Ribuan Warga Intan Jaya Tuntut Usut Tuntas "Kasus Soanggama Berdarah" yang Tewaskan 11 warga sipil dan 5 TPNPB.
Intan Jaya, - Ribuan warga Intan Jaya yang tergabung dalam Forum Rakyat Bergerak dan Bersuara menggelar aksi demonstrasi damai di Intan Jaya, Papua Tengah, pada Selasa, (28/10/2025). Mereka menuntut agar kasus "Soanggama Berdarah" yang terjadi pada Rabu, (15/10/2025) di Kampung Soanggama, Distrik Hitadipa, segera diusut tuntas.
Peristiwa tersebut menewaskan total 16 orang, terdiri dari 11 warga sipil dan 5 anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).
Tuntutan ini disampaikan melalui siaran pers oleh Tim Lokal Peduli Kemanusiaan Bagi Masyarakat Papua di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.
Menurut keterangan saksi mata yang tidak mau disebutkan namanya, sehari sebelum kejadian, beberapa anggota TPNPB sempat menginap di rumah warga di Kampung Soanggama.
Pada Rabu, (15/10/2025), sekitar pukul 04.00 WP, sejumlah satuan TNI yang terdiri dari Den 1 dan Den 4 Satgas Rajawali II, Yonif 500/S, dan Yonif 712/WT melakukan operasi dan penyisiran di Kampung Soanggama.
Pukul 05.00 WP, pasukan memaksa seluruh masyarakat keluar dari honai dan berkumpul di halaman Gereja Katolik Soanggama. Dalam proses pemeriksaan: Masyarakat yang berpenampilan identik dengan busana khas Papua, seperti bulu kasuari, rambut gimbal/panjang, dan noken kepala, dipisahkan dan dibiarkan di luar gereja.
Masyarakat yang terlihat rapi disuruh masuk ke dalam ruangan gereja. Sekitar pukul 06.00 WP, kelompok yang berada di luar gereja diinterogasi. Menurut saksi, anggota TNI mengeksekusi mati warga yang dicurigai sebagai TPNPB berdasarkan kecocokan foto di telepon genggam mereka. Mereka yang dieksekusi ditembak tidak jauh dari gereja dan dikuburkan secara tidak manusiawi dalam satu galian kubur.
Tragedi lain juga terjadi saat seorang ibu hamil dari kampung sebelah yang hendak berkunjung ke Soanggama, panik dan trauma setelah mendengar rentetan tembakan. Dalam upaya menyelamatkan diri, ibu hamil tersebut hanyut saat menyeberangi kali dan meninggal dunia.
Tim Lokal Peduli Kemanusiaan Intan Jaya menyebutkan bahwa 11 korban sipil termasuk satu ibu hamil yang tewas hanyut, satu warga pengungsi dari Ilaga, dan beberapa warga sipil lain yang sebagian identitasnya belum diketahui karena langsung dikubur pasca-eksekusi. Mereka belum dapat dievakuasi karena warga setempat masih trauma.
1. Kaus Lawiya (TPNPB)
2. Roni Lawiya (TPNPB)
3. Ipe Kogoya (TPNPB)
4. Poli Kogoya (TPNPB)
5. Yanuarius Mirip (Warga Sipil Penggungsi Ilaga)
6. Pisen kogoya (Warga Sipil)
7. Sepi Lawiya (Warga Sipil)
8. Agus Kogoya (Warga Sipil)
9. Impinus Tabuni (Warga Sipil)
10. Agopani Holombau (Mono)
11. Winina Mirip (Ibu Hamil)
12. Sakaria Kogoya (Warga Sipil)
13. Kayus Lawiya (Warga Sipil)
14. (Belum di ketahui identitas)
Dalam pernyataan sikap yang dirilis oleh Forum Rakyat Bergerak dan Bersuara, mereka menyampaikan 10 poin tuntutan, yakni;
1. Segera usut tuntas kasus Soanggama Berdarah.
2. Presiden segera tarik militer non-organik yang beroperasi di Intan Jaya dan seluruh Papua.
3. Segera selenggarakan investigasi independen atas kasus tersebut.
4. Hentikan praktek militerisasi yang di gunakan untuk kepentingan korporasi ekstraktif.
5. Mengecam keras tindakan MRP yang gagal menjalankan fungsi perlindungan masyarakat adat
6. Tolak eksploitasi tambang di wilayah Intan Jaya aya
7. Menyatakan pembunuhan warga sipil di Soanggama sebagai pelanggaran HAM berat yang harus diselesaikan oleh negara dan menuntut agar pelaku segera diadili.
8. Menetapkan 15 Oktober sebagai sebagai kasus soanggama berdarah yang wajib diperingati.
9. Menuntut agar pos militer di seluruh intan jaya segera di tarik, karena keberadaannya dianggap warga ketakutan dan trauma sehingga mengungsi.
10. Meminta agar militer indonesia dan TPNPB sama-sama menghormati prinsip-prinsip kemanusiaan dalam konflik bersenjata dan tidak menjadikan warga sipil sebagai korban.
Latar Belakang Konflik
Aksi massa ini didasari oleh latar belakang konflik berkepanjangan di Intan Jaya sejak pemekaran dari Kabupaten Paniai. Tim Lokal Peduli Kemanusiaan Intan Jaya menyoroti bahwa konflik antara TPNPB/OPM melawan TNI/Polri telah menyebabkan ribuan rakyat Intan Jaya harus mengungsi dan telah berulang kali menghilangkan nyawa warga sipil.
Menurut laporan puluhan LSM di Jakarta tahun 2021, konflik ini memiliki hubungan erat dengan kepentingan tambang emas di Blok B Wabu Intan Jaya.
"Kami melihat bahwa konflik ini telah membunuh masa depan anak-anak usia sekolah, menghilangkan masa depan mereka; konflik ini telah berupaya menghilangkan Masyarakat Moni-Migani dari Intan Jaya; konflik ini telah berupaya merampas hak-hak Masyarakat adat Intan Jaya," tulis Tim Lokal Peduli Kemanusiaan Intan Jaya dalam analisisnya, menegaskan bahwa konflik ini cenderung meningkat sejak 2019 hingga kini.Redaksi