jelasnya.
Meski menyoroti kekurangannya, Daud Korokai juga menyampaikan apresiasi atas dukungan yang telah diberikan KONI Papua Barat
“Kami berterima kasih karena KONI sudah memfasilitasi tempat latihan di Sorong, penginapan, serta penerbangan dari Sorong ke Kudus. Tiket pesawat, perjalanan yang baik, sampai di Kudus, Dukungan di transportasi ini sudah cukup baik, termasuk makan dan minum juga sudah disupport oleh pihak KONI,” katanya.
Menurutnya, dukungan yang diberikan tersebut sudah cukup dirasakan manfaatnya oleh kontingen.
Melihat keberhasilan yang diraih, Daud Korokai memandang perlunya persiapan yang lebih matang di masa depan.
“Harapan kami, karena event ini terus berjalan, persiapan ke depan, seperti menghadapi PON 2027 dan event lainnya, sudah harus kita persiapkan atlet-atlet dari sekarang,” tutur Korokai.
Ia berharap, segala kekurangan fasilitas yang terjadi saat ini dapat dipersiapkan jauh-jauh hari agar atlet merasa nyaman dan fokus dalam bertanding.
"Atlet harus merasa nyaman dengan segala kebutuhan dan fasilitas yang bisa mereka gunakan, yang bisa mereka pakai untuk menorehkan prestasi yang lebih baik lagi," tutupnya.( ZW )