Peringati 16 Hari Anti Kekerasan IPPM-U Menggelar Dialog Publik Seruan Stop Kekerasan Terhadap Perempuan Papua
Kota Sorong-Melanesiapost. Dalam rangka memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan menggelar Dialog publik yang diinisiasi oleh Ikatan pemuda pelajar dan mahasiswa Uter (IPPM-U) Kota dan kabupaten Sorong provinsi Papua Barat Daya kegiatan ini menyelenggarakan di LBH kaki Abu jln bagau II Malangkedi kota Sorong provinsi Papua Barat Daya, 26/11/2025 Malam.
Diskusi tersebut mereka bertema" Dampak Eksplorasi sumber daya alam terhadap kerentanan kekerasan perempuan Papua"
Ketua panitia Vina Sangkek, menjelaskan 25 November hingga 10 Desember, terdapat banyak momen penting. yang diperingati, Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, 29 November Hari Perempuan Pembela Hak Asasi Manusia atau Women Human Rights Defender (WHRD) Internasional, 1 Desember Hari AIDS Sedunia, 2 Desember Hari Internasional untuk Penghapusan Perbudakan.
"kekerasan terhadap perempuan salah satu bentuk pelanggaran HAM yang sangat mendesak untuk diatasi. Diskusi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan," katanya.
Katanya, Hilangnya akses perempuan terhadap tanah adat dan sumber penghidupan tradisional, Ketergantungan ekonomi meningkat akibat wilayah adat dialihfungsikan untuk industri. Perubahan peran gender dalam keluarga yang memicu konflik domestik. Sengketa tanah antara komunitas adat dan perusahaan sering memicu operasi keamanan, pengamanan proyek. Kata Vina, Situasi keamanan yang tidak stabil membuat perempuan lebih rentan terhadap kekerasan fisik, psikologis, maupun seksual. Perempuan sering menjadi pihak yang mengalami intimidasi ketika protes terkait tanah adat, masalah-masalah ini yang kami lakukan diskusi,"Ujarnya.
Lami Faan, Aktivis perempuan Papua Narasumber diskusi itu menekankan harapannya kedepan ada Solidaritas dan gerakan perempuan untuk membangkitkan perjuangan kolektif di kota Sorong. Karena situasi hari ini semakin meningkat kekerasan terhadap perempuan yang sedang terjadi.
"Kasus kekerasan terhadap perempuan Papua salah satu dampak negatif adalah pengelolaan sumber daya alam, oleh korporasi kapitalisme, investasi ekstraktif, yang masuk, rampasan tanah adat, masuknya perusahaan-perusahaan, ditambah dengan peneroban militer.
Dampak tersebut masyarakat adat khusus perempuan Papua seringkali mengalami kekerasan fisik, psikologi serta hilangnya hak hidup bagi perempuan Papua. begitu banyak daftar jumlah kekerasan terhadap perempuan yang terjadi. Melalui diskusi seperti ini harus terus dilakukan Agar perempuan harus bicara. Terutama perempuan korban itu harus berani bersuara,"Ujarnya Faan.
Pihaknya mengatakan, yang menjadi peran penting untuk Teduh bagi perempuan yaitu, dukungan sesama perempuan, keluarga, dan menegakkan hukum, seharusnya menjadi tempat aman.
Sesi penyampaian materi itu laki menekan kekerasan terhadap perempuan itu harus bercerita, kemudian melaporkan kepada publik agar itu menjadi advokasi untuk memperjuangkan demi mendapatkan keadilan bagi para korban. Jika tidak bersuara maka itu, kekerasan terhadap perempuan tetap menjadi luka bagi perempuan lain bahkan akan mengalami peningkatan,"ajaknya. Untuk melawan.
" ini hanya masalah waktu kalau hari ini mereka korban waktu berikut mungkin kita.
jadi kita seharusnya tidak boleh diam,
tapi harus terus mendukung perempuan korban untuk menyuarakan. mendukung perempuan korban untuk bangkit melawan.
Dalam konteks Papua, Kekerasan terhadap perempuan Hari ini bukan persoalan antara perempuan dan laki-laki. tapi ini semua terjadi karena sistem kolonialisme, kapatalisme Global, mengeruk ekploitasi Sumber daya alam, serta perampasan ruang-ruang hak hidup masyarakat adat. Dampak tersebut perempuan itu terpinggirkan.Kita harus melawan sistem penjajah hari ini diatas tanah adat Papua," katanya.
Ia menekankan, perempuan harus bersatu, kemudian ada gerakan nyata yang harus dilakukan oleh perempuan, Seperti ruang-ruang diskusi dibuka, Aksi, kampanye Anti kekerasan perempuan, seminar peningkatan penyedia SDM Terus ditingkatkan. Agar gerakan persatuan bagi para perempuan itu tampak hidup supaya Terus melawan ketidakadilan," tegasnya.
Kk’Sayang Mandabayan Ketua Presidium Nasional FNMPP, turut memberikan materi itu, mengatakan diskusi publik hari ini merupakan langkah strategis bagi perempuan untuk berbagi cerita, dan pengalaman. Bagaimana kekerasan yang dialami oleh perempuan.
"Penindasan yang secara struktur terjadi untuk kita orang Papua Dan lebih khusus untuk perempuan-perempuan. Jadi ini ruang untuk kita berbagi cerita.
tugas dan tanggungjawab Kita sebagai perempuan Terus bersama-sama melalui organisasi gerakan, solidaritas konsuldasi, sosialisasi, menyuarakan Penderitaan rakyat Papua kita, penderitaan perempuan-perempuan, baik yang ada didalam kota maupun dihutan pengungsian, perempuan yang ada di wilayah-wilayah konflik, ini menjadi tugas kita bersama. Membela hak mereka," kata dalam pemaparannya.
Mandabayang bilang, Perempuan harus menjadi pagar untuk melindungi kehidupan manusia dan alam Papua. Perempuan adalah peran penting dalam segala aspek kehidupan. Perempuan itu simbol warisan sebuah bangsa.
" Perempuan harus menjadi pagar untuk melindungi dia punya keluarga, maka itu kita harus melawan sistem penindasan. Harapan saya ke depannya harus ada ruang-ruang diskusi kritis, bercerita seperti ini.tentang masalah yang terjadi diatas tanah papua, oleh seluruh kawan-kawan perempuan maupun laki-laki," ajakan itu bersama melindungi, untuk menjaga orang Papua yang tersisa ini.
moderator Jenny Sangkek, Diskusi terlihat tampak serius dan suasana hidup dan saling interaksi antara penyampaian materi dan peserta diskusi. ruang-ruang diskusi seperti ini sangat penting untuk membuka wawasan dan merumuskan langkah bersama.
Forum seperti ini memberi kesempatan bagi kami untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga menyuarakan kegelisahan dan pengalaman langsung di lapangan. Rangkaian kegiatan ditutup dengan dokumentasi bersama oleh pemateri dan peserta diskusi yang turut hadir.(EW)