Majelis Gereja Kecam Pemindahan Tapol Papua ke Makassar

Majelis Gereja Kecam Pemindahan Tapol Papua ke Makassar

Majelis Gereja Bukit Zaitun di Sorong mengecam keras transfer empat tahanan politik (tapol) dari Negara Republik Federal Papua Barat (NRFPB) ke Makassar. Dua dari empat tapol yang dipindahkan adalah Abraham Goram dan Piter Robaha, yang merupakan majelis gereja.

Saat aksi protes di kantor Gubernur Papua Barat Daya pada 22 Agustus 2025, Sance Kocou Karsau, perwakilan majelis gereja, menyatakan bahwa tindakan negara ini "melawan Tuhan." Ia menekankan bahwa tersingkir dan dipindahkannya para tapol—yang dianggapnya sebagai tindakan menindas umat Tuhan—adalah bentuk kesombongan kekuasaan. Sance menegaskan bahwa gereja akan terus berdiri di pihak rakyat dan tidak akan tunduk pada kekerasan.


Sementara itu, massa aksi yang terdiri dari rakyat dan pelajar Papua melakukan aksi unjuk rasa, membawa spanduk, dan membakar larangan sebagai simbol kekecewaan. Mereka menilai pemindahan tapol ini sebagai upaya negara untuk memutus solidaritas dan dukungan keluarga terhadap aktivisme. Massa juga mengungkapkan kekecewaannya secara mendalam karena Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, tidak hadir menemui masa aksi.

Kepala Dinas Perhubungan Papua Barat Daya, Viktor Salossa, yang mewakili gubernur, menjelaskan bahwa gubernur sedang berada di Jakarta. Pernyataan ini menuai protes dari massa yang menuduh pemerintah mengabaikan penderitaan rakyat Papua dan lebih mementingkan urusan lain.

Aksinya berakhir dengan damai, namun Sance menegaskan bahwa semangat rakyat Papua tidak bisa dipenjara. Ia menambahkan bahwa gereja dan rakyat akan terus melawan ketidakadilan.

(Gamaliel.K)