BBKSDA dan WWF Gelar Knowledge Sharing Penggunaan Teknologi Canggih untuk Konservasi di Tanah Papua
SORONG – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) bekerja sama dengan World Wide Fund for Nature (WWF) menyelenggarakan kegiatan "Knowledge Sharing Penggunaan Passive Acoustic Recording (PAR) dan Camera Trap (CT) untuk Mendukung Pelestarian dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati di Tanah Papua."
Acara ini berlangsung selama empat hari, mulai dari 23 hingga 26 September 2025, bertempat di Ruangan Orion, Lantai 2, Vega Hotel Sorong. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan berbagi pengetahuan mengenai metode pengumpulan data keanekaragaman hayati menggunakan teknologi modern.
Dalam sambutannya, Kepala BBKSDA, Genman Suhefti Hasibuan, menyampaikan harapannya agar kegiatan knowledge sharing ini dapat menghasilkan banyak pengetahuan baru, terutama terkait teknik pengumpulan data keanekaragaman hayati yang efektif.
"Dalam kegiatan ini harapannya akan terjadi banyak pengetahuan terkait dengan pengumpulan data keanekaragaman hayati di Tanah Papua. Saya yakin begitu, baik di tingkat masyarakat, tentunya apalagi dengan teman-teman WWF sudah banyak pengalaman terkait dengan pengambilan dan pengumpulan data terutama keanekaragaman hayati," ujar Genman.
Teknologi seperti Passive Acoustic Recording (PAR), yang merekam suara satwa secara otomatis, dan Camera Trap (CT), yang memotret pergerakan satwa liar, menjadi instrumen penting untuk memonitor populasi dan distribusi spesies secara non-invasif di hutan Papua yang luas.
Genman juga menyoroti peran penting masyarakat lokal dalam upaya konservasi dan pengumpulan data. Ia menekankan bahwa pengetahuan yang dimiliki penduduk asli tentang kondisi lapangan dan distribusi jenis satwa tertentu sangat berharga.
"Mungkin masyarakat sebagai penduduk lokal dapat memahami, lebih mengetahui situasi lapangan, dan bahkan jenis-jenis tertentunya itu masyarakat lebih paham di mana distribusinya," tambahnya.
Melalui knowledge sharing ini, diharapkan sinergi antara keahlian teknis dari para konservasionis dan kearifan lokal masyarakat Papua dapat diperkuat, menghasilkan data yang lebih akurat dan komprehensif untuk mendukung perencanaan pelestarian keanekaragaman hayati di Tanah Papua.