Vonis 4 Tapol Papua Digugat: “Ini Bukan Makar, Ini Perjuangan Hak Asasi!”

Vonis 4 Tapol Papua Digugat: “Ini Bukan Makar, Ini Perjuangan Hak Asasi!”

Sorong Aksi solidaritas pro demokrasi se-Sorong Raya kembali menguat. Massa menuntut pembebasan empat tahanan politik (Tapol) Papua Barat di Pengadilan Negeri Makassar dan menegaskan hak penentuan nasib sendiri sebagai solusi final bagi bangsa Papua.

Musel Safkaur membuka orasi dengan menegaskan bahwa Aksi ini kami lakukan karena empat tapol Papua Barat harus dibebaskan tanpa syarat. Negara wajib menghormati hak bangsa Papua untuk menentukan nasib sendiri dan Ia menuding negara sengaja membangun skenario konflik. Saya mau sampaikan, hari ini ada potensi yang sengaja didesain negara untuk membenturkan perjuangan suci kita dengan ormas preman reaksioner bayaran,” katanya.(19/11/2025).

Musel menyebut situasi di Makassar penuh tekanan dan Saat saya bicara ini, ormas dream soner sedang dimobilisasi negara untuk menghadang perjuangan rakyat Papua dan Ia menolak kriminalisasi terhadap empat tapol dan Ini bukan penegakan hukum. Ini kriminalisasi politik, kriminalisasi perlawanan, kriminalisasi suara rakyat Papua tegasnya

5. Menurutnya, persidangan di Makassar bukan proses hukum murni. “Sejak awal, logika politik yang bermain. Tidak ada keadilan di situ dan Musel menambahkan juga bahwa Kita sedang berhadapan dengan negara yang panik, negara yang takut suara rakyat Papua terbuka ke publik.”

 Ia bahkan menyerempet pernyataan pejabat Orde Baru. “Ali Murtopo pernah bilang Indonesia tidak butuh orang Papua. Itu kami ingat sampai hari ini dan Musel menuding negara memakai cara lama dan Ketika negara tertekan, mereka selalu pakai dua alat: militer dan ormas preman reaction,” ungkapnya 

 Ia juga mencontohkan pola orde baru Indonesia lakukan hal yang sama di Timor Leste benturkan rakyat, turunkan militer, dan kriminalisasi perjuangan dan Menurut Musel, pola itu kini dipakai lagi di Papua jadi Di Sorong, militer didatangkan dalam jumlah besar. Itu bukan tanpa alasan. Negara sedang mempersiapkan tekanan yang lebih brutal kepada masyarakat di provinsi papua barat daya 

Ia mengungkapkan kondisi ekonomi nasional sebagai pemicu dan indonesia sedang terhimpit hutang luar negeri Tekanan ekonomi membuat negara semakin represif ke rakyatnya sendiri dan Musel menegaskan kembali bahwa Ketika ekonomi krisis, negara tidak punya pilihan selain menekan rakyat dan mengamankan aset mereka dengan kekerasan

 Ia menilai situasi itu berdampak langsung pada Papua. “Rakyat Papua selalu dijadikan korban pertama dari ketakutan negara dan Ia menyebut bahwa kebangkitan perlawanan rakyat sebagai sesuatu yang tak terhindarkan. “Ketika rakyat ditindas, rakyat melawan. Itu hukum alam dan Musel kembali menegaskan bahwa arah perjuangan ini harus Satu-satunya solusi adalah kemerdekaan. Tidak ada kata lain

Paulus: ‘Kalau Kita Bersatu, Kita Bisa Lepas seperti Timor Leste’

 Paulus mengambil megafon dan menyampaikan bahwa Kalau kita bersatu, kita bisa keluar dari penjajahan ini seperti Timor Leste dan Ia juga mengingatkan sejarah pengkhianatan negara. “Indonesia datang dengan militer besar-besaran. Mereka kategorikan tanah kita sebagai objek ekspansi ekonomi

 Paulus menegaskan identitas orang Papua. “Jangan pikir kita tidak punya apa-apa. Tanah kita subur, sumber daya kita melimpah, tapi kita dibuat seperti orang tidak punya nilai dan Ia mengecam pengerahan aparat. “Militer itu cuma anjing negara. Mereka dipakai untuk menindas rakyat kecil, katanya lantang

Paulus menyoroti peran polisi. “Tugas pokok polisi tertulis jelas di UU. Tapi di Sorong, mereka tidak jalankan. Mereka cuma duduk enak di kantor dan Ia menyampaikan kemarahan kolektif rakyat dan Mulai hari ini, orang Papua harus sadar. Kita tidak bisa terus dibodohi 

