Investasi Ekstraktif Ancam Identitas Pangan Orang Moi

Investasi Ekstraktif Ancam Identitas Pangan Orang Moi

Sorong, – Budaya pangan masyarakat adat Moi, penduduk asli pemilik tanah adat di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, mulai mengalami perubahan signifikan akibat masifnya hadirnya investasi industri ekstraktif seperti perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. Pergeseran ini, yang awalnya dekat dengan sagu sebagai identitas lokal, kini mulai digantikan oleh nasi dan mi instan.

Hal ini diterima dalam diskusi hasil riset bertajuk “Malamoi: Budaya Pangan, Tanah, dan Identitas” yang digelar di Kota Sorong, pada Jumat (17/10/2025), bertepatan dengan perayaan Hari Pangan Internasional. 

Investasi ekstraktif dituding merampas hak wilayah dan hak hidup Orang Moi, menyebabkan hutan sagu dan tempat berburu hilang, serta meminggirkan masyarakat adat dari sumber pangan tradisional mereka.

Ayub R. Paa, perwakilan Masyarakat Adat Moi Kelim, membenarkan temuan penelitian tersebut. Menurutnya, budaya pangan yang diangkat ini terlihat jelas ketika makanan pokok Orang Moi yang semula sagu kini berganti menjadi nasi dan mi instan, bahkan menjadi makanan favorit anak-anak.

“Dalam penelitian itu disinggung soal keretakan metabolik, kalau dilihat dengan apa yang terjadi sekarang ini memang benar. Padahal kita sudah punya Perda Nomor 10 Tahun 2017 soal perlindungan dan pengakuan MHA di Sorong, tapi tetap saja kita kalah dengan investasi. Tanah-tanah hilang,” ujar Ayub dalam diskusi tersebut.

Ayub tekanan bahwa hilangnya tanah adat, yang disebutnya sebagai bagian integral dari marga dan identitas Orang Moi, berakhir pada hilangnya budaya, pangan, dan eksistensi Orang Moi. Ia mendesak agar masyarakat sadar akan dampak investasi ekstraktif dan memastikan adanya persetujuan yang benar jika ada pelepasan tanah.

Sementara itu, peneliti sekaligus penulis buku “Malamoi: Budaya Pangan, Tanah, dan Identitas,” Zuhdi Siswanto, menjelaskan pergeseran budaya pangan ini dapat dilihat dari piring makan Orang Moi di mana sagu harus disandingkan dengan nasi. Menurutnya, keretakan ini berimplikasi pada metabolisme Orang Moi dan disebabkan oleh penjualan tanah.

Temuan penelitian Zuhdi juga menyoroti peran sentral perempuan Moi. Perempuan merupakan penjaga utama budaya pangan, dekat dengan hutan untuk meramu, berkebun, dan mengolah makanan. Namun, ironisnya, peran ini sering terabaikan saat pengambilan keputusan pelepasan tanah ke perusahaan.

"Distribusi sagu, pisang, kasbi, keladi, sayur gedi, dan pakis semuanya berasal dari tangan-tangan perempuan. Tapi sekarang kedekatan itu hilang. Alat berat lah yang paling dekat sekarang dengan hutan dan alam. Bukan manusianya lagi. Dan ketika tanah dijual, perempuan lah yang jadi korbannya," kata Zuhdi.

Melianus Ulimpa, perwakilan pemuda adat Moi, khawatir hilangnya tanah marga yang berganti menjadi sawit dan tambang akan membuat generasi muda kehilangan identitas dan budaya Orang Moi. Ia juga menegaskan bahwa pergeseran budaya pangan sangat terlihat dari kehidupan para perempuan Moi di kampung.( RY )