Yulianus Sagisolo S.T Tegaskan Rakerda I LMA NASAWAT Harus Jadi Tonggak Pembalikan Hak Adat di Wilayah Sawiat Raya
Teminabuan melanesiapost.com Rapat Kerja Daerah (Rakerda) ke-1 LMA NASAWAT resmi digelar dan menjadi momentum penting bagi masyarakat adat Nasawat di wilayah Sawiat Raya. Penggagas berdirinya lembaga ini, Yulianus Sagisolo, S.T, ia menyampaikan pernyataan keras dan blak blakan mengenai arah perjuangan hak ulayat masyarakat adat yang selama ini terpinggirkan.
Jadi Rakerda ke-1 ini bukan acara biasa. Ini sejarah baru untuk masyarakat adat Nasawat. Kita tidak boleh main main dan Kita sedang bicara tanah, hutan, dan masa depan generasi Sawiat Raya,” tegas Sagisolo saat diwawancarai.(14/11/2025).
Ia juga menegaskan bahwa seluruh elemen adat dan intelektual Nasawat harus memanfaatkan Rakerda ini sebagai ruang melahirkan konsep perjuangan yang tegas. “Ingat, ini Rakerda pertama. Dari sinilah arah perjuangan kita ditentukan, ujarnya
Sagisolo juga menyampaikan apresiasi kepada para tokoh yang hadir dan Saya berterima kasih karena semua intelektual Nasawat sudah hadir. Ada Wakil Bupati Maybrat, Ibu Bupati Sorong Selatan, dan Ketua DPR provinsi yang datang dari Sorong. Ini menunjukkan bahwa persoalan adat Nasawat adalah persoalan besar, katanya
Namun ia menegaskan bahwa kehadiran pejabat bukan untuk seremonial belaka. “Jangan datang hanya untuk foto. Saya mau di Rakerda ini lahir kebijakan yang berpihak pada masyarakat adat Nasawat, kata Sagisolo
Ia juga menyoroti wilayah adat Nasawat yang sangat luas. “Kita bicara wilayah dari Sodrofoyo sampai Ayamaru Kota. Itu semua wilayah adat Nasawat. Jadi gagasan yang lahir hari ini harus meng-cover keseluruhan Sawiay Raya,” ujarnya.
Dalam pernyataan kerasnya, ia menyinggung status tanah adat Nasawat yang masuk dalam kawasan hutan lindung dan Ini negara sedang tipu kita jadi Tanah adat kita dimasukkan dalam hutan lindung tanpa bicara dengan pemilik hak ulayat,” tegasnya.
Sagisolo mengatakan masyarakat adat selama ini diminta menjaga hutan, sementara negara mengklaim kepemilikan. “Ini lucu. Kita jaga hutan, kita rawat, kita hidup di situ. Tiba tiba negara bilang itu milik pemerintah. Itu salah besar dan Ia menegaskan bahwa salah satu keputusan penting Rakerda haruslah desakan resmi kepada pemerintah. “Rakerda ini harus hasilkan komitmen tegas: kembalikan hutan adat kepada masyarakat adat Nasawat, katanya.
Sagisolo memperingatkan bahwa tanpa kerja serius, generasi Nasawat akan kehilangan seluruh identitas wilayahnya dan Kalau kita diam, hutan hutan ini akan diambil lagi. Anak cucu kita hanya akan dengar cerita bahwa dulu mereka punya tanah luas dan Ia meminta seluruh peserta tidak terjebak dalam gagasan kosong dan Saya tidak mau kita bicara banyak tapi tidak ada hasil. Rakerda ini harus melahirkan rumusan yang konkret dan mengikat,” jelasnya.
Sagisolo mengingatkan bahwa kebijakan negara sering kali tidak melindungi masyarakat adat dan Selama ini kebijakan lahir di atas meja rapat pemerintah, bukan di tanah adat Nasawat. Itu yang harus kita ubah dan Ia menyebutkan bahwa perjuangan pengembalian hutan adat bukan sekadar formalitas. “Ini soal hidup. Soal identitas. Tanpa tanah adat, masyarakat Nasawat itu hilang dari peta,” ujarnya.
Sagisolo meminta seluruh tokoh adat dan intelektual harus bersatu. “Jangan ada dua suara. Jangan ada yang kerja sendiri-sendiri. Musuh kita adalah ketidakadilan, bukan sesama Nasawat dan Ia menyampaikan bahwa Rakerda ini harus merumuskan langkah hukum, advokasi, dan negosiasi yang kuat. “Kalau perlu kita bawa persoalan ini sampai Jakarta. Jangan takut. Kita punya hak,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa LMA NASAWAT bukan lembaga simbolik, melainkan alat perjuangan. “Saya ulangi: LMA bukan pajangan. Ini alat untuk melawan ketidakadilan terhadap tanah Sawiat Raya, dan Ia juga menekankan agar Rakerda tidak dibelokkan oleh kepentingan politik. “Jangan ada yang datang bawa agenda partai. Ini rumah adat, bukan panggung politik,” kata Sagisolo.
Dalam kesempatan itu, ia meminta agar semua marga, tokoh perempuan, dan anak muda diberi ruang. “Sawiat Raya tidak bisa dibangun hanya oleh orang tua. Anak muda harus ikut bicara di sini dan Sagisolo juga meminta agar Rakerda menghasilkan rekomendasi pendataan tanah adat. “Data tanah itu penting. Kita harus punya peta ulayat yang jelas agar tidak ada pihak luar asal klaim, katanya.
Ia mengajak peserta untuk berpikir jauh ke depan. “Jangan hanya bicara hari ini. Kita bicara 20–50 tahun ke depan. Apa masa depan tanah Nasawat kalau kita tidak bertindak sekarang?” dan Di akhir wawancara, Sagisolo menyampaikan pesan tegas. “Saya minta Rakerda I ini wajib melahirkan komitmen yang benar benar berpihak pada masyarakat adat Nasawat. Kalau tidak, lebih baik kita pulang saja. Tanah ini butuh keputusan besar hari ini, tutupnya.(EW)