Paulus menutup dengan seruan. “Kalau kita mau merdeka, kita harus bersatu, punya keberanian, dan tidak tunduk pada negara yang menindas

Apull Heluka: ‘Jakarta Mau Kuasai SDA dan Manusia Papua’

Apull Heluka naik ke panggung aksi dan menyatakan bahwa Jakarta kasih program, kasih pendidikan, kasih MBK, tapi semua itu untuk menguasai manusia Papua, bukan untuk memerdekakan jadi Ia menegaskan bahwa pendidikan Papua digunakan sebagai alat kontrol dan Kami sudah pintar membedakan mana yang baik, mana yang merugikan rakyat Papua

Apull mengatakan sejarah menjadi fondasi perjuangan. “Sejak 1961, sejak 1945, perjuangan Papua tidak pernah berhenti dan Ia menuding praktik kolonialisme baru dan Negara negara dunia ajari kita bahwa sumber daya alam adalah alasan mereka ingin menguasai tanah Papua.

Heluka menegaskan bahwa Papua punya bahasa, budaya, dan identitas yang tidak bisa dihancurkan. Itu kekuatan kita Ia menyinggung ancaman militer. Dan Militer datang tiap bulan dalam jumlah besar, tapi mereka tidak akan pernah menghapus budaya Papua merdeka perang rakyat Papua

 Apull mengecam keras aparat dan Saya mau bilang ke polisi: kalian kerja dengan hati iblis. Kalian jalankan kekerasan untuk kapitalisme Jakarta dan Ia menegaskan bahwa rakyat Papua tidak akan tunduk sedikit pun dan Mau kalian hancurkan berapa banyak pun, orang Papua tidak akan hilang. Kami tetap berdiri bicara Papua Barat merdeka itu identitas kami harga diri Kami 

Persidangan PN Makassar: Empat Tapol Divonis Makar 

Sidang di Pengadilan Negeri Makassar menjadi klimaks tekanan negara kepada rakyat Papua dan Dalam putusan Nomor 967 dan 968, majelis hakim menyatakan Abraham Goram Gaman dan Piter Robaha terbukti melakukan makar.

Dalam perkara Nomor 969 dan 970, hakim juga menjatuhkan vonis tujuh bulan penjara kepada Nikson May dan Maksi Sangkek dan Majelis hakim menegaskan seluruh masa tahanan sementara dipotong dari vonis final.

 Keempat terdakwa menerima putusan tersebut di ruang sidang dan Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Sorong juga menyatakan menerima putusan dan Dengan demikian, vonis empat tapol tersebut sudah berkekuatan hukum tetap

 Para aktivis menilai putusan itu bagian dari kriminalisasi politik terhadap gerakan penentuan nasib sendiri Massa aksi Sorong Raya menyerukan pembebasan tanpa syarat karena menganggap putusan ini cacat moral dan cacat keadilan dan Aksi ditutup dengan seruan kolektif: “Bangsa Papua tidak akan diam. Perlawanan tidak akan berhenti sampai bangsa Papua merdeka menjadi kenyataan.


“Aksi ini dimulai dengan longmarch tepat pukul 07.00 WIT dari depan Ramaya Mall Kota Sorong,” ujar Jener naa koordinator lapangan dan Ribuan massa bergerak dengan satu tuntutan bebaskan empat tapol Papua Barat tanpa syarat dan hentikan kriminalisasi terhadap bangsa Papua.”

Ia juga menjelaskan bahwa longmarch berlangsung hampir tiga jam menuju Kantor Pengadilan Negeri Sorong. “Kami tiba di PN Sorong sekitar pukul 10.00, dan aksi langsung dilanjutkan dengan orasi menolak vonis makar yang dijatuhkan kepada empat tapol NFRPB di Makassar,” tegasnya.

Menurutnya, massa kemudian melanjutkan aksi ke Jalan Baru, kompleks kantor pengadilan negeri kota Sorong dan kantor kejaksaan agung kota Sorong sebagai titik konsentrasi terakhir. “Di sana kami bertahan sampai pukul 15.00 WIT. Semua berjalan tertib dan terorganisir 

Koordinator lapangan menegaskan bahwa seluruh rangkaian aksi berada dalam pengawalan ketat aparat. “Massa dijaga ketat oleh anggota kepolisian Kota Sorong. Dua unit mobil Hilux mengawal dari awal sampai akhir, ujarnya