Mahasiswa Walak Di Sorong Gelar diskusi Publik Dibekali Ilmu  Kemandirian Ekonomi Berbasis Kearifan Lokal

Mahasiswa Walak Di Sorong Gelar diskusi Publik Dibekali Ilmu Kemandirian Ekonomi Berbasis Kearifan Lokal

Kota Sorong Ikatan keluarga Besar Suku Walak di Kota Studi Sorong menggelar diskusi bertempat di Asrama  Walak km 10 masuk Jln TPU kota Sorong Papua Barat Daya, senin (10/11/2025). 

Tema" Tantangan dan Peluang dalam Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Berbasis Kearifan Lokal Mahasiswa Papua Pegunungan di Kota Sorong"

Upaya mewujudkan kemandirian ekonomi berbasis kearifan lokal menjadi fokus utama mahasiswa asal Papua Pegunungan yang sedang menempuh pendidikan di Kota Sorong. Dalam diskusi terbuka yang digelar di Asrama Mahasiswa Walak,para mahasiswa membahas berbagai tantangan dan peluang dalam mengembangkan potensi ekonomi yang berakar dari nilai-nilai budaya dan tradisi leluhur.

Kordinator Diskusi Alex Karoba, menyampaikan kepada wartawan bahwa diskusi tentang tampak serius dan suasana hikmah diikuti oleh puluhan mahasiswa Papua pegunungan dari berbagai asrama serta perwakilan komunitas mahasiswa di Kota Sorong. 

" kegiatan ini merupakan upaya meningkatkan kesadaran mahasiswa Papua untuk berpikir mandiri dan berdaya dalam membangun masa depan ekonomi yang berakar pada kearifan lokal,"ujarnya.

Kata dia,Kami ingin mahasiswa Papua belajar melihat peluang di sekitarnya dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Tidak hanya berpikir instan tapi  mengembangkan diri pola pikir kemandirian dan langkah-langkah kecil penting untuk dilakukan agar itu menuju keberhasilan yang besar. 

Diskusi tersebut menghadirkan narasumber yang kompoten pada bidangnya yaitu Franky Umpain, selaku tokoh LMA PBD dibantu oleh Moderator  Alfrianto S. Karoba, penyampaian materi itu Franky menegaskan pentingnya menggali potensi ekonomi lokal di tengah perubahan sosial yang cepat.

 “Mahasiswa harus jadi motor penggerak ekonomi berbasis budaya dan potensi lokal. Kita punya banyak sumber daya  tinggal bagaimana dikelola dengan cara yang kreatif,” kata pemateri itu kepada seluruh mahasiwa yang hadir itu.

 Selama sesi berlangsung, para peserta tampak antusias memberikan pertanyaan dan gagasan. Terlihat  peserta menghidupkan diskusi itu dan saling berinteraksi sharing Knowledge, Diskusi berjalan hangat dan produktif, menghasilkan berbagai ide pengembangan ekonomi lokal seperti kewirausahaan berbasis hasil alam, pelatihan keterampilan, hingga penguatan koperasi mahasiswa. 

Ketua IKBSW Nius Karoba mengakui, kami menilai pelaksanaan kegiatan berjalan lancar dan transparan. Dari sisi pengelolaan dana, semua proses disampaikan terbuka kepada peserta, menjadi contoh tanggung jawab organisasi mahasiswa yang baik.

“Kami senang karena kegiatan ini tidak hanya bicara teori, tetapi juga membangkitkan semangat kebersamaan dan tanggung jawab sosial antar mahasiswa Walak,"tambahnya.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan foto kenangan seluruh peserta. Menurutnya  hasil diskusi dapat menjadi dasar bagi gerakan mahasiswa Papua dalam membangun kemandirian ekonomi yang berpihak pada masyarakat lokal. Semoga kegiatan ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berpikir maju tanpa meninggalkan budaya sendiri," Tuturnya. 

mahasiswa Papua Pegunungan memiliki tanggung jawab moral untuk tidak hanya menempuh pendidikan formal, tetapi juga menumbuhkan semangat berwirausaha yang berpijak pada budaya lokal. mahasiswa bisa mandiri secara ekonomi tanpa meninggalkan jati diri budaya. Kearifan lokal seperti hasil kerajinan, kuliner, dan produk alam bisa menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan. 

Mahasiswa Walak ini menyampaikan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, kampus, dan komunitas mahasiswa dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang berpihak pada nilai-nilai kultural. Kearifan lokal adalah fondasi yang kuat untuk membangun ekonomi kreatif. Namun, mahasiswa perlu dibekali keterampilan manajemen dan digital marketing agar produk mereka mampu bersaing. (EW)