Ubah Sampah Jadi Rupiah, Dinas LH Papua Barat Daya Dorong Petugas TPS Budidaya Maggot

Ubah Sampah Jadi Rupiah, Dinas LH Papua Barat Daya Dorong Petugas TPS Budidaya Maggot

AIMAS, Melanesiapost – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Papua Barat Daya melakukan langkah konkret dalam upaya penanganan sampah berbasis nilai ekonomi. Kepala Dinas LH, Julian Kelly Kambu, mengajak langsung seorang petugas penjaga Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang telah mengabdi selama 8 tahun, Daniel Ruamba, untuk meninjau Rumah Budidaya Maggot di Aimas.

Kunjungan ini bertujuan untuk memberikan edukasi serta membuka peluang ekonomi bagi para penjaga sampah melalui teknologi pengolahan sampah organik.


Kepala Dinas LH Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu, menjelaskan bahwa selama ini Daniel hanya bertugas menjaga sampah tanpa mendapatkan nilai tambah ekonomi. Dengan melihat langsung proses di Rumah Maggot, diharapkan petugas dapat memahami bahwa sampah organik bisa diolah menjadi uang melalui produksi pupuk organik dan pakan ternak berprotein tinggi.

"Hari ini kami coba bawa lihat dulu bahwa dengan olah sampah bisa mendapatkan uang. Bisa kita berternak, bisa dapat pupuk organik yang bisa dijual untuk ibu-ibu PKK atau petani sayur. Ini adalah pupuk terbaik," ujar Julian Kelly Kambu.

Pemerintah berkomitmen untuk memberikan pendampingan serta bantuan sarana prasarana (sapras), seperti motor sampah dan pembangunan rumah maggot skala minimalis, agar Daniel dapat menjadi contoh bagi pemuda Orang Asli Papua (OAP) lainnya.

Daniel Ruamba menyambut baik inisiasi ini. Sebagai anak Papua yang telah menjaga TPS selama delapan tahun tanpa gaji tetap, ia berharap program ini dapat menjadi sumber penghidupan baru bagi dirinya dan rekan-rekan sesama petugas sampah di Kota Sorong.


“Saya senang karena di Papua usaha maggot ini masih jarang. Maggot ini penting untuk pakan itik, bebek, atau ikan,” kata Daniel. Namun ia juga menyampaikan aspirasi terkait kendala operasional, terutama kebutuhan akan kendaraan pengangkut (bentor) untuk mengumpulkan sisa makanan dari berbagai TPS di Kelurahan Klamana.

“Saya sudah mengusulkan bentor sejak 2019, namun hingga 2026 ini belum terealisasi. Saya berharap melalui kegiatan ini, pemerintah bisa membantu pengadaan bentor tersebut,” tambahnya.

Rumah Budidaya Maggot di Aimas kini telah menjadi pusat kolaborasi bersama Dinas LH Papua Barat Daya. Pengelola menyatakan keterbukaannya bagi pelajar, pelajar, hingga masyarakat umum yang ingin melakukan studi tiru.

Lokasi ini bahkan telah menjadi acuan penelitian bagi mahasiswa jenjang S1 hingga S3, mengingat pentingnya inovasi maggot dalam mengurangi volume sampah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.(Red)