“Orang Papua Harus Jadi Tuan di Tanah Sendiri Lewat Bisnis”: Pekan Apresiasi Budaya Domberai Hidupkan Semangat Ekonomi Adat
Sorong, melanesiapost.com - Pekan Apresiasi Budaya Domberai resmi digelar di Rumah Etnik Papua, Kabupaten Sorong. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi kebangkitan wirausaha dan pelestarian budaya masyarakat adat di wilayah Papua Barat Daya.(11/11/2025).
Andre Maryen, dari Melanesian Store, menjelaskan bahwa kegiatan ini digelar di tempat yang sepenuhnya dimiliki dan dikelola oleh orang asli Papua dan Jadi pekan apresiasi budaya ini dilaksanakan di tempat yang merupakan usaha dari orang asli Papua, yaitu Rumah Etnik, Papua punyanya kakak M wanma, ujar Andre.
Tempat ini milik orang asli Papua, dan penyelenggaranya juga orang asli Papua dari Domberai, tim produksinya yang kerja bikin panggung dan dekor pun orang asli Papua. Pesertanya orang asli Papua, bahkan pelatihnya adalah pengusaha pengusaha asli Papua
Jadi Menurut Andre, kegiatan ini merupakan pelatihan peningkatan kapasitas kewirausahaan bagi pemuda adat, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Pekan Apresiasi Budaya Domberai dan Kegiatan ini tujuannya meningkatkan pemahaman dan kapasitas pemuda adat dalam berwirausaha, jelasnya
Bahasa saya jelas orang Papua harus menjadi tuan di tanah sendiri. Dan jalurnya itu lewat bisnis, menjadi pengusaha dan pelaku usaha dan Ia menjelaskan, kegiatan yang berlangsung selama lima hari ini akan melibatkan berbagai komunitas adat dari wilayah Domberai meliputi suku Tehit Abun, Moi, Maybrat hingga Raja Ampat
Ini kegiatan yang melibatkan keterwakilan berbagai suku suku dari Papua Barat Daya dan Mereka datang membawa semangat masing masing daerah untuk belajar, berlatih, dan berkreasi dalam kewirausahaan berbasis budaya dan alam, kata Andre
Andre juga menambahkan bahwa pelatihan ini tidak hanya sebatas teori atau ceramah tetapi langsung berisi praktik pengolahan bahan lokal jadi Selama empat hari ini bukan hanya diskusi, tapi juga praktik langsung dan Misalnya ada pengolahan pangan dari sagu yang akan dipandu langsung oleh kakak Yuyun dari Moi, Sinagi, Papua,” katanya.
Selain itu ada pelatihan membuat kerajinan berbahan dasar identitas Papua seperti mahkota, tapi kita ajar pakai bahan imitasi, supaya tidak mendukung perburuan hewan liar dan Menurut Andre, inisiatif seperti ini penting karena menjadi jalan agar masyarakat adat bisa tetap melestarikan alam dan budaya mereka tanpa harus merusaknya
Lewat kegiatan bisnis ini kita bisa menjaga budaya dan lingkungan bagi Orang Papua harus mampu memproduksi benda benda budaya dan menjadikannya produk bernilai, tanpa kehilangan jati diri adatnya,” tegasnya.
Kegiatan ini, lanjut Andre, juga dihadiri berbagai unsur dari masyarakat dan lembaga dan Yang hadir di sini bukan hanya peserta, tapi juga komunitas masyarakat adat, mahasiswa, LBH, pelaku usaha, hingga pihak dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXIII Papua Barat Daya,” jelasnya. “Mereka ini juga sponsor dan mitra dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, khususnya Direktorat Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat di bawah Ditjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi
Yudah Japsenang dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXIII Papua Barat Daya hadir membuka kegiatan ini ia menegaskan bahwa kegiatan seperti ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mendukung pelestarian budaya melalui pemberdayaan masyarakat adat di tanah Papua dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXIII hadir untuk memastikan bahwa kegiatan seperti ini terus berjalan Karena pelestarian budaya tidak hanya soal menonton tarian atau pameran, tapi juga membangun kapasitas ekonomi masyarakat adatnya kata Yudah
Sementara itu, Welfin Kareth, salah satu peserta, mengungkapkan rasa bangganya bisa terlibat dalam kegiatan ini dan Saya sangat bangga bisa ikut pelatihan ini,” ucap Welfin. “Kegiatan seperti ini harus terus dilakukan supaya anak anak muda di provinsi Papua Barat Daya bisa jadi pelaku usaha yang mandiri, bukan hanya pencari kerja dan Kami mau jadi penggerak ekonomi adat.
Andre penegasan bahwa Pekan Apresiasi Budaya Domberai bukan sekadar seremonial budaya, tetapi langkah nyata menuju kemandirian masyarakat adat melalui ekonomi kreatif dan usaha lokal dan Budaya kita tidak boleh hanya ditonton, tapi harus jadi sumber hidup bagi Orang Papua harus belajar bahwa jadi pengusaha bukan hal asing. Ini cara kita mempertahankan identitas dan kedaulatan ekonomi di tanah sendiri,” pungkasnya
Kegiatan ini diselenggarakan oleh balai pelestarian kebudayaan wilayah XX III bersama DOMBERAI kreator projek Papua Barat daya Rumah Etnik Papua kabupaten Sorong
Besama Melanesian Store, bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, serta Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXIII Papua Barat Daya.(GK)